Psikologi Planet Madura: Bensin Eceran sebagai Teleskop

- Advertisement -

Soal nasib, orang Madura tak perlu suram sampai harus pindah negara bersama londo ireng, apalagi pindah planet mencari Naruto. Planetnya tetap Madura. Tak pula buru-buru mengikuti pelatihan bisnis dengan optimisme penuh jargon pengusaha sukses. Mereka tetap mencari kesejahteraan dengan logikanya sendiri.

Di zaman ketika masa depan terus diproduksi sebagai kecemasan—politik tak menentu, kebijakan memecah belah, ekonomi goyah—sebagian orang berwacana ingin pindah ke negara lain atau membayangkan Indonesia Emas 2045. Seolah persoalan hidup selesai setelah menemukan tempat atau tahun yang tepat. Padahal, bagi banyak orang, masa depan tidak pernah datang sebagai kepastian.

Orang Madura mungkin tidak perlu membaca Eric Voegelin yang memperingatkan agar manusia tidak mencoba menghadirkan surga di bumi lewat proyek ideologis yang terlalu percaya diri. Tanpa teori besar pun, mereka seolah sudah punya keyakinan praktis: di planet ini tak mungkin sepenuhnya dibangun surga oleh ideologi heroik siapa pun. Presiden berganti, janji kampanye berlalu, kurikulum pendidikan berubah mengikuti tren, hidup tetap harus dijalani dengan jurus sendiri.

Bahkan di peradaban yang sudah maju, menurut Giorgio Agamben, negara  bisa meninggalkan manusia dalam kondisi kehidupan telanjang yang seolah diserahkan pada takdir. Apa yang dilakukan orang ketika institusi menjamin hidupnya tidak selalu memberi kepastian? Di Madura, jawabannya jarang berupa perlawanan terbuka atau penantian pasrah. Lebih sering berupa gerakan mencari celah di antara keterbatasan yang ada.

Teleskop Bensin Eceran

Bagi orang luar, Madura sering diasosiasikan dengan kenekatan dalam kekerasan. Carok dalam kasus tertentu dan celurit dijadikan lensa utama. Narasi memang dibutuhkan agar sebuah tempat mudah dikenali. Namun, biar tak menjadi metanarasi, Madura juga punya kenekatan lain yang jarang dibicarakan. Saya ingin menariknya ke arah yang berbeda, seperti Cak Nun memproyeksikannya menjadi saklek, atau tawakkal versi Habib Ja’far; kenekatan yang tak berurusan dengan sesama manusia, khususnya pada orang-orang yang hidup dari profesi tanpa jaminan.

Saya teringat antrian di SPBU Pakamban, Sumenep. Sejak kenaikan Pertamax 30,1%, antrian itu memanjang seperti tubuh ular naga yang meliuk ke arah Prenduan. Di depan SPBU itu sebarang jalannya, ada penjual bensin eceran yang ternyata bukan hanya satu penjual. Andaikan Habib Ja’far melihat pemandangan ini, ia akan lebih heran karena bukan hanya semut melawan raksasa, tetapi juga antarsemut karena ada tiga penjual eceran dalam radius berdekatan. Anjirnya, mereka masih eksis sampai sekarang, di tengah orang-orang mencari stok bensin bersubsidi di pom raksasa.

Saya menghampiri salah satu penjual untuk meminta izin memotret. Ketika saya bertanya seperti surveyor—layaknya Habib Ja’far—ia tidak menjawab bahwa rezeki ada yang mengatur sebagaimana yang sering dikatakan sang Habib. Ia hanya diam, tersenyum, lalu kembali menuang bensin ke botol.

Dari sudut di balik botol-botol itu, SPBU terlihat seperti melalui lensa kecil. Botol-botol kaca bensin seakan menjadi teleskop yang memperbesar kenekatan pada profesi-profesi lain dalam orbit yang sama: kenekatan yang seolah tak berurusan dengan sesama manusia. Bukan sekadar berani berjualan di depan SPBU, tapi juga menjangkau banyak praktik pekerjaan yang terlihat tak masuk akal jika diukur dengan aturan formal atau teori ekonomi baku.

Habib Ja’far menarik jawaban pedagang kepada Tuhan sebagai pengatur rezeki. Pembacaan itu masuk akal dalam masyarakat religius. Namun, religiusitas tidak selalu sama dengan spiritualitas yang tercerahkan. Tawakal butuh kemurnian batin, yang kalau jujur menggiring pada “tajrid,’ pelepasan hasrat dan ikhtiar duniawi, sementara kegiatan ekonomi menuntut ambisi.

Untuk menengahi ini, saya membacanya malah sok-sokan seperti Max Weber yang membaca masyarakat Protestan dalam semangat kapitalisme: versi religi orang Madura, ketika ketuhanan bisa menjadi energi etos kerja. Kalimat “rezeki ada yang mengatur” tidak harus berhenti sebagai kepasrahan, melainkan bisa menjadi legitimasi psikologis yang justru mendorong orang untuk terus bergerak dalam kenekatan.

- Advertisement -

Kenekatan yang tampak paling sederhana dan umum: warung madura dibuka 24 jam, mengambil waktu yang ditinggalkan orang lain. Di Sumenep, petani tembakau  pegunungan yang mengandalkan sumur bor memperpanjang penyiraman hingga malam demi mengejar banyaknya bibit dalam jendela daun emas yang hanya sekitar 3 bulan. Kalau siang tak cukup, malam pun dimasukkan ke dalam hitungan. Peluang tak selalu mengikuti ritme tubuh.

Ritme sirkadian punya batas. Dunia kerja modern membakukan 8 jam. Namun, kebutuhan dan peluang tidak selalu tunduk pada pembagian itu. Kompetisi tidak selalu dimenangkan oleh modal besar. Kadang ia dimenangkan oleh orang yang bersedia masuk ke waktu yang tidak dimasuki orang lain. Pedagang bensin eceran tidak perlu mengalahkan SPBU. Ia hanya perlu menemukan celah di antara antrean dan orang yang kehabisan sabar.

Planet Tetap Madura

Kenekatan yang tak berurusan dengan sesama manusia bukan berarti menantang orang lain. Ketika pasar, aturan, pendidikan, dan mekanisme negara belum cukup menjangkau kebutuhan sehari-hari, orang Madura tidak selalu berhenti menunggu yang ideal. Mereka mencari celah dari yang tersedia, melampaui  jalur ekonomi yang dianggap wajar. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi lihat Madura sekarang. Di banyak kampung, lorong sudah dipenuhi PCX. Mobil MPV pun semakin biasa. Rumah sudah megah-megahan, bahkan masjid pun ikut-ikutan, seakan-akan Tuhan harus elit sampai-sampai tukang amal kian memadati jalan.

Kesejahteraan material itu tidak lahir dari profesi yang dilindungi negara dan perusahaan, melainkan dari pekerjaan yang, jika diukur dengan ukuran pekerjaan mapan, tidak pernah disebut “aman.”

Jalannya tidak selalu datang dari proyek pemerintah, gelar seksi, modal besar, atau “orang dalam”. Ada yang muncul dari waktu yang diperpanjang, ruang yang dipersempit, dan kebutuhan yang dibaca sebagai kesempatan.

Semua itu mungkin membuat Madura tampak seperti berjalan dengan logikanya sendiri. Bukan karena Madura berada di dunia yang berbeda, melainkan karena kehidupan sehari-hari di sana kadang bergerak dengan ukuran yang tidak selalu menunggu apa yang ramai dibicarakan di Jakarta.

Jakarta bisa sibuk dengan presiden, kebijakan, proyeksi 2045, pindah negara, bahkan membayangkan Indonesia bukan lagi berada di planet Bumi yang penuh gravitasi, melainkan di Konoha, dunia kartun yang penuh animasi. Sementara di Madura, kaki menginjak tanah, resonansi perut dan kenyataan tak bisa diganti animasi atau proyeksi.

Gara-gara tiga pedagang bensin eceran di Pakamban itu, botol-botol di depan saya berubah menjadi teleskop terbalik. Pandangan tidak lagi diarahkan ke pusat-pusat ideal tempat kehidupan seolah harus mengorbit, melainkan ditarik kembali ke bumi: dari tatanan besar yang dibangun manusia kepada individu yang harus berhadapan langsung dengan hidupnya sendiri. Lama mengantre membuat pikiran beralih dari dispenser SPBU ke botol-botol eceran—dan dari situ teringat, psikologi orang Madura bukan soal nekat menerobos orang, melainkan nekat menembus peluang.

Sumber Pustaka/Rujukan

Agamben, Giorgio. 1998. Homo Sacer: Sovereign Power and Bare Life. Diterjemahkan oleh Daniel Heller-Roazen. Stanford: Stanford University Press.

Voegelin, Eric. 1952. The New Science of Politics: An Introduction. Chicago: University of Chicago Press.

Weber, Max. 1930. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Diterjemahkan oleh Talcott Parsons. London: George Allen & Unwin.

Facebook Comment
- Advertisement -