Jumat, April 23, 2021

Menghidupkan Spirit Lebaran

Mewaspadai Gerakan (Politik) Eks HTI

Media belakangan masih fokus pada pendiskusian tentang PKI yang santer menjadi bahasan publik. Pasalnya, isu tersebut menjadi sangat kontroversi karena masih belum tuntasnya pengungkapan...

Generasi Muda dan Tantangan Dunia Politik

Setiap kita mengamati berita dari apapun medianya, politik pasti tidak luput dari pemberitaan, di tiap media berita yang kita tonton. Tiap hari, jam, bahkan...

Cloud Computing dan Kesiapan Infrastruktur Telekomunikasi

Beberapa dasawarsa terakhir, teknologi informasi berkembang sedemikian cepat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan tersebut didasari oleh semakin tingginya mobilitas manusia sehingga membutuhkan akses informasi...

Ilusi Identitas Cebong dan Kampret

Bagaimana masa depan identitas “cebong” dan “kampret” setelah KPU merilis pengumuman secara resmi bulan Mei mendatang? Apakah keduanya hilang begitu saja, atau sebaliknya, akan...
sigitpriatmoko
Dosen Prodi PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Anggota Departemen Riset dan Kajian Lakpesdam PCNU Lamongan, Ketua komunitas menulis KBM Bojonegoro, Anggota FLP Lamongan, kontributor www.kampusdesa.or.id

Sebagaimana hari-hari besar Islam lainnya, Idul Fitri juga mengalami pendistorsian makna. Spirit agung yang dibawanya banyak dilupakan umat Islam. Akibatnya, lebaran hanyalah seremonial belaka.

Kedatangan lebaran selalu kita sambut dengan gegap gempita. Bahkan jauh-jauh hari persiapan untuk menyambutnya sudah dimulai. Biasanya di separuh bulan Ramadan atau bahkan sebelumnya.

Puncaknya, pada pagi hari tanggal 1 Syawal, umat Islam tumpah ruah di jalan, masjid, musala, lapangan, rumah sanak keluarga dan tetangga. Semua bersuka cita. Semua menjalankan tradisi yang hanya dilakukan setahun sekali. Kontradiksi dan distorsi ini menyebabkan spirit lebaran tak lagi hadir di tengah-tengah kaum muslimin

Sebagai sebuah tradisi, lebaran terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Meski muatan dan spirit yang dibawanya tetap sama, namun dalam tataran praktiknya, lebaran telah banyak mengalami kontradiksi hingga distorsi.

Kontradiksi dan distorsi ini menyebabkan spirit lebaran tak lagi hadir di tengah-tengah kaum muslimin. Jikapun hadir, ia hanya temporal dan seremonial belaka.

Di antara spirit lebaran adalah mengajak umat Islam menjadi pribadi yang sadar diri dan besar hati. Di antara spirit lebaran adalah mengajak umat Islam menjadi pribadi yang sadar diri dan besar hati.

Keduanya merupakan deretan kunci agar umat Islam mampu mencapai goal dari puasa yang telah mereka jalankan selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Goal itu adalah takwa. Sehingga kita benar-benar menjadi pribadi yang fitri (suci).

Lebaran mengajak umat Islam untuk menyadari siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Inilah mengapa ada tradisi mudik pada saat lebaran. Umat Islam (khususnya di Indonesia) diajak untuk kembali menyadari sangkan paraning dumadi-nya. Bahwa kehadirannya di dunia ini berasal dari kedua orangtua yang mendapatkan amanah dari Tuhan.

Maka, pulang ke kampung halaman untuk sungkem kepada kedua orangtua dan sanak keluarga tidaklah sebatas meminta maaf atas segala kesalahan. Tetapi merupakan sarana agar umat Islam menyadari bahwa ia berasal dari Tuhan dan hanya akan kembali kepada-Nya.

Lebaran juga mengajak umat Islam untuk menjadi pribadi yang memiliki kebesaran hati, yaitu yang mampu kadzimin al-ghaida wal afiina an al-nas (menahan amarah dan memaafkan kepada sesama). Sikap besar hati atau lapang dada merupakan sikap terpuji yang kian meluruh dari kita.

Semakin hari, kita semakin sulit menahan amarah. Apalagi memaafkan dan meminta maaf. Seperti kita lihat akhir-akhir ini, terutama menjelang dan pasca kontestasi pemilu. Pertikaian di antara kita kian meruncing saja.

Setiap lebaran kita disibukkan dengan berbagai hal yang berbau ‘kulit’ saja. Kita lupa pada hal-hal yang esensi. Namun sungguh disayangkan, spirit agung dari lebaran ini belum menjadi fokus utama kita. Setiap lebaran kita disibukkan dengan berbagai hal yang berbau ‘kulit’ saja. Kita lupa pada hal-hal yang esensi.

Kita sibuk menyiapkan busana baru, sajian kue kering dan kawan-kawannya, makanan, pokoknya apa saja supaya kita terlihat ‘wah’ dan bahagia. Lebaran menjadi semacam panggung drama.

Selepas berhalal bi halal pun, bibir kembali disibukkan dengan ghibah, fitnah, dan mengujarkan kebencian. Tabiat sebelum dan sesudah Ramadan sama sekali tak ada beda. Bahkan lebih buruk lagi. Inilah akibat dari perlakuan kita pada lebaran. Ia hanya kita maknai sebagai ritual seremonial belaka. Tanpa ada kemauan menggali hikmah di dalamnya. Tanpa mau menghidupkan spirit agung yang diusungnya.

Malang, 10 Juni 2019

sigitpriatmoko
Dosen Prodi PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Anggota Departemen Riset dan Kajian Lakpesdam PCNU Lamongan, Ketua komunitas menulis KBM Bojonegoro, Anggota FLP Lamongan, kontributor www.kampusdesa.or.id
Berita sebelumnyaPemberian dan Lebaran
Berita berikutnyaMenghargai Perokok Pasif
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.