Senin, Maret 9, 2026

Ihwal Takjil

Iip Rifai
Iip Rifai
Penulis Buku "Persoalan Kita Belum Selesai, 2021"| Alumnus : ICAS Paramadina University, SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, Pascasarjana UIN SMH Banten, Sekolah Demokrasi Serang 2014.
- Advertisement -

Takjil  adalah kata serapan yang berasal dari Bahasa Arab. Jika kita telusuri secara etimologi, ia berasal dari kata ’ajjala-yu’ajjilu-ta’jiilan. Ta’jiilan adalah bentuk isim mashdar yang berarti “perbuatan yang menunjukkan sikap bersegera”. Dalam konteks ini adalah bersegera untuk berbuka puasa saat kumandang azan magrib terdengar. Karena dalam Islam, menyegerakan berbuka puasa adalah sebuah anjuran yang disunahkan Nabi.

Setelah melewati transilterasi ke dalam Bahasa Indonesia, penulisan katanya berubah menjadi “takjil”. Ada kesalahkaprahan yang dipakai masyarakat dalam memaknai kata tersebut. Dalam perjalanan panjangnya, takjil ini dimaknai sebagai kata benda yang menunjukkan makanan atau minuman manis yang disantap masyarakat sebagai makanan atau panganan pembuka puasa sebelum masuk ‘ronde’ selanjutnya, yaitu makan besar.

Menurut tradisi, buah kurma sebagai makanan pembuka yang harus dikonsumsi terlebih dahulu karena selain manis kurma juga banyak manfaatnya. Bisa jadi, awal mula kata takjil terbentuk karena orang-orang Arab menyegerakan berbuka puasa dengan kurma. Sehingga, kurma dianggap sebagai salah satu jenis takjil, yang kemudian berkembang menjadi makanan dan minuman kecil untuk memulai berbuka puasa.

Menurut KBBI, iftar adalah kata benda yang berarti hal berbuka puasa. Usai azan Magrib di bulan Ramadan, kaum muslim membatalkan puasanya dengan bersantap malam. Terlihat bahwa sudah terjadi pergeseran makna dalam penggunaan kata takjil. Lebih tepat jika istilah yang digunakan adalah menu utama (iftar).

Banten, selain dikenal sebagai bumi para jawara, ia juga sangat dikenal sebagai tempat tumbuh suburnya pesantren. Sebut saja Pandeglang, Lebak dan Serang. Belum lagi jika kita memotret Tangerang dan Cilegon, banyak pesantren yang bertengger di beberapa kabupaten tersebut. Mulai dari pesantren tradisional, salafi, hingga modern dan ekstra modern. Semuanya ada di sana.

Wajar dan logis jika Banten disebut sebagai kota santri yang religius, meski  parameter “religius” bisa didiskusikan dan diperdebatkan lebih lanjut. Tapi itu soal lain. Yang jelas, jika kita membaca sejarah, Banten mempunyai akar kultur keagamaan yang kuat semenjak dahulu kala.

Suasana keagamaan sangat jelas terlihat di sana ketika masuk bulan ramadan. Mayoritas penduduknya yang Muslim membuat ramadan lebih sumringah dan bercahaya. Lantunan ayat suci Alquran menjelang magrib dan subuh berkumandang di seluruh pelosok kampung, desa dan kota. Ditambah senandung salawat dan puji-pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW saling bergantian dan menimpali dari sumber pengeras suara masjid dan musala, menambah spirit ibadah puasa warga Banten.

Selain dihiasi kegiatan keagamaan, ada pemandangan menarik yang hanya terjadi pada bulan puasa ini. Biasanya terlihat kentara menjelang sore hari. Banyak pedagang dadakan berjejer di pinggir jalan menjajakan panganan khas berbuka (takjil) hingga makanan berat untuk berbuka puasa. Mulai dari bintul, jojorong, apem putih, kolak, gorengan, timun suri, minuman segar hingga nasi uduk, nasi padang dan sejenisnya.

Karena dadakan, tempat penyajian dagangan mereka pun seadanya saja. Terlihat meja kecil yang dilapisi plastik sebagai alas ditambah penutup makanan seadanya untuk menghindarkan makanan dan minuman yang disajikan dari debu dan lalat, bahkan kadang ada juga yang tak ditutupi, dibiarkan telanjang begitu saja.

Tengok saja jalan-jalan di tempat Anda tinggal, terutama jalan utama yang dilalui warga. Berapa jumlah pedagang dadakan yang Anda lihat. Belum lagi sejumlah pedagang dadakan yang mendiami tempat khusus yang sudah disediakan sebagai tempat mangkal untuk berjualan, semacam pujasera atau food court dan sejenisnya. Jika kita hitung, ratusan bahkan ribuan jumlahnya di wilayah Banten ini.

Iip Rifai
Iip Rifai
Penulis Buku "Persoalan Kita Belum Selesai, 2021"| Alumnus : ICAS Paramadina University, SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, Pascasarjana UIN SMH Banten, Sekolah Demokrasi Serang 2014.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.