Coba buka media sosial teman satu angkatan. Isinya biasanya foto selesai sidang, unggahan juara lomba, jadwal organisasi yang padat, atau segelas kopi di kafe sambil mengerjakan tugas. Hampir tidak ada yang mengunggah malam ketika ia menangis karena nilainya jelek, atau hari ketika ia tidak sanggup bangun dari kasur. Lama-kelamaan muncul anggapan yang tidak pernah ditulis di mana pun, bahwa mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang selalu kuat, produktif, dan tidak pernah mengeluh. Tuntutan untuk selalu baik-baik saja inilah yang menurut penulis menjadi persoalan kesehatan mental yang cukup serius di kalangan mahasiswa saat ini.
Masa kuliah sebenarnya sudah penuh tekanan, mulai dari tugas, ujian, uang saku yang pas-pasan, harapan keluarga, sampai kekhawatiran soal pekerjaan nanti. Rahmayani dan Surawan (2025) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital mengubah pola hidup dan cara belajar. Di balik manfaatnya, ada dampak negatif seperti kecanduan gawai, tekanan sosial dari media digital, cyberbullying, dan gangguan kesehatan mental. Bagi mahasiswa, tekanan dari layar ponsel ini datang bersamaan dengan tekanan akademik yang memang sudah ada.
Persoalannya, media sosial membuat orang terbiasa menampilkan versi terbaik dari dirinya. Memilih foto yang bagus atau membagikan pencapaian tentu tidak salah. Tetapi ketika hampir semua orang melakukan hal yang sama, yang terlihat di layar hanyalah sisi yang rapi. Mahasiswa yang sedang kesulitan akhirnya merasa hanya dirinya yang tidak sanggup, padahal bisa jadi teman-temannya mengalami hal serupa dan sama-sama memilih diam. Pada akhirnya banyak yang tetap tersenyum di depan kamera, sementara kondisi sebenarnya tidak diceritakan kepada siapa pun.
Tuntutan itu tidak hanya datang dari media sosial. Kalimat seperti “gitu aja capek”, “temanmu saja bisa”, atau “kamu kan sudah mahasiswa, harus kuat” sering dianggap wajar. Mahasiswa dianggap sudah dewasa sehingga diharapkan mampu mengurus dirinya sendiri. Padahal mandiri tidak sama dengan harus menanggung semuanya sendirian. Ucapan semacam ini membuat orang enggan bercerita karena takut dicap lemah atau manja.
Perasaan yang terus dipendam lama-lama menumpuk. Hartati dan Arisandi (2025) membahas psychological well-being pada mahasiswa Generasi Z, yang mencakup penerimaan diri, hubungan sosial yang positif, kemandirian, kemampuan mengelola lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Mahasiswa yang terus berpura-pura baik-baik saja akan sulit menerima dirinya apa adanya dan sulit membangun hubungan yang jujur dengan orang lain. Rahmayani dan Surawan (2025) juga menyebutkan bahwa paparan digital yang tidak terkendali dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, dan perilaku adiktif. Jadi, tekanan untuk selalu tampak baik-baik saja bukan hal sepele.
Perlu dibedakan antara capek biasa dan tanda bahwa seseorang membutuhkan bantuan. Merasa sedih, cemas, atau lelah itu wajar dan dialami hampir semua orang. Namun, jika seseorang terus-menerus sulit tidur, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, sulit berkonsentrasi, mudah marah, merasa putus asa, menjauh dari teman, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, kondisi itu tidak boleh diabaikan. Pergi ke psikolog, konselor kampus, atau tenaga kesehatan mental bukan tanda kelemahan. Itu cara seseorang menjaga dirinya sendiri.
Ada beberapa hal kecil yang bisa dilakukan mahasiswa. Pertama, mengakui perasaan sendiri tanpa menyalahkan diri. Kedua, menceritakannya kepada satu orang yang dipercaya, entah teman, keluarga, atau dosen wali. Ketiga, mengatur cara memakai media sosial, misalnya mengurangi notifikasi atau berhenti mengikuti akun yang membuat diri merasa tertekan. Mahasiswa juga perlu mengingat bahwa unggahan orang lain adalah hasil pilihan, bukan gambaran utuh hidupnya. Kalau ada yang berani menunjukkan sisi yang tidak sempurna, biasanya orang lain jadi lebih berani jujur juga.
Kampus juga punya peran. Layanan konseling perlu mudah dijangkau dan tidak membuat mahasiswa merasa malu saat mendatanginya. Seminar kesehatan mental, edukasi mengelola stres, dan pelatihan literasi digital dapat membantu mahasiswa memahami kondisinya. Dosen dapat ikut membantu dengan berkomunikasi secara jelas dan menciptakan suasana kelas yang nyaman, serta menyadari bahwa kemampuan dan keadaan tiap mahasiswa berbeda. Dwijayanti dkk. (2025) menunjukkan bahwa edukasi literasi kesehatan mental berbasis digital, termasuk pengenalan platform deteksi dini pada Generasi Z, dapat menjadi sarana yang membantu. Artinya, teknologi tidak selalu menjadi sumber masalah. Media sosial juga bisa dipakai untuk menyebarkan informasi yang benar dan mengurangi stigma terhadap orang yang mencari bantuan.
Jadi, menjadi mahasiswa tanpa terjebak tuntutan untuk selalu baik-baik saja berarti berani mengakui bahwa dirinya juga bisa lelah, gagal, dan butuh bantuan. Mahasiswa tidak wajib selalu terlihat berhasil di mata orang lain. Dengan lebih jujur pada diri sendiri, saling mendukung dengan teman, dan berani meminta pertolongan saat dibutuhkan, mahasiswa tetap bisa menjalani era digital tanpa kehilangan dirinya.
