Jumat, April 19, 2024

Proyek Willow: Menuju Kesejahteraan atau Ancaman?

Shiny Isa
Shiny Isa
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga

Proyek Willow adalah program pengeboran minyak terbesar yang dikembangkan oleh perusahaan ConocoPhillips. Mengambil letak pada Reservasi Nasional Minyak Bumi Alaska atau yang disebut dengan Northeast Planning Area of the National Petroleum Reserve in Alaska (NE NPR-A).

Proyek Willow ini telah dirancang sekitar satu dekade hingga akhirnya pada 13 Maret 2023 yang lalu, mendapatkan pernyataan dukungan formal dari administrasi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. Dengan dipublikasikannya keputusan tersebut telah menggemparkan sebagian besar penduduk dunia, khususnya warga Amerika Serikat, dan seluruh aktivis-aktivis yang bergerak dalam bidang advokasi lingkungan dan iklim. Tidak tinggal diam, para aktivis tersebut menyatakan perlawanan mereka terhadap Proyek Willow menggunakan kekuatan media sosial, terutama platform Instagram dan Tiktok.

Berbagai macam konten mengatasnamakan gerakan #StopWillow dan #StopTheWillowProject dibuat dengan sedemikian kreatif dan ilustratif untuk menggambarkan secara spesifik resiko serius Proyek Willow yang akan mengancam nasib bumi apabila dibiarkan terus berlangsung. Petisi untuk menggagalkan proyek ini juga dibentuk dan nampaknya telah membangkitkan kepedulian banyak pihak diseluruh penjuru dunia. Berdasarkan laman Euro News, petisi online yang berjudul “Say No to The Willow Project” telah memperoleh lebih dari tiga juta penandatangan, namun sayangnya segala upaya tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikan keputusan penyetujuan Proyek Willow.

Menjelajahi sejarahnya, Reservasi Nasional Minyak Bumi Alaska ini sebenarnya telah memberikan peran yang besar dalam eksplorasi minyak dan gas sejak tahun 1990. Tanah yang hanya berjarak kurang dari 48 kilometer dari Samudra Arktik ini telah ditata dan dibangun dengan begitu rapi supaya memiliki jalan dan fasilitas transportasi yang nantinya akan melancarkan proses pengeboran minyak.

Kini setelah diresmikan, bagian area seluas 499 hektar akan digunakan sebagai konstruksi jalan yang didalamnya juga meliputi pencanangan saluran pipa, tambang kerikil, bahkan landasan terbang. Menurut pandangan presiden Amerika Serikat, Joe Biden, proyek Willow ini mampu memberikan keuntungan bagi keberlangsungan masyarakat dunia yang sangat ketergantungan pada persediaan minyak sebagai bahan bakar transportasi.

Tentunya dengan kemungkinan produksi minyak sebanyak 576 juta barel yang akan dihasilkan dalam tiga puluh tahun akan membuat Amerika menjadi negara dengan suplai minyak terbanyak dibandingkan perusahaan negara manapun. Terutama ditengah kondisi minyak bumi yang kini kian menipis, Amerika Serikat melihat Proyek Willow mampu menjadi jalan keluar atas urgensi tersebut. Meskipun pada akhirnya keputusan penyetujuan Presiden Biden ini bertolak belakang dengan promosi awal kampanyenya yang memprioritaskan pencegahan perubahan iklim ekstrim.

Menurut laman CNN yang mengutip pada klaim langsung administrasi Biden, Proyek Willow ini diperkirakan akan melepaskan 9,2 juta metrik ton karbon dioksida yang akan sangat mempercepat pemanasan global. Dengan estimasi polusi yang akan diproduksi dalam 30 tahun kedepan, Samudra Arktik diperkirakan akan mengalami pemanasan empat kali lebih parah dibandingkan sebelumnya. Bahaya akan bencana banjir yang masif tentu tidak dapat terhindarkan.

Suhu yang kian menghangat pada Samudra Arktik, akan mengikis gletser sedikit demi sedikit hingga berakibat pada naiknya permukaan air laut. Beberapa kekhawatiran terhadap dilancarkannya Proyek Willow ini juga menyangkut berbagai jenis burung, mamalia, dan ikan yang keberadaannya akan terancam punah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Avian Studies, ekosistem Samudra Arktik ini terdiri atas beberapa spesies langka seperti burung loon berparuh kuning, spesies bebek laut yang disebut spectacled eider, karibu yang sedang bermigrasi, serta beberapa jenis ikan anadrom seperti ikan salmon dan ikan trout.

Kepadatan populasi hewan tersebut dikhawatirkan semakin berkurang karena timbulnya penyimpangan perubahan musim. Akibatnya, keselarasan siklus kehidupan populasi pada ekosistem pun terganggu. Pada 2018, penelitian Avian Studies menunjukkan bahwa musim semi di area Proyek Willow justru memiliki suhu lebih rendah dibandingkan saat musim dingin. Hal tersebut yang menyebabkan spesies burung tidak dapat membangun sarang dan menetaskan telur sesuai pada waktu yang seharusnya.

Terlepas dari kecaman dan kontroversialnya, proyek pengeboran minyak senilai delapan miliar dolar ini nampaknya juga memiliki jumlah pendukung yang cukup banyak. Sebagian besar tokoh politisi Alaska menyerukan tanggapan positifnya terhadap Proyek Willow karena percaya bahwa proyek ini akan menjadi momen signifikan bagi sejarah wilayah Alaska.

Dukungan mengejutkan juga datang dari beberapa komunitas penduduk suku asli Alaska yang menekankan pentingnya Proyek Willow bagi pertumbuhan ekonomi Alaska yang selama ini memang selalu bergantung pada bantuan pemerintah pusat. Asisaun Toovak, walikota Utqiaģvik dalam wawancaranya dengan media BBC menjelaskan bahwa hasil pajak dari Proyek Willow akan menjadi alokasi dana yang sangat menguntungkan bagi pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan publik wilayah lereng utara Alaska.

Bahkan bersamaan dengan pernyataan tersebut, Nagruk Harcharek, presiden dari komunitas Voice of the Arctic Iñupiat, meyakinkan bahwa Proyek Willow adalah proyek yang aman dan akan dilaksanakan secara bertanggung jawab. Pada faktanya, Proyek Willow ini memang sudah dikonsep sejak 2013 dan dipersiapkan dengan begitu matang melalui pengajuan Enviromental Impact Studies (EIS) pada tahun 2018. Perusahaan ConocoPhillips telah jauh memikirkan segala aspek dari Proyek Willow dan dampaknya pada lingkungan. Sehingga berkomitmen untuk senantiasa bertindak sesuai prosedur dan mencegah segala jenis tindakan yang sekiranya mengganggu kesetaraan lingkungan.

‘Iming-iming’ yang ditawarkan oleh Proyek Willow terbukti telah berhasil memikat Amerika Serikat untuk memberikan dukungan penuhnya, bahkan berinvestasi pada proyek tersebut. Ditengah protes dan kritikan masyarakatnya, keputusan bulat Presiden Joe Biden ini tentu didasari atas itikad baik untuk memprioritaskan kepentingan nasional negaranya.

Ditambah dengan desakan kondisi pasca konflik Rusia dan Ukraina yang menyebabkan harga minyak melonjak. Amerika Serikat menyadari betul konsekuensi yang akan dihadapi, oleh karena itu dalam menjalin kesepakatan kerjasamanya, perusahaan ConocoPhillips mengirimkan berbagai ilmuwan dan ahli klimatologi yang bertugas mempelajari seluk beluk area Proyek Willow. Upaya tersebut nampaknya mampu menutupi seruan pihak penentang Proyek Willow.

Gerakan demonstrasi dan petisi nyatanya tetap tidak berdaya untuk menggagalkan keputusan legitimasi pemerintah. Kegiatan pengeboran minyak itu akan terus berjalan sembari membawa keuntungan bagi pendukungnya, sementara resiko ancaman lingkungan yang berkemungkinan besar terjadi masih disimpan sebagai misteri di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka:

ABR Inc. Enviromental Research & Services, 2019. Avian Studies in The Willow Project Area 2018.

Shiny Isa
Shiny Isa
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.