Selasa, Maret 5, 2024

Representasi Realitas Sosial dalam Novel dan Stand Up Comedy

Siti Rinjani
Siti Rinjani
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Novel adalah salah satu bentuk sastra tertulis yang paling kuat dalam menggambarkan realitas sosial. Dalam setiap lembar halamannya, novel memiliki kemampuan untuk menghidupkan dunia, karakter, dan peristiwa yang memungkinkan pembaca memahami dan merasakan realitas sosial yang mungkin terjadi di dunia nyata.

Novel memungkinkan penulis untuk merinci karakter dengan sangat mendalam, hal ini membantu pembaca merasa terhubung dengan karakter dan memahami perjalanan emosional serta perkembangan karakter dalam konteks sosial. Penulis seringkali menggunakan pemikiran dalam monolog dan dialog karakter untuk menyampaikan perspektif dan pemikiran yang mendalam tentang realitas sosial, hal tersebut memungkinkan pembaca untuk merasakan perasaan dan pandangan karakter.

Stand-up comedy pada awalnya mungkin hanya dianggap sebagai bentuk hiburan ringan, kini telah berkembang menjadi media penting untuk menyampaikan realitas sosial dalam masyarakat. Meskipun stand-up comedy seringkali diidentifikasi dengan tawa dan guyonan, banyak komika menggunakan bentuk seni ini untuk menggambarkan dan mengkritik aspek kehidupan sehari-hari, norma sosial, dan isu-isu kontemporer. Dalam artikel ini, akan menjelaskan mengapa stand-up comedy dapat dianggap sebagai sastra lisan yang kuat dalam menyampaikan realitas sosial.

Stand Up Comedy sebagai Sastra lisan, yang merupakan sebuah seni komedi modern. Biasanya mereka para komedian atau komika berdiri di depan penonton lalu membawakan sebuah jokes, berbicara langsung kepada mereka dan menghadapi reaksi penonton juga secara langsung.

Salah satu ciri khas stand-up comedy adalah kemampuan untuk mengeksplorasi dan mengkritik isu-isu sosial dengan cara yang menghibur. Para komika biasanya menggunakan humor sebagai alat untuk merinci ketidaksetujuan mereka dengan kebijakan pemerintah, stereotip budaya, atau ketidakadilan sosial. teori humor yaitu teori Superioritas yang merupakan Humor sebagai sarana menertawakan penderitaan, kekurangan, atau kesalahan orang lain. Karena itu stand up comedy juga bisa digunakan sebagai media penyampaian realitas sosial.

Dalam prosesnya, mereka membantu audiens untuk melihat realitas sosial dari sudut pandang yang berbeda, memprovokasi pemikiran, dan merangsang diskusi. Contoh yang baik dari ini adalah komika-komika seperti George Carlin, yang dikenal karena kritik tajamnya terhadap politik, agama, dan budaya.

Dalam penampilannya, Carlin sering mengekspos ketidakadilan sosial dan ketidaksetaraan dalam masyarakat, menggunakan humor untuk menyuarakan kekhawatiran mendasar banyak orang. Stand-up comedy juga berfungsi sebagai cermin budaya, mencerminkan realitas sosial dan politik saat itu.

Komika sering kali berbicara tentang pengalaman pribadi mereka, kehidupan sehari-hari, atau interaksi dengan berbagai kelompok dalam masyarakat. Dalam prosesnya, mereka membangun narasi yang memungkinkan kita memahami kompleksitas masyarakat dan budaya tempat mereka hidup.

Contoh yang menarik adalah komika yang membahas isu-isu keberagaman dan perbedaan budaya. Mereka dapat menggunakan pengalaman pribadi mereka untuk membuka mata orang tentang realitas kehidupan sehari-hari dalam masyarakat yang multikultural.

Stand-up comedy mendorong audiens untuk berpikir lebih dalam tentang realitas sosial yang ada. Lebih dari sekadar hiburan, komika menggunakan humor untuk menyoroti ketidakadilan, bias, dan isu-isu sosial yang mungkin terlupakan atau diabaikan. Ini membantu menghasilkan kesadaran sosial yang lebih besar di antara penonton.

Stand-up comedy juga memberikan perspektif yang unik dan subjektif tentang realitas sosial. Para komika seringkali berbicara tentang pengalaman pribadi mereka, dan ini memungkinkan audiens untuk melihat dunia melalui lensa yang berbeda. Mereka membantu kita untuk merasakan empati terhadap pengalaman orang lain, terutama ketika isu-isu seperti ras, gender, atau kelas sosial dibahas.

Novel dan stand-up comedy adalah dua pendekatan yang berbeda dalam menggambarkan realitas sosial. Novel menawarkan kedalaman karakter dan latar yang kaya, sementara stand-up comedy menggunakan humor untuk mengkritik isu-isu sosial secara tajam dan menghibur.

Keduanya memiliki peran penting dalam membantu kita memahami dan merespons realitas sosial.Saat membaca novel, pembaca dapat mengalami realitas sosial melalui lensa karakter, sementara stand-up comedy menghadirkan realitas tersebut melalui lensa komika yang seringkali cerdas dan kontroversial. Keduanya dapat saling melengkapi, dengan novel memberikan pemahaman mendalam dan kompleks, sementara stand-up comedy menyampaikan pesan dengan cara yang lebih ringan dan interaktif.

Salah satu pembahasan realitas sosial yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah Kemiskinan. Kemiskinan dapat terjadi karena ketidakmampuan seseorang atau suatu keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dsb. Di dalam karya sastra tidak jarang di dalamnya membahas tentang kemiskinan. Di sini terdapat dua contoh karya sastra, dalam bentuk tulis berupa novel SPDB (Sekali Peristiwa di Banten Selatan) dalam bentuk lisan dapat berupa Stand Up Comedy.

Di dalam novel SPDB toko bernama Ranta digambarkan sebagai seorang yang hidup dalam kemiskinan. Karena kemiskinannya membuat dia harus berhutang dan mengalami penindasan oleh orang yang mengutanginnya.

Jika melihat contoh novel tersebut, Kemiskinan cukup digambarkan dengan jelas dan natural melalui nasib dari tokohnya. Kemudian jika berbentuk sastra lisan Stand Up Comedy, Kemiskinan juga kerap dijadikan bahan cerita yang dibungkus dengan komedi, agar tidak terdengar seperti menghina karena pada dasarnya Stand Up menceritakan keluh kesah seseorang mengenai apa yang dilihat dalam kehidupannya.

Misalnya dalam salah satu Stand Up yang dibawa oleh Coki Pardede dalam suatu Podcast. Di dalamnya dia mengatakan “Kalau orang kaya berjalan di dekat rel kemudian ada kereta lewat akan pasti menghindari kereta tersebut.

Namun berbeda ketika orang miskin terutama yang terlilit utang berjalan di dekat rel dan kereta akan lewat, dia bukannya menghindari kereta tersebut, justru malah menggelar kasur untuk tidur di rel tersebut (bunuh diri)”. Jika dilihat dari realitas sosial, banyak orang yang terjerat kemiskinan dan seringkali mengambil jalan pintas seperti bunuh diri untuk menyelesaikan masalah hidupnya tersebut.

Salah satu materi Stand Up tersebut juga membahas tentang kemiskinan, yang mana terkadang orang yang sudah miskin sedang terlilit utang terkadang akan mengambil jalan pintas untuk keluar dari masalahnya tersebut, salah satunya dengan cara bunuh diri. Jika melihat contoh Stand Up Comedy tersebut, kemiskinan juga digambarkan dengan jelas namun dibumbui dengan komedi tapi tidak untuk menghina, melainkan untuk menekankan gambaran realitas sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara yang berbeda.

Kesimpulannya bahwa novel adalah bentuk sastra lisan yang sangat kuat dalam menggambarkan realitas sosial. Dengan karakter yang mendalam, latar yang kaya, penceritaan cerita yang menarik, pengungkapan perspektif yang beragam, refleksi masalah sosial, dan penyelidikan yang mendalam, novel memiliki kemampuan untuk menyajikan realitas sosial dalam semua kompleksitasnya. Novel tidak hanya mencerminkan masyarakat di mana ia ditulis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merangsang perubahan sosial dan memotivasi pembaca untuk merenungkan dunia di sekitar mereka.

Sedangkan, stand-up comedy bukan hanya tentang tawa, tetapi juga merupakan bentuk sastra lisan yang kuat dalam menyampaikan realitas sosial. Melalui kritik sosial, refleksi budaya, pemikiran yang mendalam, dan perspektif yang unik, komika membantu kita memahami, merasakan, dan merayakan keragaman masyarakat kita. Stand-up comedy memberikan suara kepada mereka yang mungkin terpinggirkan atau diabaikan, dan dengan cara itu, ia memainkan peran penting dalam pembentukan budaya dan masyarakat kita.

Siti Rinjani
Siti Rinjani
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.