Senin, Mei 17, 2021

Keteledoran dan Duka Asian Para Games

Halal Bihalal, Setelah Ketupat dan Idul Fitri

Umat Islam Indonesia sedang merayakan Idul Fitri 1440 H. Hari Raya ini sangat lekat dengan tradisi ketupat dan halal bihalal. Konon, ketupat untuk pertama...

Pikiran dan Zaman yang Melampaui Tuhan

Pikiran selalu mengundang perdebatan dalam pikiran saya, maupun ketika dibicarakan dengan teman-teman saya. Pikiran itu merupakan sesuatu yang semimistik, pasalnya pikiran ini tidak bisa...

“OTT” KPK Dan Efek Kesadaran Pendisiplinan Penjara Panopticon

 Praktik suap begitu marak dilakukan oleh pejabat publik di tingkat daerah ataupun di tingkat nasional. Praktik suap memang menjadi cara yang populer dikalangan pejabat...

ASN Bukanlah Dewa

Perhelatan akbar bertajuk penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun 2020 akan segera di gelar. Sebelumnya, di penghujung  tahun 2019 BKN telah membuka secara resmi...
ulfa nur habibah
aktivis perempuan, S1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. yang muda biarkan mereka berkarya dengan merdeka

Di penghujung tahun 2018 ini, Indonesia menjadi tuan rumah dua ajang olahraga terbesar di Asia, yaitu Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018. Meninggalkan kemeriahan yang tercipta dari ajang olah raga Asian Games yang luar biasa dan memukau seluruh negara, membuat Indonesia banjir pujian.

Ada yang menjadi sorotan publik, atlet Asian Para Games terpaksa gagal melanjutkan pertandingan karena terkendala sanksi administrasi. atlet putri blind judo, Miftahul Jannah dan Tim atlet renang Indonesia di nomor estafet 4 x 100 meter putra, Terpaksa harus gagal meraih impian menyumbang mendali untuk Indonesia.

Kejadian yang terjadi pada Miftahul Jannah bermula ketika Miftahul Jannah dijadwalkan turun di kelas 52 kg putri blind judo dan akan menghadapi wakil Mongolia, Gantulga Oyun. menjelang dimulainya pertandingan, Miftahul Jannah dilarang tampil menggunakan jilbab. Dia harus melepas jilbab sesuai aturan dari Federasi Judo Internasional (IJF). Pada saat itu Miftahul Jannah tetap kekeh dengan prinsipnya dia untuk menggunakan jilbab sehingga didiskualifikasi dari pertandingan.

Hal semacam itu seharusnya tidak terjadi, mengingat regulasi yang di buat oleh Federasi Judo Internasional (IJF) telah melarang setiap atlet untuk tidak menggunakan penutup kepala untuk alasan keselamatan. Lantas mengapa kelalaian semacam itu bisa di lakukan?

Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia telah meminta maaf soal insiden yang menimpa Miftahul jannah, dirinya menjelaskan bahwa kejadian ini murni kesalahan dari pihak management dan juga pelatih yang tidak bisa memahami regulasi yang dibuat.

Bagaimana mungkin kelalaian itu bisa terjadi, peran pelatih dan management menjadi penting untuk proses pemenangan atlet, regulasi seharusnya sudah tuntas sebelum memasuki ranah teknis. NPC menyatakan bahwa ketidak lancaran pelatih dalam berbahasa inggris juga menjadi sebuah penyebab hal tersebut.

Dalam hal ini sangat di sayangkan karena terkesan tidak ada kesiapan yang matang untuk ajang kali ini. sungguh di sayangkan bagaimana seorang pelatih yang berbaur dengan banyak negara tidak cakap berbahasa inggris, sehingga merugikan dan sangat fatal.

Tragedi serupa juga di alami Tim Atlet renang Indonesia di nomor estafet 4 x 100 meter putra, berbeda dengan Miftahul jannah. Tim Atlet renang gagal untuk mengikuti pertandingan karena Tim Indonesia terlambat saat hendak mendaftar ulang, salah satu pelatih menuturkan keterlambatan tersebut di tengarai karena sedang mengurusi atlet lainnya yang belum juga daftar.

Kecelakaan teknis semacam ini harusnya tidak terjadi pasalnya ini merupakan ajang olahraga besar, seyogyanya sudah ada persiapan yang matang mulai dari kesiapan atlet sendiri dan juga kesiapan team. Mengingat anggaran yang di gelontorkan tidak sedikit sangat disayangkan adanya kekurangan pada team indonesia.

Dari kedua tragedi, memberikan sebuah kesimpulan adanya ketidaksiapan dari manajemen cabang olahraga tersebut untuk bertanding, tidak ada maksimalisasi yang dilakukan. Dengan seperti itu akhirnya mental atlet tak lagi bisa terkontrol, ambisi untuk bisa mengharumkan bangsa telah pupus sebelum bertanding.

Melihat kehebohan dan antusiasme masyarakat pada perlombaan di Asian Games beberapa waktu lalu, sedikit kontra dengan situasi yang saat ini terjadi. Banyak kursi kosong pada pertandingan Cabor sehingga ada beberapa Cabor yang menggratiskan tiket masuk. Sangat berbeda dengan kemeriahan yang terjadi pada Asian Games yang mana semua Cabor penuh dengan suara teriakan pendukung masing-masing negara, hal ini menjadi suntikan semangat untuk para atlet dan juga bukti penghargaan untuk kerja keras yang telah mereka lakukan. Adanya “pembedaan” sungguh di sayangkan.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan

Ini merupakan pelajaran yang tidak boleh terulang kembali, manajemen harus bersikap profesional dan mempersiapkan semua hal teknis maupun non-teknis sehingga tidak terulang kejadian yang “membuat malu” Indonesia.

Team dan juga pelatih merupakan orang yang sudah profesional di bidangnya. Kemampuan dan kecakapan pelatih dalam berbahasa maupun berkomunikasi dengan pihak eksternal perlu menjadi sorotan, terkesan konyol jika penyebab adanya kesalahan tersebut karena ketidak pahaman memahami regulasi dikarenakan kendala bahasa, antisipasi dengan adanya team yang bertugas untuk mentraslate jika memang tidak mampu.

Management team juga di perlukan agar tragedi keterlambatan pendaftaran dan lain sebagainya tidak terulang kembali. Ini bukan hanya pertandingan Olahraga tapi juga pertarungan bangsa. Bagaimana mungkin ketidaksiapan dan kekurangan team untuk menangani pendaftaran bisa terjadi.

Yang harus dilakukan adalah bagaimana mengelola team dan melihat posisi apa yang harus ditambah dan harus dikuatkan. Peran pemerintah juga mejadi penting untuk memantau kesiapan perlombaan kali ini, adanya teguran jika memang terjadi kelalaian dan kecerobohan yang tidak masuk akal

Kejadian kursi kosong sangat disayangkan, atlet Indonesia tengah berjuang mengharumkan nama bangsa, sudah seharusnya kita memberikan dukungan kepada mereka.

Dan tidak ada diskriminasi, dengan banyaknya semangat akan membuat mereka bersemangat untuk menang, sebagai bangsa besar penting kiranya menumbuhkan rasa saling menghargai, “diskriminasi” semacam ini sudah sepatutnya tidak terjadi, disini kita sama-sama saling berjuang untuk mengharumkan nama bangsa, dan sudah sewajarnya kolaborasi antar masyarakat diperlukan akan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat.

ulfa nur habibah
aktivis perempuan, S1 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. yang muda biarkan mereka berkarya dengan merdeka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.