Memang suatu bunga memiliki nama nama yang indah, entah karena parasnya, atau karena makna yang ia wakili, yang kemudian dianggap dimiliki oleh bunga tersebut, atau karena kata itu sendiri memang memiliki keindahan pada dirinya. Ini mengingatkanku pada pendapat Al jurjani yang menyangkal kata dan makna itu netral pada dirinya sendiri. Bagus buruknya ditentukan oleh susunan kosakata yang kemudian menciptakan makna-makna.
Pembaca novel ini akan mencari keterkaitan antara judul dengan isinya, dan pencarian itu tetap akan berlanjut hingga akhir halaman, dan tidak menemukan apapun. Sama sekali tidak ada pembahasan tentang bunga, bahkan meskipun seorang herbalis ditempatkan dalam dunianya. Mungkin saja penamaan ini didasari pada aspek majaznya yang kemudian mengacu pada salah satu dari objek yang ada di dalammya.
Yang selanjutnya membuat dunia novel ini menjadi semakin menarik adalah keberadaan buku dan perpustakaan yang diberikan peran yang sangat besar dalam jalannya cerita. Tokoh-tokoh yang berpentas dalam dunianya, bergelut dan hidup bersama buku-buku. Jelas ini menyiratkan betapa besar kesenangan penulisnya yang diwartakan memiliki 30000 koleksi buku.
Novel ini berkutat pada tema tentang keberadaan sebuah buku terlarang yang disembunyikan sedemikian rupa demi melestarikan sesuatu yang lebih berharga dan menjauhkannya dari tangan tangan jahil.
Disinilah letak ironinya, sebuah perpustakaan dibangun untuk mengoleksi buku dan menjadi jembatan pembaca untuk mengetahui judul judul buku. Tetapi perpustakaan biara ini justeru melarang satupun memasukinya. Dengan alasan yang sebenarnya cukup masuk akal yaitu bahwa buku sangat rentan rusak dan berjalan-jalan di perpustakaan hanya demi memenuhi keingintahuan palsu, yaitu karena menurutnya, tidak semua kebenaran boleh didengar semua orang, dan tidak semua kebohongan bisa dikenali.
Itu bukan berarti perpustakaan ini sama sekali tidak memberi akses terhadap buku-bukunya. Ia memberikan katalog yang dapat membantu untuk melihat buku apa saja yang tersedia.
Tetapi bantahan untuk gagasan tersebut juga kuat dan realistis. Bahwa restriksi pada perpustakaan tersebut yang ditujukan untuk melestarikan buku justeru akan mematikan ilmu pengetahuan. William mengatakan: akibat dari gemar berbicara bisa menjadi dosa begitupula akibat dari tutup mulut. Sumber pengetahuan yang ditutup-tutupi menurutku adalah semacam kejahatan besar. Karena semua ini adalah rahasia yang dari situ bisa diambil kebaikan dan kejahatan, maka orang terpelajar punya hak dan kewajiban untuk menggunakan bahasa yang terselubung, hanya dimengerti oleh sesamanya orang terpelajar.
Jadi, problem pertama yang dibicarakan disini adalah restriksi terhadap ilmu pengetahuan, yang tampaknya menjadi dasar semua perdebatan dalam novel ini. Apakah pengetahuan sama dengan kebenaran. Apakah doktrin-doktrin agama dianggap sebagai pengetahuan yang final. Yang kemudian berdampak misalnya pada Masalah kemiskinan Yesus yang tidak memiliki penjelasan yang eksplisit dalam Alkitab. Dan tentang tertawa yang dianggap membahayakan keimanan yang membuat buku tentangnya dilarang.
Masalah tertawa bagiku adalah bagian yang paling menarik, karena sekilas merupakan hal yang paling remeh untuk dibicarakan, maka berdebat terkait itu tidak lebih dari buang buang waktu dan omong kosong. Tetapi dalam sebagian kondisi, tertawa itu dilarang dan dianggap tidak baik karena ia mewakili didalamnya makna tentang penghinaan. Tertawa dalam suasana yang menuntut keseriusan. Tertawa dalam di atas penderitaan orang lain. Tertawa dalam situasi yang diyakini sakral. Pada situasi-situasi tersebut tertawa dipermasalahkan. Bahkan tertawa dari sebuah komedi, oleh sebagian orang dianggap sebagai aktivitas orang stress yang tidak memiliki produktivitas.
Pertama, tertawa adalah bagian dari semiotika, atau petanda yang mewakili suatu makna. Dan makna yang diwakilinya tersebut akan berubah-ubah sesuai dengan situasi dimana ia muncul. Kedua, tertawa sebagaimana yang tertera dalam logika formal adalah ciri khas yang hanya dimiliki oleh manusia, bukan hewan lainnya. Ketiga, menurut Aristoteles, tertawa dapat mengungkapkan kebenaran.
Keempat, menurut seorang rahib, tertawa berlawanan dengan doktrin agama yaitu takut. Dan ketika tertawa diberikan legitimasi intelektual oleh seorang filsuf yang diterima secara luas pemikirannya. Maka buku yang membahas terkait itu perlu dilarang.
Untuk poin pertama William mengatakan: untuk menganggap rendah wewenang palsu dari suatu dalil absurd yang melawan akal sehat kadang-kadang tertawa juga bisa menjadi suatu alat yang cocok. dan tertawa dipakai untuk mengutuk kejahatan dan membuat ketololan Mereka tampak jelas. (Hal 156)
Di sini, William secara eksplisit menjelaskan salah satu makna yang diwakili tawa yaitu penghinaan. Penghinaan yang menunjukkan bahwa apa yang ditertawakan adalah suatu hal yang hina atau rendah. Sehingga tertawa menjadi tanda atas tanda.
Tetapi menurun Jorge, lawan debat William, tertawa tidak mewakili pikiran empunya. “Dia yang tertawa tidak mempercayai apa yang ia tertawakan, tetapi juga tidak membencinya. Oleh karena itu menertawakan kejahatan tidak berarti menyiapkan diri sendiri untuk memeranginya, dan menertawakan cara-cara yang baik mengingkari kekuatan yang dipakai oleh kebaikan untuk menyebarkan dirinya sendiri.
Disini, kita menyadari keterkaitan garis garis antara tanda-tanda, baik itu yang diwakili oleh kata-kata atau tidak, dengan makna, dan kehendak, dan objek konkrit. Apakah kata-kata misalnya, harus sesuai dengan kehendak pengucapnya, atau harus sesuai dengan makna-makna yang telah diberikan kepada kata-kata tersebut. Apakah kata-kata terbatasi dalam ikatan aturan aturan tersebut atau pembicara (atau pendengar) bebas memaknai dari apa yang ia lontarkan.
Kemudian. Tertawa adalah salah satu yang mendefinisikan manusia. William mengatakan: tertawa, seperti ajaran para teologis, cocok bagi manusia. Kera tidak tertawa; tertawa itu cocok buat manusia suatu pertanda akal sehat manusia.
Ia mengatakan itu untuk menyangkal Jorge yang mengatakan: tertawa membuat tubuh bergetar, membuat raut muka menjadi jelek, membuat manusia serupa dengan kera.
William mengatakan bahwa Aristoteles melihat kecenderungan kepada tawa sebagai kekuatan untuk kebaikan yang juga memiliki nilai instruktif, lewat teka-teki cerdik dan metafora tak terduga, meskipun menceritakan kepada kita hal-hal dengan cara berbeda dari yang seharusnya, seakan berbohong. Sebenarnya ini mengharuskan kita memeriksa hal-hal itu secara lebih cermat. Kebenaran tercapai dengan menceritakan manusia dan dunia sebagai lebih buruk daripada yang sebenarnya atau daripada yang kita duga tentang itu.
Pada akhirnya, problem tertawa menjadi perdebatan puncak yang terdapat pada novel ini. Dan apakah “bunga” itu objek tertentu, seperti misalnya perpustakaan, buku, atau seorang wanita. Eco sendiri enggan memberi penafsiran atas tulisannya sendiri. Ia membiarkan tulisannya terbuka untuk semua tafsir.
