Selasa, Mei 18, 2021

Menanti Pemimpin Idaman

Menyoal Kartelisasi Oligarki Pasca Orde Baru

Kolapsnya rezim Soeharto menjadi babak baru bagi oligarki. Sebelum reformasi, Soeharto merupakan sosok oligark dengan kekuatan politik dan kekayaan material yang terkonsentrasi bak sultan....

Apakah Golput Artinya Menjadi Cuek kepada Politik?

"Apa yang dimaksudnya dengan politik?", itulah pertanyaan yang terbesit dalam benak saya ketika membaca opini Herlina Butar-Butar tentang golputers. Terlihat bahwa terdapat penyempitan makna...

Papua dan Krisis Nilai-Nilai Keberagaman Bangsa

Menanggapi peristiwa Dinoyo 1 Juli 2018 lalu, mahasiswa Papua yang diusir dan mengakibatkan bentrok antara warga Dinoyo, Malang dengan mahasiswa Papua, banyak media memberikan...

Menjernihkan Kembali Kebebasan Berpendapat di Indonesia

Menjelang akhir bulan oktober 2020, Lembaga survei indikator politik telah mengeluarkan hasil penelitian terkait indeks demokrasi dan kebebasan berpendapat masyarakat selama satu tahun periode...
Hasnah Harahap
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta

Setiap negara pasti membutuhkan sosok pemimpin untuk menjaga keutuhan bangsanya. Sosok yang mencintai dan mengayomi rakyat. Sosok yang dicintai dan dihormati oleh rakyat. Namun, kenyataannya ada pemimpin negara diperlakukan tidak baik. Mereka kerap kali mendapat cemoohan publik khususnya di dunia maya.

Pemimpin sejatinya bisa merasakan penderitaan rakyat dan mampu meringankannya. Penderitaan tersebut seringkali diabaikan oleh pemimpin negara. Penanganan masalah yang tidak tepat juga menjadi penyebab penderitaan tersebut terus berlanjut hingga sekarang.

Sebut saja masalah harga yang terus melambung, menyebabkan kenaikan harga bahan-bahan pokok. Rakyat yang menerima upah mungkin masih bisa mengatasi ini, tetapi tidak bagi rakyat yang tidak berpengahsilan tetap. Hal ini tentu mempersulit kehidupan rakyat.

Sebagain keluarga harus mengurangi porsi makan mereka. Konsumsi makanan sehat pun menurun. Sehingga muncul ungkapan-ungkapan, “ bisa makan hari ini saja syukur”. Bagaimana rakyat akan sejahtera bila kebutuhan utamanya saja tidak terpenuhi?

Tidak perlu program kerja yang hebat dalam suatu kepemimpinan. Pemimpin negara seharusnya dapat memastikan rakyat dapat memenuhi kebutuhan primernya terlebih dahulu. Kebutuhan akan pangan, sandang dan papannya. Jika kebutuhan primer tersebut terpenuhi rakyat dapat hidup sejahtera.

Program pembangunan yang luar biasa memang dapat dibanggakan. Akan tetapi apa perlu dibanggakan jika masih banyak rakyat yang makan dengan mengais sampah, berpakaian compang-camping, rumah beralaskan tanah dan beratap kardus? Pikiran mereka tidak dapat lebih jauh dari hari esok. Setiap harinya menjadi perjuangan bagi mereka.

Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2018 sebanyak 25,67 juta orang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah tersebut menurun dari Maret 2018 yang berjumlah 25,95 juta orang. Sehingga persentase kemiskinan pada Maret 2018 adalah 9,82 persen. Penurunan tersebut patut diacungin jempol.

Jika kita hanya melihat dari sisi persentasenya, kita akan lega karena orang miskin di Indonesia berkurang. Namun, bagaimana nasib 25,67 juta orang miskin yang tersisisa? Sepertinya kita belum bisa bernapas lega karena masih banyak orang kelaparan, kedinginan di luar sana. Menunggu uluran tangan setiap orang. Berharap akan kehidupan yang lebih baik.

Kesejahteraan rakyat tidak sepenuhnya tanggungjawab pemimpin. Tapi melalui tangan pemimpin apapun menjadi mungkin untuk rakyat. Keputusan untuk menjalankan perintah ada di tangan pemimpin. Dalam pemerintahan demokrasi rakyat disebut sebagai patokan membuat keputusan. Pemerintahan berjalan atas kehendak rakyat. Akan tetapi, rakyat tidak sepenuhnya berhak karena ada sistem yang dijalankan oleh pemimpin pemerintahan.

Negara makmur di dunia memiliki ciri khas masing-masing. Mereka menjadi negara makmur dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia. Qatar negara Timur Tengah yang kaya melalui minyak. Luksemburg salah satu negara di Eropa penghasil manufaktur berbahan dasar baja dan kimia. Singapura negara dengan luas wilayah yang kecil jika dibanding Indonesia menjadi pusat komersial dan transportasi di Asia.

Indonesia negara kepulauan yang terdiri dari lima pulau besar dan ribuan pulau kecil tentunya berpeluang menjadi negara makmur. Lautan luas dipenuhi kekayaan alam bawah laut yang melimpah. Daratan subur yang membentang dari sabang hingga merauke, tanah surga katanya. Kalau kita hidup di tanah surga seharusnya kita makmur dan sejahtera.

Kelaparan masih merajalela padahal hasil bumi dan laut berlimpah ruah. Tunawisma berserak di emper jalan padahal tanah tersaji di alam. Anak-anak kurang mampu tak memperoleh pendidikan. Kebutuhan primer rakyat kecil tidak terpenuhi. Ketimpangan sosial yang besar antara si kaya dan si miskin.

Demi mewujudkan negara makmur dibutuhkan pemimpin idaman. Pimpinan bertekad baja dan berhati lembut. Memahami penderitaan rakyat sehingga ia merasakan kepedihan rakyat itu sendiri. Pemimpin yang tidak membiarkan rakyatnya kelaparan. Pemimpin yang sadar akan fungsinya dalam negara. Bukan pemimpin yang haus akan kekuasaan dan pujian. Seorang pemimpin yang senantiasa memikirkan rakyat. Bukan pemimpin yang memikirkan diri sendiri dan koleganya.

Sebuah negara dapat disebut sebuah keluarga. Di dalamnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Pemimpin hadir sebagai ayah, Wakil Pemimpin hadir sebagai Ibu, dan anak sebagai rakyat. Dalam sebuah keluarga kita harus menjalankan kewajiban masing-masing. Bahu membahu dalam kehidupan keluarga. Begitulah juga seharusnya sebuha negara berjalan. Menjalankan fungsi masing-masing demi keharmonisan hidup bersama.

Pemimpin bertindak seperti ayah yang gagah berani dan tak kenal takut bagai Soekarno. Wakil pemimpin yang lembut dan rendah hati bagai Gusdur. Negara akan tumbuh dalam keluarga yang kuat. Bukan berharap tidak akan ada masalah dalam keluarga. Namun berusaha menyelesaikan masalah bersama-sama. Ayah seperti Soekarno akan memberi kekuatan untuk terus berjuang. Kelembutan Ibu seperti Gusdur menjadikan anaknya kerendahan hati. Memimpin dengan hati. Memimpin dengan jiwa. Memimpin dengan raga.

Jika pemimpin negara bertindak layaknya pemimpin keluarga maka mungkin saja negara hidup damai. Semua kalangan rakyat merasa aman tinggal dalam negaranya sendiri. Rakyat tidak perlu takut tidak makan hari ini karena mereka memiliki pemimpin seperti ayah. Rakyat tidak perlu takut karena memiliki wakil pemimpin seperti ibu. Rakyat akan takut tinggal jika ayah atau ibu meninggalkan keluarga.

Pemimpin hadir di depan rakyat bukan sebagai dirinya namun sebagai ayah dari rakyatnya. Layaknya seorang ayah, ayah selalu membimbing keluarganya ke jalan yang benar. Rela berkorban siang dan malam demi anaknya. Rela tidak makan asalkan keluarganya kenyang. Secara sistem pemimpin berada  di atas rakyat. Namun, bukankah kita perlu saling merangkul untuk membentuk keluarga atau negara yang harmonis?

Hasnah Harahap
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.