Selasa, Maret 5, 2024

Pesan Tersirat dalam Stand-Up Comedy

Nadia Diana Kamelia
Nadia Diana Kamelia
Mahasiswa Antropologi. Tertarik dengan isu sosial-kemanusiaan, agama, politik dikit-

Komedi berkembang seiring meluasnya media digital dan teknologi. Masyarakat tidak lagi hanya mengenal penampilan kelompok komedi seperti srimulat. Dewasa ini, salah satu program pertelevisian yang menjadi favorit bagi banyak kalangan adalah standup comedy. Kini, masyarakat khususnya kalangan muda mulai menjadi penikmat standup comedy, model baru komedi pada masa ini.

Salah satu nama komika yang terkenal adalah Ernest Prakasa. Ernest adalah warga keturunan Tionghoa yang sering menggunakan latar belakangnya tersebut sebagai bahan lawakan. Keresahan dan cerita hidupnya menjadi seorang keturunan Cina ternyata dinikmati penonton stand-up comedy Indonesia.

Pasalnya, stereotip warga Indonesia terhadap etnis minoritas ini masih sedangkal orang asing yang datang ke Indonesia untuk memperkaya diri, berkulit putih, dan bermata sipit. Sehingga akan akrab di telinga kita jika ada ejekan “dasar cina” pada teman yang memiliki mata sipit dan berkulit putih, padahal belum tentu mereka adalah keturunan Cina.

Ejekan ini bisa jadi melukai hati beberapa individu atau bahkan dianggap biasa saja karena memang sudah sering didengar. Keresahan dan kebiasaan inilah yang oleh Ernest kemudian dikemas dalam sebuah stand-up comedy. Penonton yang hadir baik warga keturunan Tionghoa dan etnis lain pun tertawa terbahak-bahak dengan apa yang disampaikan oleh Ernest karena hal tersebut memang sesuai dengan pengalaman pribadi mereka.

Ernest mengekspresikan humor dengan dasar pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan penontonnya. Penonton dilibatkan dalam humor yang disampaikan oleh komika sehingga muncul perasaan senasib sepenanggungan. Dia mengungkapkan bagaimana kehidupannya sebagai seorang bermata sipit atau keturunan Tionghoa dan menanyakan apakah ada yang mengalami hal yang sama dengannya, baik sebagai keturunan Tionghoa maupun tidak.

Walaupun bahasa yang digunakan oleh komika adalah bahasa yang ringan namun apabila konten yang disampaikan sedikit sensitif atau memiliki latar budaya yang berbeda tentu dapat berakibat fatal. Stereotip yang telah terbangun dalam masyarakat Indonesia dapat semakin kuat atau bisa saja diruntuhkan dengan fakta-fakta baru yang kebenarannya dapat diterima masyarakat luas.

Dalam salah satu stand-up comedy-nya yang berjudul “Koper”, Ernest mencoba untuk meluruskan stereotip masyarakat Indonesia terhadap etnis Tionghoa. Salah satu stereotip yang muncul adalah bahwa semua orang Cina pasti kaya. Dalam stand- up comedynya tersebut, Ernest secara tidak langsung membantah anggapan bahwa semua orang Cina pasti memiliki kehidupan ekonomi yang baik.

Tidak hanya itu, perlakuan mayoritas terhadap minoritas juga menjadi tema yang sering dibawakan oleh Ernest. Dengan gestur tubuh sedemikian rupa, ia mengungkapkan sindiran atas diskriminasi yang pernah ia alami. Walaupun disampaikan menggunakan nada candaan namun inilah kenyataan yang harus dialami oleh minoritas di negeri ini.

Ia juga pernah melakukan stand-up comedy yang kontennya berisi tentang pembuktikan bahwa sejatinya orang Tionghoa tidak pernah merendahkan orang lain, “lha, mandang dua mata aja susah, apa lagi sebelah”. Monolog ini berangkat dari kondisi fisik etnis Tionghoa yang memiliki mata sipit atau Ernest menyebutnya dengan istilah “kurang belo”. Dengan menertawakan diri sendiri sejatinya Ernest memiliki harapan bahwa pesan dari humor tersebut sampai pada masyarakat sehingga terbangun empati penonton terhadap etnis lain.

Ernest memanfaatkan stereotip yang terbangun di masyarakat dan berusaha meluruskan stereotip yang dianggapnya tidak sesuai dengan kehidupan etnis Tionghoa yang sebenarnya. Karena komedi dapat memberikan banyak informasi melalui penyampaiannya yang ringan, Ernest pun memilih membangun stereotip baru dengan cara menertawakan stereotip yang telah terbangun sebelumnya.

Penerimaan stereotip baru yang dibalut kemasan humor cenderung lebih mudah diterima masyarakat. Adanya stereotip SARA dalam stand-up comedy akan membawa dua keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah membuat penonton tertawa dan terhibur sehingga membuat otak lebih segar. Keuntungan yang kedua adalah penonton akan mempelajari hal baru dengan cara penerimaan dan kepercayaan akan suatu kelompok sosial tertentu. Pandangan audiens akan berubah terhadap stereotip lama yang cenderung kaku.

Sejatinya, Ernest Prakasa yang sering membawakan materi diskriminasi terhadap kaumnya sendiri sebenarnya tidak hanya sedang berkomedi. Ada pesan tersirat yang harapannya adalah memberikan citra baik untuk golongan Tionghoa yang selalu dianggap sebelah mata. Melalui joke-joke tersebut, stereotip masyarakat yang keliru mengenai etnis Tionghoa yang acapkali memunculkan praktik-praktik diskriminasi tidak lagi berkembang di Indonesia.

Nadia Diana Kamelia
Nadia Diana Kamelia
Mahasiswa Antropologi. Tertarik dengan isu sosial-kemanusiaan, agama, politik dikit-
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.