Selasa, Februari 10, 2026

­Penjaga Gerbang Sastra: Mengapa Setiap Kata dalam Ulysses Begitu Berharga?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Terlepas dari apakah seorang pembaca akhirnya akan menikmati atau sekadar menghargai Ulysses (1922), tidak dapat dipungkiri bahwa mahakarya James Joyce ini tetap menjadi subjek yang sangat menarik dalam sejarah sastra dunia. Kekuatan utamanya terletak pada keberanian Joyce untuk mengeksploitasi seluruh potensi yang ada dalam bentuk novel hingga ke titik ekstrem yang paling logis. Joyce tidak sekadar bercerita; ia membedah anatomi bahasa dan kesadaran manusia, lalu menyusunnya kembali dalam sebuah struktur yang megah sekaligus mengintimidasi.

Premis Sederhana di Balik Struktur yang Kompleks

Di balik reputasi gaya bahasanya yang sering dianggap sebagai hutan belantara linguistik, premis cerita yang diusung sebenarnya sangat bersahaja. Novel ini merekam perjalanan dua pria yang menjalani keseharian mereka secara paralel di Dublin pada tanggal 16 Juni 1904. Sosok pertama adalah Stephen Dedalus, seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang merupakan cerminan dari diri Joyce muda—seorang intelektual yang gelisah, angkuh, dan sedang mencari identitas artistiknya. Sosok kedua adalah Leopold Bloom, seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun yang bekerja sebagai agen iklan. Bloom adalah sosok yang lebih matang, namun ia membawa beban keterasingan sebagai seorang Yahudi di tengah masyarakat Katolik Dublin.

Mereka melewati rentang waktu sehari semalam tersebut dengan awalnya saling berpapasan secara tidak sengaja di berbagai sudut kota, hingga akhirnya benar-benar bertemu di penghujung hari. Pertemuan ini menjadi puncak naratif sebelum akhirnya Bloom memutuskan untuk pulang ke rumah dan kembali ke sisi istrinya, Molly Bloom. Dalam merajut narasi besar ini, Joyce secara longgar mengadaptasi kerangka The Odyssey karya Homer. Ia memproyeksikan Bloom sebagai manifestasi Odysseus modern dan Stephen sebagai Telemachus, putra sang pahlawan yang sedang mencari arah hidup. Namun, kontras dengan epik Yunani kuno, konflik yang mereka hadapi jauh dari kesan kepahlawanan fisik tradisional; konflik dalam Ulysses bersifat psikologis, internal, dan domestik yang sangat intim.

Dinamika Konflik: Antara Ambisi dan Kecemasan

Bagi Leopold Bloom, kerumitan harinya dipicu oleh kecemasan eksistensial dan domestik. Ia sadar sepenuhnya bahwa istrinya akan dikunjungi oleh rival seksualnya, Blazes Boylan, ketika ia sedang berada di luar rumah. Kesadaran ini membayangi setiap langkahnya di Dublin, menciptakan lapisan kesedihan yang tenang namun mendalam. Di sisi lain, hari Stephen Dedalus menjadi rumit ketika ia menerima gaji bulanannya. Ia terus-menerus dihadapkan pada godaan yang bisa membuatnya menghamburkan uang secara sia-sia, membuang waktu yang berharga di kedai-kedai minuman, hingga ketakutan akan mengkhianati bakat besar yang ada dalam dirinya.

Karakteristik yang paling mendefinisikan Ulysses adalah variasi gayanya yang sangat kompleks. Bagi banyak pembaca, gaya ini sering kali terasa menciutkan nyali atau bahkan terkesan menutup diri. Joyce bereksperimen dengan berbagai teknik, mulai dari monolog interior yang mengalir bebas (stream of consciousness), parodi gaya penulisan sejarah, hingga bagian yang disusun menyerupai katekismus atau bahkan naskah drama. Bahkan bab-bab yang tampak paling lugas sekalipun tidak serta-merta mudah untuk dicerna pada pembacaan pertama. Hal ini menuntut dedikasi yang nyata serta pembacaan ulang secara berulang kali. Sering kali pembaca memerlukan bantuan eksternal, seperti buku kunci atau serangkaian rekaman ceramah, untuk membedah referensi-referensi Joyce yang sangat luas, mulai dari teologi, filsafat, hingga istilah-istilah lokal Dublin masa itu.

Bahasa sebagai Penjaga Gerbang

Adalah sebuah kemustahilan untuk menelusuri isi buku ini tanpa memberikan perhatian mikroskopis pada setiap kata yang tertulis. Meskipun ada segelintir pembaca yang menyarankan agar membiarkan prosa tersebut mengalir begitu saja tanpa usaha keras, metode semacam itu bagi banyak orang justru akan berujung pada rasa bosan yang instan. Para pemuja setia Ulysses berpendapat bahwa setiap kata dalam novel ini memberikan imbalan intelektual yang setimpal bagi mereka yang bersedia memberikan perhatian penuh. Sistem linguistik yang diciptakan Joyce di dalamnya dianggap mewakili kekayaan dari “kehidupan itu sendiri”.

Mengingat bahwa sebuah novel pada dasarnya adalah sebuah sistem kata-kata di mana setiap unit bahasa secara teori dapat saling terhubung, Joyce memaksa pembaca untuk bergerak secara teliti kata demi kata hingga berbagai hubungan makna yang mungkin muncul akhirnya menetap kuat dalam ingatan. Dengan demikian, tingkat kesulitan yang melekat dalam gaya bahasa Ulysses berfungsi sebagai “penjaga gerbang” yang unik. Ia memikat mereka yang memiliki kapasitas mental untuk menikmati kedalamannya secara utuh, namun secara bersamaan akan menyurutkan langkah mereka yang tidak memiliki ketekunan tersebut.

Membedah Sosok Leopold Bloom: Pahlawan Anti-Epik

Leopold Bloom, sebagai protagonis utama, adalah salah satu karakter paling manusiawi dalam sastra modern. Ia jauh dari citra pahlawan tradisional yang melakukan tindakan-tindakan besar. Alih-alih demikian, ia menghabiskan harinya hanya dengan mengamati dunia di sekitarnya. Salah satu sisi uniknya adalah pengakuannya yang terang-terangan sebagai seorang penonton atau voyeur. Joyce merancang karakter ini dengan penuh nuansa, memberinya banyak cela—seperti kecenderungan seksual yang mungkin dianggap kurang pantas pada zamannya—namun juga memberikan banyak alasan bagi pembaca untuk memaafkannya.

Bloom adalah pria biasa dengan bakat yang terbatas, terutama jika dikontraskan dengan Stephen Dedalus yang merupakan calon jenius sastra. Namun, Bloom memiliki kualitas moral yang tidak dimiliki warga Dublin lainnya. Ia jauh lebih baik hati, rentan, berwawasan luas, dan tabah dalam menghadapi penderitaan pribadinya. Meskipun ia merasa terasing, ia tetap menunjukkan empati yang besar kepada sesama, yang pada akhirnya justru mengangkat derajat moralnya di atas orang-orang yang sering kali meremehkannya.

Stephen Dedalus dan Paradoks Intelektual

Sementara itu, Stephen Dedalus digambarkan sebagai sosok yang berduri dan penuh kesombongan intelektual. Ia mencoba memainkan peran sebagai pemuda pemboros yang gaduh, yang mendorong Bloom di akhir novel untuk mencoba “menyelamatkannya”. Namun, kenyataannya Stephen tampak terlalu sadar diri untuk benar-benar terjerumus sedalam yang diinginkan Joyce untuk kita percayai. Setidaknya saat sedang tidak mabuk, Stephen sangat berhati-hati agar tidak dimanfaatkan atau direndahkan.

- Advertisement -

Pandangannya terhadap diri sendiri sangat muluk; ia bahkan meyakini bahwa penolakannya untuk berdoa di samping tempat tidur ibunya adalah penyebab kematian sang ibu, meski nyatanya sang ibu meninggal karena kanker. Stephen menyadari kurangnya sifat dermawan dalam dirinya, namun ia membungkus kekurangan itu dengan istilah-istilah teologis dan filosofis yang agung. Hubungan antara Bloom dan Stephen menyiratkan sebuah simfoni kebutuhan yang tak terpenuhi: Bloom yang kehilangan putra kandungnya membutuhkan sosok anak untuk dicurahkan kasih sayangnya, dan Stephen yang merasa terasing dari ayahnya sendiri membutuhkan bimbingan. Namun, apakah pertemuan mereka benar-benar menghasilkan ikatan yang permanen tetap menjadi pertanyaan besar bagi pembaca.

Molly Bloom dan Jurang Pemisah Antarmanusia

Sosok Molly Bloom muncul sebagai pusat gravitasi emosional novel ini. Ia terkenal karena kemolekan fisiknya dan kata “ya” yang menutup novel ini dengan ikonik. Kehadirannya dalam narasi terasa jauh; kita hanya melihatnya sekilas di pagi hari dan kembali bertemu dengannya di pengujung cerita melalui monolog interior yang sangat panjang tanpa tanda baca. Sepanjang hari, pikiran Bloom terpaku pada Molly—ia membelikan istrinya hadiah, mengenang momen-momen kebersamaan, serta memandangnya dengan campuran gairah dan kasih sayang.

Namun, di balik semua itu, terdapat kekosongan hubungan yang nyata. Tidak ada bukti autentik bahwa mereka berbagi pemikiran yang dalam atau memiliki keintiman emosional yang sejati pada tingkat intelektual. Molly sering kali terasa seperti objek dari imajinasi dan sentimentalitas Bloom belaka—sosok asing yang menjadi pusat dari kesepian mendalam sang suami. Teknik narasi Joyce yang penuh “kembang api” gaya bahasa justru sering kali terkesan sebagai pengalihan dari absennya eksplorasi krisis hubungan yang nyata di inti plot. Ketika Molly akhirnya berbicara, perspektifnya mengenai kehidupan pernikahan mereka sering kali bertentangan secara material dengan apa yang dipikirkan Bloom. Hal ini menjadikan Ulysses sebuah demonstrasi panjang tentang jurang pemisah yang tak terseberangi antara pria dan wanita.

Kritik terhadap Representasi Wanita

Kritik terhadap monolog Molly juga muncul dalam aspek psikologis. Meskipun dimaksudkan sebagai representasi batin wanita, gaya bahasanya yang cerewet oleh beberapa kritikus dianggap menunjukkan keterbatasan pemahaman Joyce terhadap psikologi wanita yang sesungguhnya. Molly tampak menginternalisasi pembicaraan sebagai cara berpikir, yang mengingatkan pada karakter-karakter cerewet dalam karya Dickens. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan karya sahabatnya, Italo Svevo, dalam Zeno’s Conscience, di mana sosok istri hadir sebagai kecerdasan nyata yang mampu menandingi suaminya, bukan sekadar proyeksi dalam pikiran pria.

Penutup: Ulysses sebagai Dokumen Sosial dan Personal

Sebagai penutup, Joyce berhasil memanfaatkan sepenuhnya potensi novel sebagai sebuah dokumen sosial dan sejarah. Selama sekitar dua puluh jam, Bloom dan Stephen menyusuri Dublin layaknya kamera yang merekam setiap sudut kota, mulai dari detail jarak dekat (close-up) hingga cakupan sudut lebar (wide-angle) yang menyeluruh. Tanggal 16 Juni 1904 dipilih bukan karena peristiwa besar, melainkan sebagai representasi hari biasa dalam kehidupan masyarakat Irlandia.

Lantas, apakah Ulysses merupakan novel yang paling mutakhir? Jawabannya adalah ya. Namun, ia juga menjadi sangat mutakhir karena novel ini sepenuhnya lepas dari objektivitas dan hanya bisa dinilai secara personal oleh tiap-tiap pembaca. Keberhasilan atau kegagalan karya ini sangat bergantung pada selera individu; tidak ada tekanan atau lobi dari pihak mana pun yang mampu mengubah pendirian seseorang jika ia merasa novel ini memang bukan untuknya. Ulysses tetap berdiri tegak sebagai monumen bagi kekuatan bahasa dan kompleksitas jiwa manusia yang tak terbatas.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.