Senin, Juni 24, 2024

Semangat Isra’ Mi’raj untuk Menuju Spiritualitas

Achmad Shochib Al Jaziroh
Achmad Shochib Al Jaziroh
Seorang santri Pencari ilmu Penulis Lulusan dari SMA Assa'adah

Umat Islam memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tampaknya, peringatan kali ini akan menuntun kita untuk benar-benar melakukan perjalanan menuju kesempurnaan spiritual.

Artinya, bagaimana menjadikan shalat – ‘buah tangan’ Nabi SAW ketika melakukan Mi’raj berdialog’ langsung dengan Allah SWT–sebagai menuju kesempurnaan spiritual, dalam arti mampu berimplikasi positif sekaligus reformatif bagi perilaku kita sehari- hari.

Ini sungguh penting. Sebab, meski umat Islam di negeri ini mayoritas tetapi ada sebuah fakta bahwa di periode reformasi saat ini terdapat kecenderungan pada lapisan atau kelompok sosial tertentu ke arah situasi keterasingan yang tampil dengan ciri masyarakat yang serba boleh.

Secara historis, kecenderungan alienatif semacam itu pernah terjadi dalam masyarakat Arab pra- Islam, sebelum Nabi Muhammad SAW menjalankan misi profetiknya sebagai nabiyullah yang dulunya sebelum Nabi warga mekkah menganut kepercayaan nenek moyang mereka.

Ironisnya, kini hadir kembali dalam sejarah masyarakat ultramodern yang menganut paham permisivisme, ultraliberal, dan semacamnya. Tak terkecuali bangsa Indonesia yang penduduknya dengan muslim terbanyak yang menjadi sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Meski kita telah masuk dalam route reformasi selama kurang lebih 20 tahun, tapi nyatanya kita malah berada dalam kekuasaan para elite politik, bahkan ulama dan intelektual dari negeri seribu etnis ini yang hanya sibuk berebut kekayaan dan kue- kue kekuasaan dengan cara- cara ethnical.

Elite politik jelang Pilpres, adalah contoh nyatanya dalam moralitas ekonomi dan politik, bahkan moralitas keagamaan kini hanya sebatas political commodity.

Ini menunjukkan, betapa di sebagian tubuh bangsa ini, baik di tingkat elite maupun lawn root, masih bercokol individu- individu yang arogan, anarkis, radikal, amoral, antireformasi dan semacamnya.

Demoralisasi individual dan sosial–meminjam istilah Marciano Vidal–yang ditandai dengan meningkatnya kejahatan moral dengan kondisi masyarakat yang tidak peduli dengan moral, membentang di hadapan kita.

Lalu, bila ada satu hal yang kiranya dapat berperan maksimal untuk meluruskan kembali yang melenceng, mereformasi, penebar hoax, menebar kasih sayang, memelihara dan meningkatkan moralitas individu, masyarakat, dan bangsa, tak lain adalah agama.

Dalam perspektif Islam, kesadaran spiritualitas bergandengan dengan kesadaran manusia. Artinya, semakin tinggi kesadaran keagamaan dalam keberagaman seseorang, semestinya kian tinggi pula kualitas kemanusiaannya dalam lingkungan sehari-hari.

Perihal ini dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam Mi’rajnya kala‘ berdialog’ langsung dengan Allah SWT. Menurutnya,“ Mi’rajnya manusia mengarah ke langit tidaklah suatu upaya pendakian spiritual buat berpaling dari tanggung jawab kemanusiaan, melainkan malah dengan Mikraj itu dapat terjalin kontak antara Allah SWT serta orientasi manusia yang terletak di bumi”.

Dengan demikian, bagi ajaran Islam, nilai kemanusiaan cuma dapat dimengerti kala seluruh sikap lahir batinnya diorientasikan kepada tuhan, serta pada dikala bertepatan pula bawa implikasi konkrit terhadap upaya tingkatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Untuk memelihara serta mengintensifkan jalinan organik ini, salah satu metode yang wajib ditempuh oleh seseorang muslim merupakan tingkatkan pemahaman spiritualitas- religiusnya lewat shalat. Shalat dapat ditatap selaku dini dari institusi iman, di mana suatu kepercayaan serta orientasi keilahian diaktualisasikan serta berhubungan dengan orientasi praksis buat mewujudkan the human right.

Dengan kata lain, rentangan spektrum Ilahi terletak di satu sisi, serta spektrum kemanusiaan terletak di sisi lain. Secara metafisis tidak dapat bila keduanya diletakkan dalam perspektif ruang sebagaimana yang kita pahami. Tetapi keduanya hendak menyatu dalam suatu pemahaman batin, sehingga untuk seseorang muslim, dalam sikap kemanusiaannya hendaklah cocok norma Ilahi.

Demikian pula kehangatan dalam bertuhan, hendaknya terefleksikan dalam sikap kemanusiaan. Dalam tingkat ini, barangkali kita menamakannya selaku satu kesatuan gerak. Gerakan keilahian serta sekalian gerakan kemanusiaan. Jadi, mengingat posisi sentral yang diperankan manusia dalam jagad raya ini (khalifatullah fil ardl).

keagungan sesungguhnya tidak hendak dapat dimengerti tanpa terdapat keterkaitan dengan tuhannya. Demikian pula, apabila ridla Ilahi tidak lagi jadi pusat orientasi tiap manusia, mutu motivasi kehidupan hendak jadi rapuh, serta manusia dapat jadi terperangkap pada posisi bermusuhan melawan transformasi sosio- kultural budaya,

Serta tentu manusia dalam posisi yang kalah. Kepercayaan serta perasaan hendak kedatangan tuhan inilah yang hendak berikan kekuatan moral, pengendalian, serta sekalian kedamaian hati untuk seseorang.

Walhasil yang dicoba hendak tetap merasa dalam orbit tuhan, bukan dalam putaran dunia yang tidak jelas lagi ujung pangkalnya. Saat ini, kita sudah 20 tahun lebih terletak di masa reformasi yang menuntut terdapatnya revolusi mental di seluruh zona kehidupan.

Keberhasilan serta kegagalannya hendak diukur dengan sikap manusia, apakah seluruhnya itu hendak menyuburkan nilai spiritualitas dalam kehidupan kemanusiaan ataupun malah kebalikannya.Di sinilah ketuhanan serta kemanusiaan jadi semacam‘ poros tengah’ serta sekalian tolak ukur dalam mengevaluasi proses reformasi bangsa ini.

Dalam konteks ini, pantas dicamkan‘ teori kaca’ Imam al- Ghazali. Dalam karya magnum opus- nya, Ihya Ulum al- Din, dia berkata:“ Kegiatan kemanusiaan yang tidak diterangi sinar Ilahi, bagaikan orang berjalan di atas lorong setan yang hitam, serta orang yang cuma hanya yakin kepada Tuhan, namun tidak meningkatkan sifat- sifat ataupun nilai spiritual- religius di dalam dirinya, hingga dia bagaikan iblis yang berkeliaran”.

Dengan demikian, visi ketuhanan serta kemanusiaan yang berakar pada tiap orang wajib dikatakan dalam tata nilai sikap kehidupan tiap hari. Inilah yang diajarkan dalam ibadah shalat. Allah SWT berfirman,” Sesungguhnya shalat itu akan menghindarkan (kalian) dari perbuatan keji dan munkar”( QS. 29: 45). Apa yang kita jalani hendak dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.

Rasanya benar apa yang dikatakan W. Meter. Dixon dalam bukunya, The Human Situation (1990), kalau agama ialah bawah yang kokoh untuk moral manusia. Kesimpulannya, persoalan hipotesis pantas dikemukakan.

Jika saja dalam proses reformasi bangsa ini tidak lagi muat nilai spiritualitas- religius yang jadi acuannya, moralitas serta kehidupan manusia berbagai manakah yang hendak timbul?

Kebalikannya, jika saja keberagamaan itu cuma dihayati selaku urusan orang buat memperoleh ketenangan serta jadi media penebus dosa sehabis bergelimang kezaliman, bukankah itu berlawanan dengan prinsip tiap agama?

Achmad Shochib Al Jaziroh
Achmad Shochib Al Jaziroh
Seorang santri Pencari ilmu Penulis Lulusan dari SMA Assa'adah
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.