Sabtu, Maret 2, 2024

Festival Prambanan Jazz, Diplomasi Publik Indonesia

Nurul Faqiriah
Nurul Faqiriah
Mahasiswa Hubungan Internasional. Universitas Islam Indonesia

Prambanan Jazz merupakan Festival musik jazz tahunan yang di selenggarakan di pelataran Candi Prambanan sejak 2015 lalu. Festival ini sukses menarik antusias seluruh masyarakat Indonesia. Para penonton festival prambanan Jazz tidak hanya datang dari wilayah Jateng-DIY tetapi dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Festival ini menghadirkan musisi ternama tanah air seperti Gleen, Tompi, Tohpati, Raisa, Isyana, Tulus dan lain-lain.

Tak hanya musisi nasional, sepanjang 2015 hingga 2019 Festival ini juga menampilkan musisi Internasional setiap tahunnya seperti Kenny G, Boyz 2 Men, dan Rick Price,Shane Filan, Diana Krall, serta Calum Scott. pada 2019 terjadi peningkatan penonton mancanegara sebanyak 60%, dan kebanyakan mereka berasal dari Cina, India, dan Arab, hal ini disampaikan oleh Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada awal 2020 lalu, membuat Festival Prambanan Jazz 2020 diselenggarakan secara virtual dan tanpa dihadiri oleh musisi internasional, musisi internasional akan dihadirkan pada Prambanan Jazz Festival 2021.

Festival Prambanan Jazz yang diselenggarakan setiap tahun dapat menjadi alat diplomasi publik Indonesia di dunia internasional. Menurut Joseph Nye, konsep diplomasi tidak harus diartikan dengan hard power seperti melalui ancaman, dan paksaan, namun ada cara lain untuk mencapai kepentingan melalui soft power diplomacy dilakukan dengan mengandalkan budaya, nilai dan ideologi untuk mempengaruhi publik (Snow, 2009).

Seiring perkembangan globalisasi, negara tidak lagi menjadi aktor satu-satunya yang dapat mempengaruhi politik luar negeri, jika dahulu diplomasi hanya dapat dilakukan oleh Menteri Luar negeri, Diplomat, dan Konsulat, maka dengan adanya diplomasi publik memungkinkan seluruh pihak dapat terlibat dalam melakukan diplomasi baik itu aktor negara maupun non-negara yang dapat mempengaruhi opini publik (Snow, 2009)

Soft power diplomacy merupakan konsep penting dalam melaksanakan diplomasi publik. Diplomasi publik melalui Festival Prambanan Jazz merupakan bagian dari diplomasi budaya. Diplomasi budaya memiliki peran penting dalam menjembatani hubungan antarbangsa (Shoelhi, 2018).

Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan wisata yang telah menjadi nation-branding Indonesia di dunia internasional, nation-branding inilah yang dapat menjadi alat diplomasi publik. Indonesia mempunyai banyak sumber daya diplomasi publik, namun masih belum digunakan secara optimal, maka dari itu perlu mempromosikan budaya Indonesia dengan cara yang lebih populer dan kekinian salah satunya melalui Festival Prambanan Jazz.

Candi Prambanan merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada abad ke-10 dan pada 2010 UNESCO telah menetapkan candi prambanan sebagai situs warisan budaya dunia (Hani Ernawati, 2018). Tidak hanya UNESCO, dalam pertemuan ASEAN Tourism Working Group and Comittess yang diselenggarakan pada 18-20 September 2012 juga menetapkan candi prambanan sebagai lokasi heritage negara-negara ASEAN.

Tidak heran jika candi prambanan merupakan tempat favorit wisatawan. Kehadiran konser tahunan berkelas internasional yang digelar di pelataran bangunan bersejarah di Indonesia bahkan di dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton konser maupun wisatawan mancanegara.

Lebih lanjut, diplomasi publik Indonesia melalui Festival Prambanan Jazz tidak hanya mengenalkan candi prambanan dan musik jazz Indonesia ke dunia internasional tetapi juga mengenalkan makanan tradisional Indonesia ke dunia internasional, hal ini dapat dilihat dengan adanya stand kuliner tradisional yang ada di Prambanan Jazz setiap tahunnya, mulai dari  jenang, gudeg, kopi Merapi dan jajanan pasar lainnya.

Diplomasi publik bertujuan untuk mempengaruhi persepsi publik mengenai tindakan atau kegiatan guna mencapai kepentingan yang lebih luas (Shoelhi, 2018). Dalam Festival Prambanan Jazz kita bisa melihat bagaimana Festival ini mempengaruhi kepentingan Indonesia untuk meningkatkan sektor pariwisata dan menunjukan citra Indonesia di kancah global.

Dalam Festival Prambanan Jazz 2017, Menteri BUMN, Rini Soemarno menyatakan dukungannya terhadap Festival Prambanan Jazz, menurut Rini selain dapat meningkatkan pariwisata Indonesia yang juga berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian negara.

Diplomasi budaya melalui Festival Prambanan Jazz tentu beda jika dibandingkan dengan berbagai soft power diplomacy yang kerap digencarkan pemerintah Indonesia di pertemuan-pertemuan formal antar negara atau melalui organisasi internasional seperti melalui diplomasi rendang yang sering menjadi hidangan andalan dalam menjamu tamu kenegaraan ataupun diplomasi batik.

Diplomasi batik digunakan sebagai dresscode sidang Dewan Keamanan PBB untuk penghormatan kepada Indonesia yang pada saat itu menjadi Presidensi Dewan Keamanan PBB pada Mei 2019 lalu. Namun, meski demikian Festival Prambanan Jazz ini dapat mempengaruhi peningkatan pengunjung Candi Prambanan, hal ini juga telah disampaikan oleh Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia periode 2014-2019, menurutnya, liputan media mengenai penampilan musisi internasional di Festival Prambanan Jazz sangat memperngaruhi peningkatan pengunjung.

Diplomasi Publik melalui Festival musik ini telah berhasil menjadi alat diplomasi publik di berbagai negara maju. Festival Coachella yang diselenggarakan setiap tahun di Coachella Valley, Amerika Serikat merupakan festival musik terbesar di dunia yang ditonton pelancong dari mancanegara, pada 2017 tercatat sebanyak 250.000 penonton hadir di festival Coachella.

Bahkan tidak jarang banyak turis yang berkunjung ke Coachella Valley, California hanya untuk menikmati festival musik.  Tentu Indonesia bisa belajar dari bagaimana Amerika Serikat memanfaatkan Festival Coachella untuk menarik wisatawan.

Indonesia sebagai negara yang memiliki berbagai sumber daya diplomasi publik perlu memanfaatkan Festival Prambanan Jazz untuk menguatkan diplomasi publik Indonesia di dunia internasional bahkan bisa menjadi tujuan utama turis mancanegara untuk menikmati Festival musik Jazz yang berlatar belakang bangunan bersejarah sekaligus menikmati jajanan tradisonal.

Selain itu juga dalam mengoptimalkan Festival Prambanan Jazz ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan juga Kerjasama seluruh masyarakat Indonesia untuk turut serta melakukan diplomasi publik Festival ini ke dunia internasional.

Referensi

Hani Ernawati, R. A. (2018). Kepuasan Wisatawan Terhadap Situs Warisan Budaya Candi Prambanan. Jurnal Ecodemica, Vol.2 No.2, 2.

Shoelhi, M. (2018). Diplomasi Praktik Komunikasi Internasional. Bandung: Sambiosa Rekatama Media.

Snow, N. (2009). Rethinking Public Diplomacy. In P. M. Nancy Snow, Routledge Handbook of Public Diplomacy (pp. 3-9). New York: Routledge.

Nurul Faqiriah
Nurul Faqiriah
Mahasiswa Hubungan Internasional. Universitas Islam Indonesia
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.