Jumat, Maret 1, 2024

Sastra dan Realisme

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam kesusastraan, realisme adalah aliran sastra yang membicarakan sesuatu seperti apa adanya. Oleh karena itu, realisme merupakan aliran demokratis dalam fiksi karena tidak hanya membicarakan kehidupan sehari-hari  para tokoh kalangan menengah secara rinci, tetapi juga kehidupan kalangan bawah.

William Dean Howells, pelopor aliran realisme di Amerika, menyatakan bahwa realisme merupakan usaha untuk melihat langsung, merasakan, dan berpikir tentang kehidupan. Realisme juga berhubungan langsung dengan kejadian sehari-hari secara alami atau wajar. Mark Twain, Henry James, Stephen Crane, Charles Chestnut, Paul Laurence Dunbar, Hamlin Garland, George Washington Cable, Sarah Orne Jewett, Mary Wilkins Freeman, dan Abraham Cahan adalah nama-nama yang mengisi halaman majalah-majalah pada waktu itu. Tiga figur yang mendominasi fiksi berbentuk prosa pada tiga perempat abad adalah William Dean Howells, Henry James, dan Mark Twain.

Howells merupakan penulis Amerika yang paling berpengaruh pada waktu itu. Dia sangat produktif. Lebih dari 100 buku ditulis dan dipublikasikan selama 60 tahun kariernya. Dia menulis apa saja termasuk novel, biografi, otobiografi, drama, puisi, kritik, dan esei. Sebagai editor dua majalah yang sangat penting, karir Howells berada di atas penulis-penulis lain.

Pada tahun 1860-an sampai tahun 1870-an Howells memegang jabatan sebagai editor majalah yang bergengsi Atlantic Monthly di Boston. Kemudian dia pindah ke New York pada tahun 1880-an menandai bergesernya kekuatan sastra ke metropolis. Selama tiga puluh lima tahun dia selalu dihubungkan dengan Harper’s Monthly, kritik sastra, book review, dan  kritik sosial yang memenuhi halaman Atlantic dan Harper’s.

Pada tahun 1892 Howells menanda tangani perjanjian dengan Ladies Home Journal. Dia memang peka dengan perubahan dan kepentingan zaman. Dalam majalah ini Howells menandai era baru dalam majalah berkala yaitu harga murah dan majalah komersial yang bersirkulasi masal yang sepenuhnya tergantung pada iklan untuk penerbitannya. Sejak saat itu majalah sastra berakhir, dan era baru penerbitan Amerika dimulai. Howells dalam tulisan-tulisannya menawarkan realisme sebagai bentuk sastra yang seharusnya dipakai. Realisme dipakai Howells dalam tulisan-tulisannya yang menjadi khas bentuk fiksi prosa pada pertengahan abad XIX.

Konvensi fiksi roman sebelum perang yang lebih sering merupakan naratif untuk dinikmati dengan menggunakan alegori dan simbol-simbol yang berfokus pada tokoh individual yang istimewa tidak lagi sesuai. Para realis lebih menekankan pada situasi dan tokoh-tokoh yang diambil dari orang-orang biasa dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan dialog dan bahasa Amerika yang ada, dan tidak ada lagi komentar yang sifatnya menggurui. Dalam tataran yang sederhana realisme berpijak pada permukaan kehidupan Amerika, dan perhatiannya pada ketelitian.

Realisme merefleksikan kebangkitan ilmu pengetahuan. Pada akhir abad XIX ilmu sosial merupakan sumber kebenaran empiris, suatu perhatian yang juga termanifestasi di segala bidang dari jurnalisme sampai ke kamera Kodak yang diketemukan pada 1888. Sastra bukanlah seperti foto atau kaca yang merefleksikan apa saja seperti apa adanya.

Seperti halnya tulisan-tulisan imajinatif, karya-karya realisme merupakan produk unik dari sudut pandang individu penulis yang disampaikan dan dibentuk oleh bahasa, konvensi sastra dan tradisi sastra yang diwarisi penulis.

Hal itu tampak dalam karya-karya Howells dan Henry James. Howells tidak hanya mendorong penulis-penulis muda, tetapi juga penulis-penulis regionalis. Dia membantu Hamlin Garland dan Stephen Crane untuk mendapatkan tempat di dunia  sastra di Boston. Dia  juga membaca karya  penulis perempuan, Emily Dickinson, dan tidak ragu-ragu menghargai tulisan penulis-penulis muda. Dengan kepekaannya, dia dengan cepat dapat melihat karya-karya yang berbeda. Howells tanpa lelah mempromosikan sastra realisme Amerika.

Tokoh realisme kedua adalah Twain yang dikenal karena bakatnya sebagai pembicara yang penuh humor. Dia mempunyai kemampuan untuk memindahkan humor panggung ke bentuk tulisan, dan merupakan salah seorang dari sedikit penulis yang mampu membuat hampir semua pembaca tertawa. Dia menguasai gaya bahasa yang humoris.

Adventures of Huckleberry Finn (1885) merupakan acuan  prosa yang memakai bahasa percakapan sehari-hari. Di sini Twain mampu menangkap “the enduring, archetypal, mythic images of America” (citra Amerika yang mistis, pelopor, dan tahan menderita), suatu ide yang mendahului penulis lain. Dia mampu menciptakan tokoh-tokoh yang tak terlupakan oleh pembaca yaitu Colonel Sellers, Tom Sawyer, Huck Finn, Pap, dan Jim. Karya-karyanya  yang sebagian besar berlatar Sungai Mississippi, antara lain, adalah Adventures of Tom Sawyer (1876), Life on the Mississippi (1883) dan Adventures of Huck Finn (1885).

Oleh karena itu, orang Amerika mempunyai mitos yang kuat mengenai kehidupan di Mississippi. Penggunaan dialek tidak semata-mata dipilih untuk mendapat efek realistis dan lucu, tetapi juga merupakan alat yang lentur untuk menyampaikan pesan moral yang serius dan mengungkapkan perasaan yang sangat kompleks.

Demikian juga, penggunaan dialek tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan bahasa dan dialek lokal, tetapi juga ikut menyumbang perkembangan gaya bahasa idiomatik, persis sama dengan ritme bicara khas Amerika yang berbeda dengan gaya bahasa sastra Inggris yang sangat dihargai, terutama pada waktu sebelum meletus perang.

Penggunaan bahasa daerah juga merupakan bagian dari tumbuhnya fiksi Amerika yang membedakannya dari fiksi periode sebelumnya. Suatu kenyataan bahwa Amerika terdiri dari daerah, etnik, dan bangsa yang berbeda-beda, maka sastra nasional yang sejati harus memahami perbedaan itu  dan dapat dipahami oleh semuanya. Novel Twain berjudul Adventures of Huckleberry Finn dianggap  sebagai karya yang sangat bercirikan Amerika.

Tahun 1880-an merupakan puncak aliran realisme di Amerika. Para kritikus sependapat bahwa novel-novel Howells, khususnya yang terbit pada tahun 1880-an dan 1890-an, berhasil dalam penggambaran  truthful treatment. Tidak berbeda dengan Howells, Henry James juga menggambarkan kehidupan dan semangat Amerika dalam karya-karyanya.

Akan tetapi, James melihat dan percaya bahwa seniman sastra tidak hanya semata-semata melihat kaca atau permukaan kehidupan sosial, tetapi juga mencermati jangkauan terdalam yaitu kejiwaan dan moral manusia. Pada saat sastra diterima hanya sebagai hiburan populer, James percaya bahwa fiksi yang terbaik menggambarkan kehidupan sebagai proses yang sangat kompleks.

Henry James sangat memperhatikan penampilan yang indah dan bersih. Dia tidak banyak memberikan komentar yang membedakannya dengan penulis-penulis sebelum perang. Dia juga dengan hati-hati mengontrol penggunaan sudut pandang.

Tidak dipakainya sudut pandang yang serba tahu menunjukkan bahwa Henry James adalah seorang yang bersikap skeptis. Dia melihat bahwa apa yang disebut kebenaran dan moral bersifat subjektif, tergantung pada pengalaman khusus yang mereka alami dan perspektif mereka sebagai hasil dari perbedaan kelas, bangsa, dan jenis kelamin. Dia menunjukkan dalam karya-karyanya bahwa sensibilitas sastra yang sangat baik dapat memuliakan kehidupan dan kesenian.

He is a realist of the inner life; a dramatizer, typically selfless, and free woman, and the older sophisticated, and convention-bound man” (Ia seorang realis sejati, ahli dramatisasi, perempuan yang tidak semaunya sendiri, bersih, canggih, dan sangat patuh dengan konvensi).

Mark Twain, Dean Howells, dan Henry James menggambarkan lanskap, masyarakat, gaya bahasa daerah dan kejiwaan seperti apa adanya dalam karya-karya mereka. Mereka merekam kehidupan pada akhir abad XIX tentang hilangnya frontir, desa, kota kecil, metropolis, dan orang-orang yang tinggal di Amerika. Mereka juga membentuk identitas protagonis Amerika secara jelas, terutama pahlawan daerah, gadis Amerika, dan keluarga menengah Amerika sebagai warga negara yang kompleks secara psikologis karena berkebudayaan internasional.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.