Rabu, Januari 14, 2026

Jangan Sekali-kali Melupakan Tan Malaka

M Affian Nasser
M Affian Nasser
Warga Sipil, Pembelajar Sepanjang Hayat
- Advertisement -

Mendengar nama Tan Malaka mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat hari ini. Namanya memang nyaris tak sepopuler tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Jenderal Soedirman, atau Sutan Sjahrir, yang tercatat dalam berbagai narasi resmi buku sejarah. Padahal, Tan Malaka dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia” dan merupakan tokoh yang berani menggagas kemerdekaan “100 persen”. Ketika yang lain masih meraba-raba konsep negara, Tan Malaka telah sigap merancang Naar de Republiek Indonesia!

Tan Malaka bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah pemikir revolusioner sekaligus pejuang gerilya kemerdekaan. Ia bukan hanya konseptor, tetapi juga terlibat dalam perjuangan di berbagai sektor. Namun, mengapa nama sebesar Tan Malaka justru seolah dilupakan? Mengapa namanya nyaris tak tercatat dalam buku pelajaran sejarah di sekolah?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal fakta sejarah, melainkan menyangkut ingatan kolektif bangsa: bagaimana seharusnya narasi sejarah disusun dan diwariskan. Sudah lama kita mewarisi sejarah yang timpang. Selama ini, kita diajarkan untuk memuja pahlawan dalam citra yang aman versi negara, tanpa pernah diberi ruang untuk membaca Tan Malaka secara utuh. Namanya nyaris absen dalam kisah-kisah heroik para pejuang, padahal warisan pemikiran dan keberaniannya layak disandingkan dengan tokoh-tokoh besar dunia. Betapa ironis, tokoh sebesar Tan Malaka justru tercabut dari akar narasi sejarah resmi bangsa ini.

Pascakemerdekaan, membaca ide-ide Tan Malaka sering kali dianggap berbahaya oleh penguasa. Pemikirannya terlalu bebas untuk dijinakkan dan terlalu maju untuk zamannya. Hingga hari ini, nyaris tak ada tokoh bangsa yang mampu menandingi kecanggihan gagasan Tan Malaka.

Dalam berbagai karya monumentalnya, Tan Malaka berbicara tentang fondasi berpikir rasional, kemerdekaan sejati tanpa penindasan, pendidikan bagi kaum tertindas, serta keadilan sosial bagi rakyat kecil—buruh dan petani—sebagai dasar utama negara merdeka. Gagasan-gagasannya menjadi pemantik semangat perjuangan dan perlawanan, sekaligus senjata yang menakutkan bagi para penguasa karena mengancam kenyamanan mereka di atas singgasana kekuasaan. Tan Malaka tidak hanya memberi keberanian, tetapi juga arah berpikir.

Sebagai pemikir revolusioner, Tan Malaka tidak hanya berjuang melawan kolonialisme di medan fisik, tetapi juga di medan intelektual. Ia meyakini bahwa perjuangan yang keras membutuhkan pengetahuan. Tanpa pengetahuan yang memadai, tidak akan lahir perjuangan yang memadai pula.

Dalam jagat intelektual Indonesia, nama Tan Malaka kerap muncul sebagai api yang menyalakan kesadaran bangsa. Di tengah kompleksitas problem kebangsaan hari ini, membaca pemikiran Tan Malaka justru terasa semakin relevan. Suaranya kembali menggema, bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai kritik tajam terhadap praktik kekuasaan masa kini.

Tan Malaka akan selalu dikenang sebagai sosok heroik dan ikonik. Ia hidup berpindah dari penjara ke penjara, meninggalkan seluruh kenyamanan demi menyebarkan gagasan revolusi, menjalani kesepian dalam pelarian, hingga akhirnya menemui nasib tragis di tangan bangsanya sendiri. Ia adalah simbol pengorbanan dan idealisme. Dalam dirinya, gema perjuangan dan perlawanan tak pernah benar-benar padam. Belajar dari Tan Malaka, perjuangan hari ini bukan lagi melalui senjata, melainkan melalui pikiran kritis dan kesadaran kolektif.

Tujuh puluh tujuh tahun Tan Malaka telah berkalang tanah. Namun, apakah warisannya kini benar-benar masih hidup? Bagaimana seharusnya bangsa ini memperlakukan ingatan tentang Tan Malaka? Kendati sejarah telah mencatatnya sebagai Pahlawan Nasional sejak 1963, faktanya ia tetap menjadi pahlawan yang terlupakan. Namanya kerap dikubur dalam sisi gelap sejarah, seolah bangsa ini sengaja memadamkan api perjuangan yang pernah ia nyalakan.

Karena itu, jangan sekali-kali melupakan Tan Malaka. Bangsa yang melupakan para pemikirnya perlahan akan kehilangan identitasnya sendiri.

- Advertisement -

Wallahu a‘lam bisshawab.

M Affian Nasser
M Affian Nasser
Warga Sipil, Pembelajar Sepanjang Hayat
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.