Ketika Diplomasi Budaya Tumbuh dari Pengalaman

Icha Nur Octavianissa
Icha Nur Octavianissa
Saya adalah mahasiswa aktif yang terlibat dalam riset Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari tim dosen, dengan fokus pada publikasi jurnal ilmiah di Sinta dan SCOPUS sebagai luaran penelitian. Dengan kemampuan berpikir kritis dan komitmen terhadap informasi akurat berbasis data, saya berupaya memberikan kontribusi nyata melalui penelitian yang relevan dan berdampak.
- Advertisement -

“Diplomasi budaya tidak selalu lahir dari ruang konferensi. Kadang, ia tumbuh dari semangkuk nasi timbel, permainan masa kecil, atau tawa yang pecah di sebuah jalan tua.”

Ada satu keyakinan yang selalu saya percaya: pengalaman adalah guru yang tidak pernah mengajar lewat ceramah. Ia mengajarkan manusia melalui perjumpaan, percakapan, dan pengalaman yang dialami bersama. Keyakinan itulah yang saya rasakan ketika mendampingi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam rangkaian Summer Program Narasi Nusantara 2026. Kami sengaja keluar dari ruang kelas dan membiarkan Bandung menjadi guru.

Ternyata, kota ini bukan hanya menyimpan bangunan, jalan, atau tempat wisata. Ia juga menyimpan cerita, nilai, dan cara hidup yang hanya dapat dipahami ketika seseorang bersedia berjalan di dalamnya.

Perjalanan kami dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: berbelanja. Kawan-kawan UPM kami ajak mengunjungi Eiger dan Exsport, dua merek yang telah menjadi bagian dari identitas Bandung. Di sela-sela memilih buah tangan, percakapan mengalir tanpa dibuat-buat. Kami membicarakan harga, kualitas produk, selera anak muda, hingga kebiasaan berbelanja di Indonesia dan Malaysia. Obrolan ringan itu perlahan menghapus jarak. Kami menyadari bahwa kehidupan anak muda di dua negara serumpun ternyata tidaklah sejauh yang dibayangkan.

Menjelang siang, rasa lapar membawa kami ke Dumuk Bareto. Rumah makan bernuansa Sunda itu menawarkan lebih dari sekadar hidangan khas. Di sana, teman-teman UPM menyaksikan bagaimana masakan dimasak menggunakan hawu, tungku tradisional berbahan bakar kayu yang kini semakin jarang ditemukan.

Mereka memperhatikan proses itu dengan penuh rasa ingin tahu. Di balik kepulan asap dari hawu, tersimpan sebuah pelajaran sederhana: modernitas tidak selalu harus menghapus tradisi. Justru dalam kesederhanaan itulah sebuah masyarakat menjaga ingatan dan identitas budayanya.

Gambar 2. Dokumentasi Pribadi | Pertunjukan Budaya di Saung Angklung Udjo
http://Gambar%202.%20Dokumentasi%20Pribadi%20|%20Pertunjukan%20Budaya%20di%20Saung%20Angklung%20Udjo

Pengalaman yang paling membekas terjadi di Saung Angklung Udjo. Wayang golek, angklung, dan tari tradisional bukan hanya dipertontonkan sebagai warisan budaya, tetapi dihadirkan sebagai pengalaman yang mengajak semua orang untuk terlibat.

Di akhir pertunjukan, beberapa mahasiswa UPI dan UPM diajak naik ke panggung. Kami bernyanyi, menari, memainkan angklung, lalu larut dalam permainan tradisional seperti cingciripit dan oray-orayan. Tiba-tiba kami bukan lagi penonton, melainkan bagian dari cerita yang sedang dipentaskan.

Barangkali, budaya memang tidak cukup dipahami melalui penjelasan. Ia harus dialami. Ketika tubuh ikut bergerak, tangan saling menggenggam, dan tawa terdengar tanpa mengenal bahasa, budaya menemukan maknanya yang paling hidup.

Malam hari kami menyusuri Braga. Jalan tua itu selalu memiliki cara untuk membuat orang betah berjalan lebih lambat. Bangunan-bangunan kolonial, lampu-lampu jalan, musik yang terdengar dari sudut-sudut kafe, semuanya menghadirkan suasana yang akrab sekaligus romantis.

- Advertisement -

Di tengah perjalanan, muncul ide spontan yang sedikit di luar rencana: mengunjungi rumah hantu. Setelah keluar dengan wajah antara lega dan tertawa, percakapan pun beralih ke cerita-cerita mistis. Menurut teman-teman UPM, hantu di Malaysia terasa lebih menyeramkan dibandingkan dengan hantu di Indonesia. Entah itu fakta atau sekadar bumbu candaan, yang jelas, tawa kami pecah sepanjang malam. Saat itulah saya menyadari bahwa bahkan rasa takut pun dapat menjadi bahasa persahabatan.

 

Hari berikutnya kami menuju Cikole. Udara pegunungan yang sejuk menjadi pengalaman baru bagi sebagian mahasiswa UPM yang terbiasa dengan iklim berbeda. Di sana, kami memainkan berbagai permainan tradisional secara berkelompok, mulai dari boy-boyan hingga estafet sarung. Tidak ada kompetisi yang terlalu serius. Yang terdengar hanyalah sorak-sorai, gelak tawa, dan semangat untuk saling menyemangati.

Permainan-permainan sederhana itu ternyata mengajarkan sesuatu yang sering kali terlupakan. Kerja sama tidak selalu dibangun melalui rapat atau diskusi panjang. Kadang, ia lahir ketika orang-orang bermain, tertawa, dan saling percaya.

Sepanjang perjalanan itu, saya semakin yakin bahwa diplomasi budaya bukan hanya berlangsung dalam forum resmi, pidato kenegaraan, atau perjanjian kerja sama antaruniversitas. Diplomasi budaya justru tumbuh dalam ruang-ruang yang paling manusiawi: ketika orang makan bersama, bermain permainan masa kecil, saling bertukar cerita, atau bahkan saling menggoda tentang hantu dari negeri masing-masing.

Pengalaman-pengalaman sederhana itulah yang menghadirkan rasa saling memahami. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai batas, melainkan sebagai ruang untuk saling mengenal.

Bandung mengajarkan kami bahwa sebuah kota dapat menjadi ruang belajar yang jauh lebih hidup daripada ruang kuliah. Di kota ini, budaya tidak sekadar dipamerkan, tetapi dijalani. Persahabatan tidak dibangun melalui formalitas, melainkan melalui pengalaman yang dibagikan bersama.

Pada akhirnya, saya pulang membawa satu kesadaran: diplomasi budaya tidak selalu dimulai dari kebijakan, tetapi dari perjumpaan antarmanusia. Dari secangkir kopi, semangkuk nasi timbel, alunan angklung, permainan tradisional, hingga tawa yang pecah di Braga, semuanya menyatukan kami dalam kesadaran yang sama, bahwa Indonesia dan Malaysia bukan sekadar negara bertetangga, melainkan dua bangsa yang berbagi banyak cerita, nilai, dan akar kebudayaan.

Mungkin benar. Bandung tidak sedang mengajari kami apa pun. Namun, kota ini telah membuat kami belajar banyak tentang arti kebersamaan. Dan dari sanalah saya memahami bahwa diplomasi budaya yang paling kuat bukanlah yang lahir dari podium, melainkan yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari.

Icha Nur Octavianissa
Icha Nur Octavianissa
Saya adalah mahasiswa aktif yang terlibat dalam riset Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari tim dosen, dengan fokus pada publikasi jurnal ilmiah di Sinta dan SCOPUS sebagai luaran penelitian. Dengan kemampuan berpikir kritis dan komitmen terhadap informasi akurat berbasis data, saya berupaya memberikan kontribusi nyata melalui penelitian yang relevan dan berdampak.
Facebook Comment
- Advertisement -