OUR NETWORK
Kamis, Januari 20, 2022

Nia Ramadhani, Gelombang Covid, dan Benteng Maraton Mental Kita

Ita Fajria Tamim
Ita Fajria Tamim, dokter dengan hobi menulis

Seiring dengan hantaman pandemi yang tak kunjung berakhir, pemahaman bahwa pandemi covid adalah sebuah perjuangan jangka panjang merupakan poin esensial. Tak hanya demi faktor keselamatan dan kesehatan fisik, namun juga sebagai antisipasi dalam menjaga kesehatan mental. Pemahaman ini membantu kita mempersiapkan mekanisme perlindungan bagi jiwa kita. Bahwa benteng mental yang kita bangun haruslah bersifat maraton. Tentu harapannya agar kejiwaan kita tidak tersengal-sengal kehabisan napas di tengah jalan saat berjibaku mengarungi pandemi ini.

Bayangkan saja, sejak akhir Juni hingga saat ini, kita dihadapkan dengan berbagai pemberitaan tentang rekor demi rekor kasus covid di Indonesia. Akhirnya, gelombang kedua covid yang selama ini dikhawatirkan para ahli epidemiologi sejak awal pandemi, terjadi juga di Indonesia. Pasien membludak di hampir semua RS dan Puskesmas. Antrian pasien dan jenazah menumpuk di UGD dan lorong-lorong RS.

Keadaan di luar fasilitas kesehatan pun tidak jauh berbeda. Dalam 2-3 minggu terakhir, tak terhitung banyaknya kabar duka yang terdengar setiap harinya dalam keseharian kita. Baik dari kerabat dekat maupun jauh. Semakin hari, semakin banyak circle terdekat kita yang memberikan kabar sedang melakukan isolasi mandiri ataupun lanjut mengabarkan adanya kabar duka.

***

Tidak bisa dipungkiri bahwa terus berlanjutnya lonjakan angka covid dalam gelombang kedua ini cukup membuat hati kita mengkerut. Bagi saya pribadi, bayangan tidak adanya ruang perawatan jika saya atau keluarga saya sakit rasanya cukup mengerikan. Gejala kecemasan atau anxiety dan rasa was-was setiap saya membuka praktek dokter juga tak terhindarkan. Apalagi sejak salah satu bidan saya yang sedang hamil masuk RS karena tertular covid dua minggu lalu, di hari-hari pertama pasca kabar itu saya menjadi lebih mudah menangis. Padahal dalam kondisi normal saya termasuk orang yang sulit meneteskan air mata.

Gejala-gejala yang saya alami seperti anxiety dan mudah sedih merupakan salah satu gejala ringan gangguan jiwa. Tidak bisa dipungkiri, isu gejala gangguan jiwa menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita panjang pandemi ini. Terbaru, artis Nia Ramadhani dan suaminya ditangkap karena penyalahgunaan narkoba. Menurut pengakuannya, sang artis menggunakan narkoba sejak lima bulan yang lalu. Alasannya klasik, tertekan karena pandemi yang tak kunjung berakhir.

Apa yang dialami Nia Ramadhani mungkin sama seperti yang kita semua rasakan. Ekonomi yang tak kunjung pulih. Kabar duka yang terus mengalir di kanan kiri. Stres karena kembali terkurung di dalam rumah. Anak yang semakin rewel karena tak kunjung masuk sekolah offline. Capek dengan kebijakan pemerintah yang maju mundur dan tidak antisipatif. Sekaligus cemas dengan semua gelombang demi gelombang covid yang tak jelas ujungnya akan selesai kapan. Semua seakan menggempur pertahanan mental dan jiwa kita.

***

Masalahnya, banyak ahli memprediksi bahwa gelombang kedua covid ini mungkin bukanlah gelombang terakhir yang harus kita hadapi. Ada kemungkinan muncul gelombang ketiga, keempat dan seterusnya. Terutama berkaitan dengan kecepatan mutasi varian baru virus dan lambatnya cakupan vaksinasi yang hingga hari ini masih terus digenjot oleh pemerintah.

Jika gelombang demi gelombang masih akan terjadi lagi, maka kondisi tekanan mental yang kita rasakan di gelombang kedua ini akan berulang. Apalagi karena kemungkinan kebijakan yang diambil pemerintah pun akan berulang juga: intermitten lockdown. Semacam PPKM darurat yang sekarang sedang dijalankan untuk mengatasi gelombang kedua covid. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Harvard University, bahwa intermitten social distancing/lockdown alias buka tutup selang seling masih merupakan cara paling efektif untuk mengatasi gelombang covid.

Konsekuensi dari hal ini adalah gelombang demi gelombang tekanan dan pukulan yang harus kita hadapi secara mental. Kondisi kejiwaan kita berada dalam ancaman seiring dengan situasi yang tak pasti. Berbagai gejala gangguan jiwa bisa saja kita alami tanpa kita sadari. Mulai dari anxiety, depresi, PTSD (post traumatic stress disorder), serangan panik hingga percobaan bunuh diri. Benteng pertahanan mental kita seakan digedor dan diserang secara maraton. Terus menerus, dalam jangka panjang dan tanpa tahu kapan selesainya.

Sama seperti Nia Ramadhani. Pandemi telah berlangsung sejak 18 bulan yang lalu. Namun dari pengakuannya, Nia mengatakan baru memakai sejak 5 bulan terakhir. Artinya, kejiwaan Nia masih bisa bertahan di 13 bulan pertama pandemi. Mengira bahwa setelah bulan ke-13 pandemi akan meredup. Namun begitu bulan ke-14 dan seterusnya ternyata pandemi tak segera berakhir, benteng pertahanan Nia akhirnya jebol juga. Dan sabu-sabu menjadi jalan pintas bagi tekanan yang dialami jiwanya.

***

Dari poin ini, bisa disimpulkan bahwa ancaman gangguan kejiwaan terkait pandemi nyata adanya. Dan sama seperti imunitas fisik, imunitas kejiwaan menjadi benteng bagi pertahanan masyarakat dalam memenangkan pertarungan melawan badai pandemi ini. Artinya, jika dalam tataran fisik pemerintah menyediakan semua antisipasi dan fasilitas kesehatan, maka dalam tataran menjaga kesehatan jiwa masyarakat seharusnya pemerintah juga melakukan hal yang sama.

Dalam UU nomor 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa sebenarnya semua amunisi penyelenggaraan fasilitas kesehatan jiwa sudah diatur. Dalam UU tersebut pemerintah bersama masyarakat berkewajiban menjaga kesehatan jiwa masyarakat dengan berbagai fasilitas yang dimungkinkan. Artinya, jika diseriusi, UU ini bisa menjadi salah satu benteng maraton pertahanan mental masyarakat menghadapi pandemi.

Hal-hal sederhana seperti pelayanan psikologis dan psikiatris yang mudah diakses, jaringan komunikasi berisi edukasi tentang gejala-gejala gangguan jiwa yang bisa ditimbulkan akibat pandemi hingga hotline call center yang bisa dihubungi oleh masyarakat jika mengalami tanda-tanda gangguan jiwa, bisa menjadi opsi. Karena bagaimanapun, jika jiwa kita saja tak mampu kita pertahankan kewarasannya, bagaimana bisa kita mengumpulkan cukup imun untuk menghadapi virus ini?

 

Ita Fajria Tamim
Ita Fajria Tamim, dokter dengan hobi menulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.