Jumat, Juli 19, 2024

Membantah Tuduhan UIN Jakarta Sesat

Dedi Irawan
Dedi Irawan
Founder @memahami.buku | Staf Program Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (INDEKS) | Find me on IG dan Email: @wilfrededida dediirawan.dr@gmail.com

Saya mendengar cerita dari beberapa teman saya, yang dilarang keras oleh orang tua dan gurunya untuk berkuliah di UIN Jakarta. Kebanyakan dari mereka, memiliki guru dan orang tua yang tak pernah berkuliah di UIN Jakarta itu sendiri. Pun demikian, saya tanyakan, “mengapa dilarang?”

Sebagian mereka menjawab, dikarenakan takut terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran liberal atau pemikiran yang tak memiliki batas itu. Awalnya saya menganggap tuduhan ini biasa saja, dan sebagai angin lewat saja. Tetapi, terlalu sering tuduhan keji, dan bersifat general itu diarahkan kepada almamater saya. Tuduhan itu seringkali dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku pemuda hijrah yang tidak pernah mondok, dan mengklaim dirinya yang paling benar karena merasa paling mengetahui ajaran al-Qur’an dan Sunnah.

Kesedihan saya dalam hal ini, betapa mudahnya oknum-oknum tersebut menuduh tanpa mencari tahu kepada alumninya atau mahasiswa UIN Jakarta itu sendiri. Bahkan saya ingat sekali, ketika saya baru memasuki semester 3, guru sekolah sewaktu saya SMK berkata, “Hati-hati dengan orang yang namanya Azyumardi Azra, dia itu berhaya pemikirannya”.

Saya sedih kemudian terdiam sejenak, bagaimana mungkin seorang seperti Azyumardi Azra itu orang yang berbahaya? Selama saya di UIN, dan selama beliau hidup, beliau orang yang baik, dan tak mudah menyalahkan orang lain, tidak merasa paling benar, baik di dalam forum maupun di luar forum. Bahkan semasa hidupnya, Prof. Edi (panggilan akrabnya), seringkali membantu memberikan saran, dan membela kaum-kaum minoritas. Rekam jejak beliau banyak tersebar di internet dan dapat Anda nilai sendiri bagaimana Prof. Edi yang dituduh berbahaya itu.

Tuduhan tersebut semakin lebih intens, apalagi fenomena baru-baru ini tentang Pesantren Al-Zaytun yang dikatakan sesat itu. Kok, malah tuduhan sesat tersebut malah diarahkan ke UIN Jakarta hanya dikarenakan Panji Gumilang, dan Helmi Hidayat alumni UIN Jakarta?

Dari ratusan ribu alumni UIN, dan hanya segelintir saja orang yang melakukan penyimpangan (menurut masyarakat), kok bisa-bisanya menyimpulkan UIN Jakarta sesat, UIN Jakarta liberal, UIN Jakarta radikal, atau istilah-istilah lain yang menyakitkan. Ini adalah cara berfikir yang salah dan justru dapat menyesatkan.

Sebelum menjawab tuduhan-tuduhan lemah itu, saya akan sedikit menyinggung akar liberalisme dalam tubuh UIN Jakarta itu sendiri, yang sering menjadi landasan dalam menyerang UIN Jakarta. Harun Nasution merupakan sosok penting dalam keterbukaan (liberalisme) UIN Jakarta. Harun memperkenalkan gagasan “Islam Rasional”, sebetulnya sudah sejak lama ada dalam dunia Islam yang dikenal dengan istilah mu’tazilah. Namun baru diperkenalkan di Indonesia baru-baru ini saja, terutama pada masa Harun menjadi rektor.

Pada masa Harun Nasution menjadi rektor IAIN (UIN) Jakarta (1973-1984), itulah awal mula UIN dianggap sebagai sarangnya liberalisme di Indonesia. Penyebabnya ia diberikan label itu adalah memperkenalkan kebebasan berfikir, dan pemikiran-pemikiran barat kepada mahasiswanya. Intinya, Harun ingin menunjukkan bahwa perguruan tinggi itu bukan seperti majelis taklim, yang hanya mendengarkan pengajar saja. Namun, dalam perguruan tinggi harus memiliki tradisi intelektual yang kuat dan kritis.

Sehingga sebagai mahasiswa UIN, kita sekali menemukan keragaman dan perbedaan. Menurut saya pribadi biasa saja, sama sekali tak menganggu keyakinan saya. Justru, kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan itu.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan bagi manusia secara umum, dan termasuk bagi masyarakat kampus (campus society). Perbedaan dalam dunia kampus memberikan kesempatan untuk pertumbuhan individu seseorang. Ketika seseorang berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, mereka dapat memperluas sudut pandang tentang dunia yang berbeda. Perbedaan memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar dari pengalaman orang lain, dan secara tidak langsung mengasah kita untuk berfikir kritis.

Selain itu, perbedaan memberi ruang bagi kreativitas dan inovasi karena perbedaan pandangan menghasilkan beragamnya solusi untuk pemecahan suatu masalah yang bisa saja kompleks, namun menjadi lebih mudah ketika dipikirkan bersama. Sebab, karena keberagaman kita memberikan perspektif yang kaya dan universal.

Lalu, masih ada yang menuduh UIN dengan tuduhan yang negatif. Dikarenakan landasan yang nihil, menggunakan sedikit saja sample beberapa alumninya seperti Lia Eden, Panji Gumilang, Helmi Hidayat, yang melakukan sesuatu yang dianggap berbeda dari yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Namun kita seringkali melupakan alumni-alumni lain yang berjasa bagi kehidupan bangsa, masyarakat, dan agama.

Mari saya ingatkan lagi beberapa alumni UIN yang cukup penting. Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang dikenal sebagai pembaharu pemikiran Islam modern, walaupun tetap saja Cak Nur ini masih dituduh sebagai orang liberal.

Saya pun bingung, dimana letak liberalnya Cak Nur? Dari kesaksian teman-temannya, dan murid-muridnya, Cak Nur adalah sosok yang tak pernah meninggalkan Syariat yang telah dianjurkan agamanya, seperti yang tertera dalam rukun Islam. Cak Nur juga berteman baik dengan beberapa tokoh bangsa, seperti Abdurrahman Wahid (NU), dan Buya Syafi’i Maarif (Muhammadiyah).

Selain itu ada; K.H. Zainuddin MZ (Dai Sejuta Umat), K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi pernah memimpin Pondok Pesantren Modern Gontor, Din Syamsuddin pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal), Habib Hussein Ja’far (Pendakwah), Oki Setiana Dewi (Pendakwah), dan masih banyak lagi.

Pada catatan terakhir ini, saya menekankan perlunya pengetahuan tentang dunia kampus. Dalam lingkungan UIN Jakarta, keberagaman adalah hal yang biasa. Apalagi berbedanya pendapat, dan penafsiran terkait suatu disiplin keilmuan. Keberagaman tafsiran itulah yang dapat membuat seseorang keluar dari sesuatu yang normal menjadi sesuatu yang berbeda.

Lagi-lagi, kampus hanya memfasilitasi forum-forum akademik yang kritis, bebas, dan analisis. Kalau ada yang kita tidak suka, atau kita anggap itu menyimpang, bukan salah kampusnya, namun terletak pada dirinya sendiri yang diberi kehendak bebas untuk memilih. Bukan kampus namanya, kalau hanya ada satu golongan dan satu pemikiran saja yang dianggap benar.

Dedi Irawan
Dedi Irawan
Founder @memahami.buku | Staf Program Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (INDEKS) | Find me on IG dan Email: @wilfrededida dediirawan.dr@gmail.com
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.