Pengamat Berkata, Jangan Sepakat Saja

Sidik Permana
Sidik Permana
Saya merupakan seorang freelancer, pengajar, dan pembelajar. Hobi menulis. Saya aktif di Komunitas Sekolah Damai Indonesia (Sekodi) Bandung dan Komunitas Narasi Jabar.
- Advertisement -

Tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk “Nadiem: Kriminalisasi atau Korupsi?” yang dirilis di YouTube pada 10 Juli 2026 kembali menghadirkan pengamat politik, Rocky Gerung. Namun, tulisan ini bukan untuk membahas acara tersebut atau otoritas intelektualnya, melainkan membahas respons beberapa orang yang menerima ucapannya begitu saja, bahkan memperlakukannya sebagai sesuatu yang nyaris tak terbantahkan.

Belum lagi survei Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 terhadap 18.564 responden individu yang menunjukkan bahwa sebanyak 30,3% responden belum mampu memastikan kredibilitas sumber informasi di media digital, dan 28,8% belum dapat memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh secara daring. Dalam situasi ketika kemampuan verifikasi belum merata, figur yang populer dan meyakinkan dapat dianggap kredibel dan mudah dijadikan rujukan informasi tanpa pemeriksaan tambahan. Oleh karena itu, kecenderungan menjadikan figur intelektual sebagai rujukan tanpa verifikasi perlu dipersoalkan.

Citra Personal menjadi Otoritas

Dalam The Open Society and Its Enemies, Karl Popper (1962) pernah mengkritik sekelompok otoritas intelektual yang kerap terjebak dalam “pseudo-rationalism”, yaitu sikap yang terlalu percaya pada otoritas, pengalaman, dan kepastian pengetahuan sendiri. Kritik Popper tetap relevan di tengah menguatnya otoritas figur media yang dibingkai sebagai representasi “akal sehat”, misalnya Rocky Gerung. Sosoknya tidak hanya dicitrakan sebagai “oposisi” yang kerap bertolak belakang dengan pemerintah, tetapi juga digambarkan sebagai “keunikan” tersendiri yang mampu memikat publik dengan retorikanya yang anti-mainstream.

Kenyataannya, fenomena di mana masyarakat mengidolakan seorang figur publik berlatar intelektual terus mengalami perkembangan, hingga di tahap yang buruk adalah mati-matian mendukung setiap argumennya walau dinilai keliru oleh akademisi lain. Meminjam perspektif David Giles (2023), dalam The Oxford Handbook of Parasocial Experiences, parasosial dapat dipahami sebagai keterikatan yang bermakna pada tokoh media, meski ada batasan yang tampaknya tak tertembus.

Bila parasosial ini digunakan dalam melihat beberapa kolom komentar di kanal ILC 10 Juli 2026 tersebut, bisa dilihat bagaimana beberapa orang yang mengidolakan dan memuji-muji Rocky Gerung, sekalipun argumennya dipersoalkan oleh banyak pihak. Dalam acara tersebut, dirinya menganalogikan fenomena “ayam berkokok” dan “matahari terbit” untuk menyatakan bahwa korelasi temporal tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat, bahkan analogi tersebut belum dengan sendirinya membantah perkara Nadiem. Mayoritas majelis hakim menilai adanya rangkaian kebijakan dan kepentingan ekonomi telah memenuhi unsur tindak pidana korupsi, sedangkan Hakim Anggota IV, Andi Saputra, menyampaikan pendapat berbeda.

Namun, alih-alih mengkritisi pandangan Rocky Gerung atau narasumber lainnya, sejumlah komentar lebih banyak memuji kecerdasan dan gaya retorikanya, sembari merendahkan komentar lain yang tidak sepemahaman dengannya. Misalnya, ada yang menyebut argumen Rocky Gerung “pintar” hingga analisisnya dianggap “holistik dan kritis”. Ada pula yang menyetarakannya dengan Socrates, tokoh filsafat dari Yunani. Pola komentar tersebut mengindikasikan efek hubungan parasosial, yakni ketika pujian terhadap figur terbentuk melalui paparan berulang sehingga menghasilkan rasa familiar dan kedekatan.

Fenomena tersebut hanyalah sebagian kecil bagaimana beberapa orang mengkultuskan Rocky Gerung. Bahkan, sejumlah komentar membentuk dikotomi antara pihak yang dianggap mewakili “akal sehat” dan pihak yang dinilai belum memahami persoalan. Pelabelan terebut tidak hanya berpotensi menciptakan tekanan sosial, tetapi juga membuat ruang gema bahwa kebenaran hanya ada di tangan intelektual yang banyak diidolakan masyarakat, dan di luar itu hanyalah orang dengan kapasitas intelektual rendah.

Persoalan ini tidak terbatas pada Rocky Gerung saja. Ada pejabat pemerintah, pemuka agama, akademisi populer, dan kreator pengetahuan, yang dapat memperoleh perlakuan serupa ketika loyalitas terhadap personalitas mengalahkan penilaian terhadap gagasannya.

Dalam konteks parasosial, terdapat pola menarik. Pertama, muncul narasi dikotomi di publik antara kubu yang dianggap mewakili “akal sehat” dan pihak yang dinilai kurang memahami persoalan. Kedua, adanya klaim kesamaan posisi kritis terhadap pemerintah dapat mendorong audiens mengidentifikasi dirinya dengan figur tersebut. Ketiga, rasa familiar dapat membangun persepsi kedekatan dan kesepahaman. Keempat, dalam beberapa komentar, penerimaan terhadap figur tersebut membentuk penanda identitas, yakni mereka yang sepaham dianggap kubu “akal sehat” dan lainnya diposisikan sebagai kubu yang “kurang paham”. Mereka kemudian lebih rentan menerima argumen figur tanpa pemeriksaan yang memadai.

Pada titik itulah kritik Popper menjadi relevan, yaitu ketika rasionalitas kehilangan watak kritisnya ketika otoritas pengetahuan seseorang menggantikan kesediaan untuk menguji, membantah, dan mengoreksi gagasannya. Selain itu, kondisi ini memperlihatkan bagaimana efek halo bekerja, di mana masyarakat menunjukkan kekaguman terhadap keberanian, gaya retoris, atau kecerdasan figur, lalu meluas menjadi anggapan bahwa seluruh pendapatnya juga benar.

- Advertisement -

Bagi intelektual tersebut, hubungan parasosial dapat memperkuat otoritasnya karena beberapa orang merasa memiliki kesamaan nilai dan kedekatan, meskipun hubungan itu tidak memberikan timbal balik. Bahkan, beberapa orang menjadikan Rocky Gerung sebagai representasi sikap kritis dan keberaniannya yang kerap kali tidak tersalurkan secara populer, dan itu sah-sah saja. Masalahnya justru muncul ketika identifikasi tersebut membuat beberapa orang menolak menguji argumennya. Kondisi ini justru bertentangan dengan ajakan untuk bersikap kritis yang kerap disampaikan figur tersebut. Kondisi tersebut dapat menyempitkan ruang perdebatan karena kritik terhadap gagasan diperlakukan sebagai serangan terhadap figur dan kelompok pendukungnya.

Ragu itu Tidak Salah

Tidak semua bentuk kepercayaan kepada figur publik itu buruk. Kenyataannya, daya kritis mereka bisa menjadi jembatan bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi suatu isu dan persoalan, misalnya terhadap kasus Chromebook yang melibatkan Nadiem Makarim. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa bentuk kepercayaan tanpa diiringi dengan kontrol diri dan kemampuan kritis berpotensi membuat seseorang jatuh pada favoritisme buta dan melegitimasi otoritasnya secara berlebihan.

Makanya, sebelum menerima pendapat seorang figur, publik perlu mengukurnya melalui wilayah kompetensinya, bukti yang mendukung pernyataannya, dan validitas argumennya bila bukan figur publik yang mengatakannya.

Maka dari itu, masyarakat perlu menempatkan seorang intelektual sebagai sosok yang mungkin keliru, dan itu bukanlah upaya merendahkan kredibilitasnya. Sikap itu justru mempertahankan gagasannya sebagai arena intelektual, bukan dogmatis. Hal yang perlu dicatat adalah mengagumi seorang intelektual bukan kesalahan, namun akan menjadi kesalahan ketika kekaguman membebaskannya dari tanggung jawab intelektual untuk memverifikasi setiap ucapannya.

Sidik Permana
Sidik Permana
Saya merupakan seorang freelancer, pengajar, dan pembelajar. Hobi menulis. Saya aktif di Komunitas Sekolah Damai Indonesia (Sekodi) Bandung dan Komunitas Narasi Jabar.
Facebook Comment
- Advertisement -