Sabtu, Maret 2, 2024

Security and Style War, Perkembangan dan Perubahan Gaya Perang

Yusup Ramdani
Yusup Ramdani
Mahasiswa Universitas Wanita Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis, Prodi Ilmu Hubungan Internasional. Tertarik pada issue Pendidikan,Ekonomi Politik Internasional,Hukum Internasional ,diplomatik

Perang merupakan suatu fenomena yang pada dasarnya terjadi akibat adanya perbedaan pendapat atau perbedaan keinginan. Hal ini berkaitan dengan sifat dasar manusia yang pada hakikanya di berkahi hawa nafsu.

Hal ini bisa kita perhatikan dari awal mula gaya perang yang sempat terjadi di muka bumi, kita bahas sejak awal terjadinya perang dunia I (tahun 1914). Gaya perang pada saat itu masih tampak, sebab saat itu tindak peperangan masih menggunakan gerakan fisik. Gerakan perang saat itu terjadi dengan bebagai macam gerakan (namun di pastikan itu menggunakan fisik) yang pada akhirnya menumbangkan puluhan ribu nyawa.

Pasca dari perang dunia I, terjadi pula perang dunia II (terjadi pada kisaran tahun 1939-1947an). Gaya perang pada perang dunia II pun masih bisa di katakan dengan peperangan fisik yang mana pada akhirnya menumbangkan pula puluhan hingga ribuan jiwa.

Pasca perang dunia II, peperangan fisik sudah mulai di hentikan sebab hal itu di pandang sebagai bentuk tindakan yang tidak manusiawi (melanggar HAM), berikut di perkuat dengan adanya konvensi yang salah satunya konvensi jenewa pada tahun 1949.

Adanya kebijakan-kebijakan tersebut menjadikan gaya perang berubah dari gerakan fisik menjadi non-fisik atau biasa kita kenal dengan perang dingin. Perang dingin terjadi pada tahun 1947-1960an, aktor yang berperang pada saat itu yakni Uni Eropa (EU) dan Uni Soviet (US).

Perang dingin terjadi, akibat adanya kepentingan dari kedua belah kelompok untuk meraup SDA dan SDM. Hadirnya peperangan tidak terlepas dari adanya suatu keinginan yang berbeda di antara kedua belah pihak (baik individu ataupun komunal).

Perang dingin di mulai pasca peperangan fisik telah di non-aktifkan, namun untuk tujuan baik dari perang fisik ataupun dingin tidak terlepas dari kepentingan SDA dan SDM.

Dari tapak historis hingga saat ini metode peperoangan sudah beragam, dari perang fisik, psywar, asimetris dan kortex.

1. Perang fisik

Bisa kita jumpai metode peperangan ini pada jejak histori perang dunia I dan  II yang mana hal itu tampak jelas menampilkan kekuatan dengan perwujudan, baik secara fisik ataupun kekuatan persenjataan.

Dalam hal ini, setidaknya di tengah peperangan kita dapat mengidentifikasi siapa yang menjadi aktornya (setidaknya panglima) dalam peperangan tersebut. Sebab, dalam peperangan ini sangat jelas memperlihatkan ke tangkas-an dalam setiap kekuatan.

2. Psywar

Secara bahas, psywar memiliki arti “perang urat sarap”. Hal ini bisa di katakan dengan gaya perang yang normatif atau formal, gaya perang dalam hal ini mengutamakan kecerdasan pikiran untuk dapat menyatukan frekuensi kekuatan dari setiap individu ataupun kelompok kepada tujuan kita.

Dalam hal ini, aktor keterlibatan dalam suatu peperangan cukup bias. Sebab, aktor yang terlibat bisa saja tidak menyadari apa yang di tuju dan apa resiko yang di hadapi nya (pihak korban).

3. Perang asimetris

Perang asimetris, dalam beberapa artikel di katakan bahwa gaya perang ini menobatkan potensi negara kekuatan militer yang kuat yang di turunkan atau berlangsungnya perseteruan antara negara berkekuatan militer yang kokoh kepada negara yang berkekuatan militer lebih rendah di bandingnya.

Pada dasarnya, mungkin peperangan ini merupakan gaya perang yang tidak adil (sebab hilangnya keseimbangan diantara negara yang kian terjadi konflik). Akan tetapi, pada akhirnya gaya perang seperti ini kian terjadi.

4. Perang kortex

Perang kortex merupakan gaya perang yang mulai samar bahkan sudah tidak terlihat siapa aktor dalam hadirnya kemiskinan dan kejayaan suatu negara. Gaya perang ini mulai sering terjadi di masa modernisasi, perang kortex sangat jauh berbeda dengan perang fisik yang secara garis besar kita masih di berikan kepastian siapa yang menjadi aktornya. Namun, dalam perang kortex aktor-aktor yang terlibat di dalamnya sudah mulai bias,samar dan bahkan tidak terlihat.

Perang kortex merupakan gaya perang yang paling apik dan juga sangat safety (sebab, aktor bisa tersembunyi dan tertutup). Adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka gaya perang inilah yang mungkin akan sering terjadi di kemudian hari.

Dalam hal ini, dapat kita simpulkan bahwa kian banyak terjadi gaya-gaya perang yang ter-update bermuara di muka bumi ini. Dari mulanya kita mampu melihat siapa yang menjadi aktor dan siapa korban (sebab dan akibat), akan hal tersebut semakin bias dan semakin samar. Akhir kata saya memiliki sebuah pertanyaan, lebih bahaya dan lebih menyengsarakan yang mana dari ke 4 gaya perang tersebut? Lebih manusiawi yang mana di antara ke 4 nya?

Demikian yang dapat saya sampaikan, kurang dan lebihnya mohon maaf sebanyak-banyaknya saya haturkan.

Yusup Ramdani
Yusup Ramdani
Mahasiswa Universitas Wanita Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis, Prodi Ilmu Hubungan Internasional. Tertarik pada issue Pendidikan,Ekonomi Politik Internasional,Hukum Internasional ,diplomatik
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.