Sabtu, Mei 18, 2024

Distorsi Prediksi Resesi

Ayub Wahyudin
Ayub Wahyudin
Mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Dosen Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon

“Bila temanmu kehilangan pekerjaan, maka kau tahu arti resesi. Dan bila giliranmu kehilangan pekerjaan, maka barulah kau tahu arti depresi” (Bondan Winarno)

Seperangkat peristiwa tentang resesi acapkali bersanding dengan banyaknya orang yang mengalami depresi. Hal itu akibat beratnya beban hidup yang dipikul tidak seimbang dengan kemampuan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Bahlil Lahadia (Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal) mengilustrasikan Inggris, kesulitan bangkit dari keterpurukan, hingga terpaksa melakukan penghematan anggaran sebesar 55 Miliar Pounds atau setara dengan Rp 1 Kuadriliun.

Inflasi pun meroket mencapai 11 persen dalam 41 tahun terakhir (Kompas, 11/11/2022). Gejolak ini berimbas pada Perempuan Pekerja Seks (PSK) komersial yang meningkat tajam, warga tak mampu membayar tagihan energi membludak, banyak orang menahan lapar atau mengurangi makan, hingga para orang tua kesulitan memberikan bekal makanan untuk dibawa anaknya ke sekolah (cnbcindonesia.com, 29/09/2022).

Bank of England dan Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi tahun 2023 lebih suram dan harus bersabar dalam menghadapi krisis, karena penyusutan ekonomi Inggris masih terus terjadi (IDN Times, 11/02/2023)

Resesi global yang disebut pakar sebagai supply side shock akibat pasokan minyak mentah yang bermasalah memicu inflasi tinggi di tahun 2023. Krisis energi akibat konflik, sehingga bank central menaikan suku bunga, termasuk di Indonesia. Hal mencekam ketika peluang mendapat pekerjaan semakin sulit, pasar modal menjerit, produksi menjadi irit, penurunan penyaluran kredit, tingkat kejahatan malah melejit, maka ekonomi semakin morat-marit.

Induk Bala

Resesi menjadi induk bala atau biang keladi dari ragam persoalan dunia. Resesi menjadi pemicu terjadinya depresi. Depresi ekonomi sebagai sebuah gambaran penurunan ekonomi yang terjadi pada empat kuartal secara terus menerus atau jangka waktu yang relatif lama, melampaui resesi itu sendiri. Sementara secara psikologis depresi terkait dengan resiliensi (daya tahan) melemah, mengakibatkan gangguan mental yang cukup berbahaya.

Jika selama tahun 2019-2022, peningkatan depresi diakibatkan oleh paksaan menghadapi Covid-19, maka tahun ini menyasar pada banyaknya orang yang kehilangan mata pencaharian, tak berimbang dengan peningkatan harga pangan.

Bagi sebagian masyarakat, resesi dipahami ketika sulitnya bertahan hidup di negeri pertiwi; ketika harapan menemui ketidakpastian, ketika pejabat sibuk menyelamatkan diri, sementara rakyat berjibaku secara mandiri, serta terpuruk tanpa ada yang peduli. Hal ini bisa saja berimbas pada banyak persoalan termasuk meredupnya dukungan publik untuk pesta demokrasi yang akan segera di helat pada 2024

Pembacaan Historis Resesi ke Resesi

Bila negara, membuat Langkah strategis melalui kebijakan moneter pre-emptive dan forward looking yang harapannya menjaga penanganan efektif ekspektasi inflasi serta inflasi pada masa yang akan datang.

Misalnya, pada level negara berupaya Memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah atau menjadi pawang inflasi, imported inflation. Maka; peningkatan layanan dan kebijakan digitalisasi perbankan melalui sistem Bansos Digital, BI FAST, Transaksi pada pemerintahan pusat dan daerah, layanan dukungan transportasi publik, transaksi pembayaran cross-border yang mengunakan QRIS, hingga interkoneksi mekanisme pembayaran antar benua atau antar Negara, apakah negara akan selamat dari krisis?.

Sejauhmana layanan digital tersebut dinikmati dan terimplementasi terhadap seluruh rakyat Indonesia. Tanpa melakukan pembacaan fakta maupun People’s History, sebagai alternatif mempersoalkan; apakah ambang batas krisis adalah inflasi an sich?

Sementara A.W Philip mengemukakan bahwa inflasi menyebabkan pengangguran menurun, karena mereka akan mulai menciptakan alternatif dan kreativitas baru.

Sebagaimana Ben White (2016) menyatakan kreativitas yang terbentuk kaum tani saat kriris dengan mengutip Gubernur J. Bijleveld dalam Memorie Van Overgave van den Aftredende Gouverneur van Jogjakarta, bahwa: Tanda paling terlihat dari krisis dalam dunia kaum tani adalah kian langkanya uang di seluruh penjuru dari hari ke hari. Pangan melimpah di mana-mana, namun uang hampir sepenuhnya lenyap.

Pada penduduk kelas bawah, terdapat diversifikasi stratus. Jika dulu petani juga buruh dianggap sebagai petunjuk adanya krisis, bahwa di Jawa terdapat diversifikasi buruh, mulai dari tukang packing, tukang penempel cap dan banderol, kuli serabutan dan sebagainya.

Para petani dan buruh dituntut kreatif, meskipun demikian godaan hutang pada Volkscredietbank demi membuka usaha baru atau meluaskan lahan penanaman Lada, kian rumit, saat dialektika persaingan antar penduduk asli dengan penduduk Cina, sebagai pionir memperkenalkan budidaya Lada. Sehingga, pada faktanya kedua belah pihak melakukan pertukaran buruh, petani etnis Cina dengan pribumi. Maka, saat harga Lada melonjak, keduanya saling bekerjasama.

Prediksi Melampaui Regsostek

Saat ini trend yang di tahun 2023, diprediksi bekerja dan belajar dari mana saja juga menjadi alternatif. Kampus-kampus mulai menerapkan sistem perkuliahan PJJ (Pembelajaran Jarak jauh), yang tentunya akan menghemat biaya kuliah, memangkas waktu di tengah resesi.

Selain bekerja secara virtual juga terdapat trend work smart sebagai trik bekerja secara efektif untuk hasil yang maksimal, sehingga yang diperoleh baik dan memuaskan. Sektor yang terkait dengan trend baru tersebut, apakah juga mengalami resesi?.

Persolan flatform digital regsosek (resgistrasi sosial ekonomi) baru terbentuk pada akhir 2022 dan target penyelesaian pada pertengahan tahun 2023, regsosek sebuah pengumpulan data seluruh penduduk yang terdiri atas profil, kondisi sosial, ekonomi, dan tingkat kesejahteraan, jika ini saja belum rampung, bagaimana akurasi prediksi resesi dapat teratasi dan lolos dari jeratan krisis. Regsostek menampilkan data masyarakat miskin ekstrem, sasarannya harus terselesaikan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Bahwa tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (2023), seolah menjadi peluang besar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan tetap tangguh, kuat serta berpotensi akan lebih tinggi melalui peningkatan ekspor, perbaikan permintaan domestik utamanya pada sektor konsumsi swasta dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV 2022, mencapai angka 5,01% (yoy) yang secara akumulatif tahun 2022 tercatat 5,31% (yoy). Meningkat tajam dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yakni 3,70% (yoy), tidaklah cukup.

Pernyataan para pakar yang mengungkap bahaya resesi global di tahun 2023, tentu menyisakan kecurigaan publik tentang upaya meredam kepanikan yang terjadi.

Pentingnya membaca historis resesi dengan sejumlah narasi fakta dan data trend kehidupan masyarakat desa saat ini, menegaskan bahwa pakar pada The Conversation Indonesia juga sepakat bahwa tak ada satu negara pun, yang mampu meloloskan diri dari jeratan pelambatan ekonomi termasuk Indonesia (theconversation.com, 17/10/2022).

Fakta dan data sebagai pijakan dasar dari strategi penanganan resesi. Ruang egosentris, Persaingan antar K/L harus diakhiri, demi kemaslahatan bangsa

Ayub Wahyudin
Ayub Wahyudin
Mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Dosen Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.