Jumat, Juni 18, 2021

Timnas Down, Siapa yang Harus Out?

Perempuan dan Kapal Hukum Tanpa Pelayaran

Perempuan seringkali dianggap lemah, tidak berdaya, penurut dan mudah dimonopoli. Sejauh apapun waktu berlalu dan kebudayaan semakin berkembang, mindset dasar yang menganggap bahwa sejatinya perempuan...

Secercah Harapan Petani Garam Rawaurip

Ditengah hiruk pikuk persiapan pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali pada bulan Oktober nanti, petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon tengah berupaya...

PJJ dan Ketimpangan Akses Pendidikan

Terhitung semenjak Maret 2020, Indonesia tengah mengalami wabah virus Corona/Covid -19. Akibatnya, hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat Indonesia mengalami disrupsi. Semua pola interaksi normal...

Merefleksikan Inovasi Politik

Urgensi inovasi begitu tinggi, sayangnya tidak semua bentuk-bentuk institusi yang dekat dengan publik cukup sadar dengan ketatnya dunia saat ini. Eksekutif dan Legislatif sering...
Bintang Risqi
saya siswa SMAN 9 BANDAR LAMPUNG yang baru lulus tahun ini. Bisa dibilang angkatan 'corona' karena setengah dari masa SMA saya dihabiskan untuk menghindari virus tersebut alias belajar dalam jaringan. Saya seorang penggemar sepakbola. have a nice day all!

Dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Timnas Indonesia sudah dipastikan gagal total di fase-grup dan menjadi juru kunci dengan mengoleksi 0 poin alias tidak pernah menang. Dengan kekalahan menyakitkan dari rival serumpun yaitu Malaysia, disusul dengan kekalahan atas Thailand, UEA, dan Vietnam. Tidak heran Timnas kita menjadi lumbung gol keempat  tim tersebut.

Berkaca dari kejadian tersebut, tentu munculah sebuah pertanyaan besar di masyarakat kita, khususnya pecinta sepakbola tanah air. Dari 270juta penduduk di negeri ini, kenapa sangat sulit untuk menghasilkan 11 pemain bertalenta kelas dunia? Sedangkan negara-negara di benua eropa yang mempunyai penduduk jauh lebih sedikit dari kita bisa menciptakan suatu timnas yang hebat di mata dunia?.

Mari kita bersama menganalisis pertanyaan tersebut. Sebenarnya  Indonesia sama sekali tidak kekurangan pemain bertalenta, itulah sebabnya kita sering disebut sebagai Brasil-nya Asia. Lalu apa bedanya kita dengan brasil yang pernah juara dunia? Terletak dari mindset dan mental pemain kita. Pemain Brasil dan khususnya benua Amerika Latin mempunyai mindset dan motivasi yang tinggi untuk bermain diluar negeri.

Selain karena gaji yang diperoleh diluar negeri lebih tinggi, pemain akan mendapatkan berbagai pengalaman yang berharga jika diterapkan di timnas. Bisa kita lihat hasilnya banyak talenta-talenta Brasil yang bermain di liga Top Eropa. Dengan begitu persaingan untuk masuk Tim Nasional tentulah sangat ketat. Hal itu yang menjadikan Timnas itu menjadi lebih kuat dan tentu sudah siap untuk bersaing di kompetisi sebesar Piala Dunia dengan memakai full skuad yang tampil diluar negeri.

Berbeda dengan kebanyakan pemain kita yang zona nyaman main diliga dalam negeri. Beberapa faktor yang berpengaruh adalah mimdset pemainmuda kita kebanyakan hanya sampai ingin membela klub kebanggaan kotanya atau klub top tanah air. Padahaln pemain tersebut mampu untuk bermain di liga luar yang lebih baik dari liga Indonesia setelah itu ia bisa pulang untuk menjadi kebanggan dan legenda klub kebanggan kotanya di tanah air.

Faktor selanjutnya adalah tidak adanya fasilitas yang mumpuni di level klub seperti training ground sendiri, tidak adanya akademi berjenjang di level klub dan kurangnya perhatian federasi di negeri ini untuk sepakbola kita. Jika 3 poin ini bisa dipenuhi, tidak ada alasan lagi buat Timnas kita berprestasi di level Asia maupun dunia.

Jika punya fasilitas mumpuni tentu pemain pun mudah untuk mengasah skill di lapangan bertaraf internasional dan otot di gym yang lengkap. Lalu jika akademi yabg dibangun setiap klub itu bisa mengasah talenta-talenta muda untuk dilirik klub luar dan klub akan mendapatkan keuntungan jika pemain jebolan akademinya dilirik klub luar negeri. Dan terakhir, federasi sepakbola kita yang peduli tentang kemajuan sepakbola negeri ini adalah poin penting karena setiap keputusan dan program tergantung oleh federasi.

Menjawab pertanyaan dijudul, siapa yang harus out? Adalah orang federasi yang mencampuri sepakbola kita dengan politik dan tidak peduli dengan sepakbola kita. Supporter harus tegas menolak kepentingan politik yang nebeng di sepakbola kita untuk sekedar cari panggung, sudah saatnya menghadirkan perubahan untuk sepakbola negeri tercinta ini karena dibelakang timnas selalu ada harapan dan doa orang-orang yang ingin melihat Indonesia disegani dimata dunia.

Faktor lainnya adalah gaji yang besar sangat besar di klub dalam negeri membuat pemain zona nyaman. Padahal pemain tersebut belum bisa mempersembahkan suatu prestasi di level Timnas. Miris bukan? Uang yang sangat banyak tersebut akan sangat bermanfaat jangka panjang bagi klub jika membangun training ground dan akademi berjenjang kelas internasional.

Semoga semakin banyak investor ternama yang masuk di ranah sepakbola demi kemajuan sepakbola kita, klub dan supporter harus bersinergi membangun dari bawah, barulah bisa tercipta timnas yang brilian.

Kritik bukan membenci, tetapi peduli terhadap perkembangan sepakbola kita. Apresiasi secukupnya sampai timnas kita lolos piala dunia. Karena pada dasarnya pujian adalah racun yang sebenarnya. Terbukti selama ini ketika pemain yang bermain bagus di kelompok umur U-16,U-19, dan U-23 tetapi ketika di senior malah melempem. Ini juga disebabkan karena saat di kelompok umur kebanyakan masyarakat kita terlalu overproud dan itu bisa menjadi boomerang buat pemain itu sendiri karena star syndrom.

Contoh saja saat timnas generasi Evan dimas, dkk yang mampu menaklukan tim besar asia yaitu Korea Selatan di Gelora Bung Karno saat itu berhasil bermain bagus dengan skor akhir 3-2 untuk kemenangan iIndonesia. Setelah momen itu kebanyakan masyarakat kita cepat puas dan overproud, akibatnya pemain star syndrom dan zona nyaman. Striker timnas Korea Selatan pada saat itu, Hwang Hee Chan kini sudah bermain bersama FC Salzburg di liga jerman. Sedangkan kapten timnas saat itu yang juga mencetak hattrick sampai saat ini masih bermain di liga dalam negeri.

Siapapun anda yang sedang membaca ini, mari jadi supporter yang cerdas dan kritis demi kemajuan Timnas kita. Hilangkan mindset instan dan harus tetap percaya proses dengan pelatih timnas saat ini. Kritik apa yang perlu dikritik, apresiasi jika sudah membawa prestasi. Toh, kita juga tidak pernah membiarkan timnas kita sendirian. Ayo Garuda!

Bintang Risqi
saya siswa SMAN 9 BANDAR LAMPUNG yang baru lulus tahun ini. Bisa dibilang angkatan 'corona' karena setengah dari masa SMA saya dihabiskan untuk menghindari virus tersebut alias belajar dalam jaringan. Saya seorang penggemar sepakbola. have a nice day all!
Berita sebelumnyaTak Masalah Perempuan Minum Kopi
Berita berikutnyaBali dan Pandemi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

Eksploitasi Pasar Menggunakan Tubuh Perempuan

Jika Anda terlahirkan sebagai seorang perempuan maka Anda harus bersiap menerima kenyataan sebagai warga kelas dua yang ditakdirkan berada dibawah dominasi maskulinitas laki-laki. Dan...

Dirut BPJS Kesehatan: Agar JKN-KIS Sustain, Kendali Mutu Kendali Biaya Jadi Prioritas Utama

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta JKN-KIS sekaligus menguatkan perannya sebagai strategic purchaser, BPJS Kesehatan mengajak mitra fasilitas kesehatan, tenaga medis, pemerintah daerah,...

Melirik Lebih dalam Terkait Kontroversi “BTS Meal”

Baru-baru ini Indonesia digemparkan oleh salah satu menu makanan dari perusahaan makanan ternama yaitu McDonald's. Dimana McDonald's melakukan kolaborasi dengan boyband yang sangat populer...

Meninjau Wacana Menghidupkan Kembali Pasal Penghinaan Presiden

Kementerian Hukum dan HAM sampai saat ini terus mensosialisasikan draf Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Seperti yang diketahui, pengesahan RKUHP sempat ditunda oleh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.