Prolog
Drachin atau drama China, dewasa ini marak dikalangan pemuda. Acapkali berkecimpung pada CEO muda yang mendapatkan jodoh, meskipun plotnya cenderung sama tapi banyak peminatnya terutama pada kalangan aktor drama “Romantisasi Kemiskinan”. Siapa mereka? Mereka adalah aktor ulung dalam dunia nyata dengan dialog “Menikahlah denganku. Setelah ini, kita akan kerja keras bersama. Rezeki itu dari Allah, pasti datang.”
Keberanian dalam pelafalan dialog tersebut memang patut diacungi jempol, sampai lupa bahwa di balik layar, kemiskinan tidak punya latar belakang musik yang indah. Kemiskinan adalah suara perut keroncongan pukul dua pagi, tangisan bayi yang alergi susu murah, dan tatapan kosong seorang istri yang lelah berharap pada rezeki yang tak kunjung datang. Tulisan ini bertujuan menciptakan diskusi sehat para pemuda untuk sedikit mengintip masa depan dari kenyataan sekitar yang tersajikan.
Rasa Cukup, dan Matinya Rasa Takut yang Sehat
Adanya bias pada Aktor seringkali menciptakan rasa psikologis ‘merasa cukup’. Cukup modal cinta. Cukup modal hafalan satu ayat. Namun anehnya, mereka tidak pernah merasa cukup untuk sekadar takut gagal. Sebelum kita bahas masalah kemiskinan, mari kita ke dalam respon diri yang cukup primitif.
Dalam ranah neuropsikologi, rasa takut akan kegagalan adalah mekanisme pertahanan otak paling purba yang menjaga spesies kita tetap hidup. Amigdala (bagian otak yang memproses emosi) dirancang untuk menyalakan sirene setiap kali kita berjalan di tepi jurang. Tetapi entah mengapa, ketika jurang itu bernama Pernikahan Tanpa Pondasi, sirene itu mati total. Seolah-olah ada tombol mute yang ditekan oleh nafsu untuk segera memiliki.
Professor Paul J. Zak dalam riset nya, ia menemukan bahwa ketidakpastian finansial kronis memicu pelepasan Kortisol (hormon stres) tanpa henti. Kortisol ini adalah perusak ulung. Ia menggerogoti prefrontal cortex (bagian otak yang bertugas mengambil keputusan bijak). Ia juga menekan produksi Testosteron pada pria. Dan ironisnya, Testosteron yang rendah pada seorang suami berkorelasi langsung dengan menurunnya dorongan untuk mencari nafkah dan melindungi sarang.
Dalam bahasa yang mudah, seperti seorang anak yang baru bisa naik sepeda, ia mengayuh sepedanya dengan semangat tanpa ia tahu jalanan juga punya bahaya, karena selama ini dia di fase berjalan, berpindah ke fase bersepeda dengan resiko yang lebih tinggi. Seakan mereka sedang berkata jujur tanpa sadar: “Saya tidak paham risiko kegagalan. Saya tidak tahu bahwa kemiskinan itu warisan dari kelalaian yang saya buat.”
Tameng Dalil, Ketika Iman Dijadikan Alat Pembenaran
Sebagai Aktor biasanya memiliki karakter unik dalam pembawaanya, begitupun Aktor Romantisasi Kemiskinan mereka memiliki dialog khas “ Kalian tidak percaya dengan Firman Allah?”. Dialog ini mengacu pada Qs. An-Nur : ayat 32 kurang lebihnya berarti “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu… Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
Satu hal yang menarik dari dialog ini adalah pertanyaan mengenai keraguan akan kepercayaan dalil otentik. Yang mana semua umat Islam tidak ada keraguan didalamnya. Lalu apakah tulisan ini bertujuan mengkritik Firman Allah?. Mari kita mundur sedikit dimana dialog awal Sang Aktor “menikah dulu, lalu bekerja keras”, disini terdapat logikal falasi akan pengusahaan menikah didahulukan ketimbang kesiapan, pertanyaannya sekarang adalah bukan ketidak percayaa akan Firman Allah, tetapi kesanggupan para Aktor dalam membawa keluarganya pada taraf minimum yang jauh dari perceraian atau, trauma anak, kelayakan istri yang hilang bahkan kesempatan keluarga kecilnya pada posisi ‘cukup’, bukan hanya Aktor yang merasa cukup.
Sedikit cerita mengenai Abdurrahman bin Auf. Ketika ia miskin di Madinah dan ingin menikah, ia tidak menikah dulu lalu bekerja keras di pasar. Ia langsung turun ke pasar, berdagang, dan baru melamar setelah mendapat untung. Itulah iman yang berjalan. Itulah tawakal yang berkeringat.
Realita Sekitar
Data dari Bank Dunia April 2025 semakin memperjelas potret suram ini. Jumlah penduduk miskin Indonesia masih mencapai 171,8 juta jiwa (60,3%) atau lebih dari setengah. Artinya, sebagian besar mayoritas penduduk negeri ini, menurut standar global, masih berjuang untuk sekadar tidak miskin. Pada sisi dunia kerja per 2025 adanya tren pengangguran yang menurun dengan catatan PHK justru melonjak 32,1% pada periode yang sama, dan pemerintah membentuk Satgas PHK untuk mengatasi masalah ini. Disusul dengan adanya angka 438.168 kasus perceraian dalam setahun setara dengan rata-rata 1.200 pasangan bercerai setiap harinya. Masalah ekonomi adalah bahan bakar utama konflik rumah tangga.
Cerminan program unggulan MBG (makan bergizi gratis), adalah salah satu upaya pemerintah akan ketidakmampuan mayoritas masyarakat dalam memberi makan secara bergizi kepada anaknya. Apakah dialog “Ah, nanti setelah nikah juga ada rezeki” akan mendatangkan rezeki itu jatuh dari langit dalam bentuk susu UHT dan telur omega 3? Ataukah ia diam-diam berharap bahwa kelak ia akan masuk daftar penerima bantuan sosial? Jika jawabannya adalah yang kedua, maka ia bukan sedang membangun keluarga. Ia sedang mendesain keluarga gagal sejak awal.
Inilah ending yang tidak pernah ditampilkan dalam video viral para Aktor Romantisasi Kemiskinan. Tidak ada backsound sholawat yang mengiringi sidang di Pengadilan Agama. Tidak ada filter yang bisa menyembunyikan mata sayu anak korban perceraian. Maka pilihlah kehidupan yang layak untuk setiap orang yang terlibat dalam lingkup kita.
Tulisan ini mungkin akan membuat beberapa orang tidak nyaman. Mungkin ada yang berbisik, “Kamu ini terlalu duniawi. Kurang tawakal.” Kami tidak pernah meragukan rezeki Allah. Terlebih lagi bahasan kita diatas hanya mengenai finansial, belum emosional, keluarga, dan masih banyak lagi.
