Senin, Juni 17, 2024

Fantasi Ideologis, Mengurai Kontradiksi dalam Politik Identitas

Bryan Widiawira
Bryan Widiawira
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Dalam dunia kontemporer, politik identitas telah mendominasi lanskap sosial-politik. Namun, apa yang sering diabaikan adalah bagaimana kapitalisme dan ideologi dominan mempengaruhi dan mengkomodifikasi perjuangan identitas. Kita hidup dalam fantasi kolektif, dan untuk memahami politik identitas, kita harus mengurai fantasi tersebut.

Sejarah dan Asal Usul Politik Identitas

Sejak awal, perjuangan berbasis identitas lahir dari kebutuhan mendalam untuk pengakuan. Namun, struktur kekuasaan telah mempengaruhi bagaimana perjuangan ini dinyatakan. Ideologi dominan, sering kali tak kasat mata, telah memainkan peran sentral dalam membentuk dan mengarahkan gerakan-gerakan ini.

Konstruksi dan Komodifikasi Identitas

Pertama, mari kita bicara tentang konstruksi. Identitas, seperti yang kita ketahui, seringkali adalah hasil dari konstruksi sosial dan kultural, bukan sesuatu yang inheren atau tetap. Masyarakat, melalui berbagai institusi dan media, menciptakan ‘norma’ dan ‘standar’ yang menentukan apa yang dianggap “normal”, “maskulin”, “feminin”, “sukses”, dan seterusnya. Ini bukanlah proses yang netral; ini adalah salah satu cara di mana kekuasaan dan ideologi diekspresikan.

Sebagai contoh, ide konseptual tentang apa itu “kecantikan” bervariasi antar budaya dan periode waktu. Apa yang dianggap cantik di Eropa abad pertengahan mungkin berbeda dari standar kecantikan di Asia Timur saat ini. Media massa, pendidikan, agama, dan bahkan hukum semuanya berperan dalam membentuk persepsi kita tentang identitas diri dan orang lain.

Lanjut ke komodifikasi. Dalam era kapitalisme, hampir segala sesuatu dapat dijadikan komoditas – termasuk identitas. Kapitalisme membutuhkan pasar yang terus-menerus berkembang dan mencari cara baru untuk mengkomersialkan aspek kehidupan manusia. Identitas, dengan keunikan dan hasrat pribadi yang melekat padanya, menjadi ladang subur untuk eksploitasi kapitalis.

Ambillah contoh industri mode. Gaya pakaian tertentu mungkin dijual sebagai ekspresi dari sebuah identitas tertentu, misalnya seperti gaya “e-girl”, “soft girl”, “wanita karier”, dan seterusnya. Di sini, aspek-aspek tertentu dari identitas dikemas dan dijual kembali ke konsumen. Demikian pula, tren seperti yoga atau meditasi — yang memiliki akar yang mendalam dalam tradisi dan budaya tertentu — sering kali di-“baratkan” dan dijual sebagai produk atau pengalaman mewah.

Dalam era kapitalisme, segalanya memiliki harga. Identitas kita, dengan segala kompleksitas dan nuansanya, telah dikemas dan dijual kembali kepada kita. Media dan teknologi menawarkan gambaran diri yang distilasi, sering kali mengurangi kompleksitas identitas kita menjadi merek atau label yang dapat diperdagangkan.

Pertentangan dalam Kelompok Identitas

Ketika kita memikirkan kelompok berdasarkan identitas — apakah itu berbasis gender, seksualitas, ras, atau faktor lainnya — kita cenderung percaya bahwa mereka akan memiliki solidaritas internal yang kuat. Namun, kenyataannya seringkali lebih kompleks. Misalnya, dalam gerakan feminis, ada perbedaan pendapat antara feminis liberal, radikal, dan interseksional. Mereka mungkin berbeda dalam hal prioritas, strategi, dan interpretasi tentang apa itu kesetaraan gender.

Salah satu alasan utama pertentangan dalam kelompok identitas adalah bagaimana ideologi dominan mempengaruhi persepsi kita. Kapitalisme, sebagai contoh, berfungsi dengan menciptakan persaingan. Dalam konteks identitas, ini bisa berarti kompetisi untuk sumber daya, pengakuan, atau representasi dalam media dan politik. Sebagai hasilnya, kelompok-kelompok dapat merasa perlu untuk menekankan perbedaan mereka daripada kesamaan, guna memperoleh keuntungan tertentu.

Ketika kelompok-kelompok identitas berfokus pada perbedaan mereka daripada kesamaan, ada risiko fragmentasi. Misalnya, gerakan LGBTQ+ memiliki berbagai kelompok dengan kebutuhan dan tujuan yang berbeda, mulai dari hak-hak transgender hingga hak asasi gay dan lesbian. Meskipun ada banyak tujuan bersama, perbedaan ini bisa memicu konflik tentang prioritas atau strategi.

Dalam kapitalisme, identitas seringkali dikomodifikasi. Ketika ini terjadi, ada dorongan untuk “menjual” versi identitas yang paling “menarik” atau “dapat diterima” untuk konsumsi massa. Hal ini bisa memicu konflik dalam kelompok, dengan beberapa anggota merasa bahwa representasi tertentu menguntungkan satu subkelompok daripada yang lain.

Ironisnya, meskipun ada tujuan bersama untuk pengakuan dan hak, kelompok-kelompok identitas sering kali berada dalam konflik satu sama lain. Mengapa ini terjadi? Salah satu jawabannya terletak pada bagaimana ideologi dominan memanfaatkan perpecahan ini, membiarkan kita berjuang satu sama lain daripada melawan struktur kekuasaan yang sesungguhnya.

Fantasi dan Realitas Identitas

Setiap individu memiliki fantasi pribadi, narasi batin yang mereka gunakan untuk memberi makna pada dunia di sekitar mereka. Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki fantasi tentang diri mereka sebagai pemberontak atau sebagai pelindung yang kuat. Meskipun kejadian nyata dalam hidup mereka mungkin tidak selalu mencerminkan narasi ini, fantasi ini memberi mereka kerangka kerja untuk memahami tindakan dan perasaan mereka.

Kita hidup dalam dunia yang dibentuk oleh fantasi kolektif. Fantasi ini adalah cerita-cerita yang masyarakat kita ceritakan tentang diri kita sendiri — tentang apa artinya menjadi “pria”, “wanita”, “Amerika”, “Muslim”, dan seterusnya. Fantasi ideologis ini tidak selalu mencerminkan realitas objektif, tetapi mereka memberikan struktur dan makna pada realitas kita.

Misalnya, narasi tentang “American Dream” adalah sebuah fantasi ideologis. Meskipun tidak setiap orang di Amerika memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan ekonomi, narasi ini tetap mendominasi dan memberi bentuk pada bagaimana banyak orang memahami kesuksesan dan kegagalan.

Ketika fantasi pribadi dan ideologis bertemu, mereka membentuk inti dari apa yang kita anggap sebagai identitas kita. Namun, karena fantasi ini sering kali didasarkan pada narasi yang tidak sepenuhnya mencerminkan realitas, ada potensi untuk konflik dan ketegangan.

Seseorang mungkin merasa terjepit antara harapan masyarakat (fantasi ideologis) dan pemahaman pribadi mereka tentang diri mereka sendiri (fantasi pribadi). Misalnya, seseorang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai non-biner mungkin merasa terjepit antara fantasi pribadi mereka tentang gender dan fantasi ideologis masyarakat tentang apa artinya “laki-laki” atau “perempuan”.

Menuju Pemahaman Baru Tentang Solidaritas

Kunci untuk mengatasi pertentangan dan membangun solidaritas adalah dengan mengakui dan mengkritisi peran ideologi dalam politik identitas. Kita perlu melihat bagaimana perjuangan identitas dan perjuangan kelas saling terkait, dan bagaimana keduanya dapat bekerja sama untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan inklusif.

Politik identitas, dengan segala kontradiksinya, memberikan kita kesempatan untuk memahami dan mengkritisi dunia di sekitar kita. Dengan mengurai fantasi ideologis yang mendasarinya, kita dapat melihat potensi sebenarnya dari perjuangan berbasis identitas dan mencari cara untuk bekerja sama demi tujuan yang lebih besar.

Bryan Widiawira
Bryan Widiawira
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.