OUR NETWORK
Rabu, Desember 8, 2021

Story Telling dan Persepsi terhadap Pandemi

Ita Fajria Tamim
Ita Fajria Tamim, dokter dengan hobi menulis

Beberapa waktu yang lalu, saya dan adik ipar terlibat sebuah diskusi panjang. Topik bahasannya, apalagi kalau bukan seputar pandemi Covid. Berawal dari fenomena di sekitar kami, dimana di tengah rentetan kabar duka yang terdengar beruntun setiap hari, ada beberapa orang yang dengan gencarnya mengklarifikasi bahwa sanak saudaranya yang meninggal bukanlah karena Covid.

Di sini saya tidak ingin menggali lebih dalam tentang apa sebenarnya penyebab meninggalnya almarhum/ah. Namun, yang menarik adalah riset sederhana kami menunjukkan kemungkinan penyebab latar belakang fenomena ini. Beberapa orang mengakui bahwa mereka takut jika tidak ada orang melayat dan melakukan doa bersama terhadap sanak saudaranya yang meninggal.

Saat digali lebih dalam lagi, ternyata ada persepsi di masyarakat bahwa banyaknya jumlah pelayat yang datang untuk berdoa dianggap berbanding lurus dengan besarnya kebaikan yang dilakukan almarhum/ah semasa hidupnya.

Hal ini menjadi masalah ketika ternyata pasien yang meninggal terkonfirmasi positif dalam pemeriksaan swab, baik antigen maupun PCR. Seperti cerita dari teman sejawat saya yang bertugas di RSUD kabupaten. Sejawat dokter ini bercerita bahwa para keluarga pasien saat ini lebih mudah untuk dipersuasi melakukan swab antigen, jika dibandingkan dengan sikap mereka di awal pandemi. Namun, ketika berkaitan dengan protokol yang harus diterapkan pada jenazah terkonfirmasi Covid, keluarga pasien menolak mentah-mentah. Keluarga pasien bersikeras memulasar dan memakamkan jenazah dengan cara biasa.

***

Pikiran saya kemudian melayang ke beberapa tahun lalu. Saat di mana sinetron tentang hidayah bertebaran hampir setiap hari di stasiun TV. Sinetron itu punya tipikal cerita yang sama. Ada orang jahat mendzolimi orang baik semasa hidupnya. Kemudian si jahat meninggal dan ditimpa azab saat pemakaman. Bisa bermacam-macam, mulai dari munculnya belatung di tubuh, kuburan yang ambruk, hingga bau tidak sedap yang muncul saat hendak dimakamkan. Intinya, setiap keburukan yang dilakukan semasa hidup ditunjukkan langsung di depan mata saat jenazah dimakamkan.

Dari sini saya menduga, bisa jadi persepsi masyarakat tentang prosesi pemakaman jenazah pasien Covid ini dipengaruhi oleh persepsi yang turut dibentuk oleh sinetron itu. Bahwa keadaan saat pemakaman adalah akumulasi kebaikan atau keburukan yang dilakukan semasa hidup. Bagaimanapun, sinetron hidayah ini booming selama bertahun-tahun di jamannya. Dinikmati semua kalangan, meme-meme nya viral di media sosial saat itu dan bahkan masih muncul hingga kini.

Paul J. Zak, seorang profesor di bidang neuroeconomics menyampaikan dalam penelitiannya bahwa story telling yang memikat ternyata mempengaruhi biokimia otak kita. Otak akan mengeluarkan hormon kortisol dan oksitosin dalam waktu bersamaan. Kortisol akan semakin meningkatkan fokus kita pada cerita, dan oksitosin membuat perasaan kita merasakan empati mendalam pada tokoh cerita. Kedua hormon ini kemudian bahkan akan membuat kita melakukan tindakan nyata sebagai respon dari cerita yang kita dengar dan tonton.

Masalahnya, otak kita ternyata tidak mampu membedakan mana cerita yang nyata dan mana yang tidak. Anil Seth, seorang profesor neurosains dari University of Sussex mengatakan bahwa otak kita merespon persepsi dan halusinasi dengan cara yang hampir sama.

Keduanya diolah dan diinterpretasikan di dalam otak berdasarkan stimulus sensori yang diterima oleh indera kita, tanpa membedakan apakah stimulus tersebut riil atau hanya halusinasi. Sehingga persepsi tentang apapun, baik nyata atau halusinasi, asalkan dikemas dengan story telling yang memikat, dilakukan berulang-ulang dan dalam jangka panjang, akan direspon otak kita sebagai kebenaran.

Contoh lain misalnya ketika beberapa waktu yang lalu jagad media sosial diramaikan oleh sebuah meme berupa sosok seorang laki-laki tua yang digambarkan sebagai nasabah prioritas di BCA. Laki-laki tua tadi memakai kaos singlet putih, celana pendek kumal dan sandal jepit. Yang menjadikan meme tadi viral sepertinya karena  kontradiksi antara penampilan bapak tua tersebut dengan statusnya sebagai nasabah prioritas di bank swasta terbesar di Indonesia itu

Publik sudah terbiasa dengan story telling yang dibangun oleh para artis dan selebgram bahwa orang kaya lekat dengan kemewahan dan barang-barang branded. Story ini di-propaganda-kan di channel youtube dan akun instagram mereka sebagai bagian dari konten. Secara masif dan terus menerus. Sehingga publik tak banyak yang tahu bahwa kenyataannya ternyata banyak sekali orang kaya, bahkan luar biasa kaya, yang penampilannya sangat sederhana dan sama sekali tidak suka pamer kemewahan.

***

Cerita di sinetron hidayah yang kemudian memunculkan ketakutan pada masyarakat terhadap tuduhan Covid sebenarnya bisa menjadi kesadaran baru akan pentingnya story telling. Jika hal ini kemudian disadari dan secara sengaja dibangun dengan baik oleh pemerintah atau pembuat kebijakan, maka bisa jadi metode story telling ini akan memudahkan masyarakat untuk memiliki persepsi yang tepat tentang pandemi. Bagaimanapun, setiap langkah per langkah sikap, kebijakan dan respon yang diambil pemerintah sejak awal pandemi hingga kini, suka tidak suka adalah rangkaian story yang ditonton oleh masyarakat.

Contoh kecil saja. Menurut Gustav Freytag, seorang penulis drama terkemuka Jerman di abad 19, ada beberapa kriteria yang dibutuhkan sebuah cerita agar bisa melekat ke dalam benak penonton. Misalnya seperti exposition atau terbentuknya latar belakang dan karakter di awal cerita.

Bayangkan seandainya sejak awal pandemi terjadi, latar belakang cerita yang dipertontonkan ke masyarakat telah dibangun dengan pas. Bahwa pandemi ini adalah masalah serius dan semua pejabat sebagai karakter cerita siap melakukan antisipasi melindungi rakyat. Alih-alih menjadikan pandemi sebagai bahan candaan nirempati. Seperti mengatakan bahwa virus Covid tak akan berani menginfeksi orang Indonesia karena mayoritas masyarakatnya suka makan nasi kucing.

Kriteria lain dari Freytag misalnya lagi adalah inciting incident atau reaksi tokoh cerita terhadap suatu kejadian. Jika ini dipahami sebagai bagian penting dari sebuah story telling yang ditonton dan didengar masyarakat, tentu ketika pertama kali terdengar munculnya varian delta di India maka reaksi yang diambil adalah yang menambah kekuatan cerita, bukan sebaliknya.

Misal dengan kebijakan segera menutup pintu masuk dari serbuan tenaga kerja asing atau sesegera mungkin memberlakukan larang mudik ketat sejak sebelum puasa. Alih-alih panik melakukan penyekatan sana sini setelah kasus melonjak tajam pasca lebaran.

Story telling yang tulus, empati dan heart-felt butuh dibangun dalam jangka panjang agar masyarakat mampu memiliki persepsi dan interpretasi yang tepat, baik terhadap pandemi maupun terhadap kebijakan yang diambil pemerintah dalam proses menangani pandemi. Bisa jadi masyarakat akan menjadi lebih lapang dada menyikapi berbagai kebijakan yang ada sekarang. Seperti kebijakan percepatan vaksinasi. Atau kebijakan PPKM berjilid-jilid dengan istilah yang bergonta-ganti ini misalnya.

 

Ita Fajria Tamim
Ita Fajria Tamim, dokter dengan hobi menulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.