Kamis, Juni 20, 2024

Romantisasi Penyakit Mental

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, istilah mental illness atau penyakit mental kerap didengar telinga. Kata yang berkaitan dengan psikologi tersebut seperti sudah menjadi istilah awam di masyarakat terutama kaum muda. Mungkin, mereka merasa keren ketika menggunakan istilah-istilah seperti depresi, self-harm, suicide, dan istilah-istilah lain yang termasuk ke dalam mental illness. Namun, penggunaan istilah-istilah tersebut dapat berdampak besar bagi kehidupan individu maupun sekelompok orang.

Penyebaran informasi terkait mental illnes tentu tidak terlepas dari media yang menyebarkan. Media-media tersebut memiliki kesamaan dalam penyampaian informasi, yaitu kuatnya batas untuk membedakan orang dengan penyakit mental dengan konsep “kita” dan “mereka”. Pada media seperti film, karakterisasi umum di mana pasien sakit jiwa sering digambarkan sebagai pembunuh. Distorsi media ini menciptakan hubungan antara kriminalitas dan penyakit mental.

 

Namun, baru-baru ini, telah terjadi perubahan besar dalam perspektif tentang penyakit mental, meskipun stigmatisasi media masih kuat dalam penggunaan “kita” dan “mereka”. Mereka yang memiliki penyakit mental mulai merangkul keragaman mereka, yang mengarah pada munculnya sudut pandang baru.

Dalam serial Netfilx 13 Reasons Why, yang menceritakan kisah seorang remaja yang mengalami perundungan oleh kawah-kawan di sekolahnya. Ia bunuh diri dan meninggalkan 13 rekaman di kaset untuk setiap orang yang dia klaim menyebabkan dia bunuh diri. Melalui rekaman ini, dia dapat menyalahkan orang lain atas bunuh dirinya dan melakukan balas dendamnya. Dia yang awalnya tidak berdaya untuk menghentikan perundungnya, tetapi mendapatkan kekuatan melalui bunuh diri.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merinci beberapa aspek liputan berita yang dapat mempromosikan penularan bunuh diri, seperti menjelaskan rincian teknis bunuh diri, menghadirkan bunuh diri sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu atau sebagai coping mechanism, dan memuliakan bunuh diri atau mereka yang melakukan bunuh diri (O’Carroll & Potter, 1994).

Semua aspek liputan berita ini juga ada di 13 Reasons Why, menunjukkan tidak hanya bahwa acara tersebut meromantisasi bunuh diri, tetapi juga memiliki potensi untuk mempromosikan penularan bunuh diri pada pemirsanya.

Banyak pengguna aplikasi Tumblr saat ini, terutama gadis remaja, tertarik ke dalam depresi yang romantis. Romantisasi penyakit mental adalah penggambaran penyakit mental sehingga lebih berkesan glamor, menarik, atau memikat daripada yang sebenarnya (Patel, 2018).

“Saya pikir, orang yang ingin bunuh diri hanyalah malaikat yang ingin pulang.”

Kutipan dari Tumblr tersebut dapat menginterpretasikan bahwa mereka yang ingin bunuh diri harus dihormati atau dikagumi seperti masyarakat mengagumi malaikat. Pembaca dapat lebih mempercayai interpretasi tersebut bila media yang ia baca juga melampirkan gambar yang sangat mendukung kutipan, seperti gambar seorang gadis yang memegang kepala dengan kedua tangannya sambil menunduk

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.