Jumat, Juni 18, 2021

Cloud Computing dan Kesiapan Infrastruktur Telekomunikasi

Merenungi Kebijakan Pendidikan Mitigasi Bencana

Tsunami melanda Lampung Selatan, Pandeglang dan sekitaran Selat Sunda. Huru-hara tsunami yang terjadi Sabtu malam yang lalu kembali membuka pertanyaan-pertanyaan terkait ketidak deteksinya tsunami...

Macetnya Nalar di Antara Kemacaten Jalan Menuju Bandara

Jadwal penerbangan erat kaitannya dengan sikap disiplin. Mulai dari penumpang, pilot, kru kabin, petugas bandara, hingga penjaga loket, semua diikat oleh tali yang sama,...

Susu dalam Cermin Budaya Politik

Berbicara susu skala nasional yang bernutrisi baik. Susu asli Boyolali mungkin adalah salah satu produk unggulan yang sering diperbincangkan oleh konsumen. Karena kadar susunya...

Seharusnya Wajah Islam Kita

  "Inna Ad-Diina 'Indallahil Islam" Penggalan ayat diatas menjadi landasan yang sangat fundamen bagi kita selaku umat Islam untuk memberikan khabar serta mempertahankan keyakinan bahwa Islam...
Muhammad Amir Ma'ruf
Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang

Beberapa dasawarsa terakhir, teknologi informasi berkembang sedemikian cepat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan tersebut didasari oleh semakin tingginya mobilitas manusia sehingga membutuhkan akses informasi yang mudah, cepat, dan akurat.

Menilik tiga windu kebelakang, kebanyakan orang harus mencari telepon umum jika ingin bersapa dengan sanak saudaranya. Hanya berselang beberapa tahun ketika ponsel mulai umum dimiliki, telepon umum mulai digantikan dengan layanan telepon seluler dan layanan pesan pendek (SMS).

Zaman semakin maju, layanan telepon seluler dan SMS pun mulai digantikan dengan berbagai layanan berbasis internet. Mulai dari mengirim surat hingga bertatap muka melalui panggilan video. Bahkan, kemenkominfo merilis pada tahun 2017 ada sekitar 143,26 juta pengguna internet di Indonesia.

Fenomena ledakan data atau yang lazim dikenal dengan big data tidak dapat dihindari seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelegence (AI). Tidak hanya teknologi informasi, penggunaan teknologi AI ini juga merambah pada teknologi penyimpanan. Berbagai media penyimpanan berbasis fisik kini mulai ditinggalkan dan digantikan dengan penyimpanan berbasis komputasi awan yang menggunakan internet karena dianggap lebih ringkas dan mudah.

Salah satu contoh penyimpanan yang menggunakan teknologi komputasi awan adalah Google Drive. Kini orang-orang tidak lagi cemas ketika folder di ruang kerja penuh dengan lembaran arsip, atau berkas penting tertinggal dirumah.Penggunaan komputasi awan sebagai sarana penyimpanan memiliki kelebihan dibandingkan dengan sarana penyimpanan konvensional.

Jika sarana konvensional mengharuskan pengguna untuk mengganti piranti penyimpanan ketika terjadi overload, komputasi awan menawarkan kemudahan berupa penambahan kapasitas tanpa perlu mengganti sumber daya dan memindahkannya ke “wadah” yang lebih besar.

Selain itu, komputasi awan menawarkan kemudahan akses yang memungkinkan pengguna saling berbagi pakai. Penyimpanan berbasis komputasi awan tidak harus menggunakan internet publik, melainkan juga dapat menggunakan intranet yang justru lebih digemari oleh entitas bisnis modern karena dianggap lebih aman. Namun, tidak semua entitas bisnis tersebut mampu membangun infrastruktur untuk penggunaan komputasi awan karena membutuhkan piranti yang berteknologi lebih tinggi.

Komputasi Awan dikalangan Masyarakat

Tanpa disadari, penggunaan komputasi awan ini sudah sangat populer digunakan oleh masyarakat umum. Sebuah portal internet yang memiliki layanan umum seperti e-mail, penyimpanan media, bahkan penggunaan media sosial merupakan salah satu pemanfaatan dari komputasi awan.

Ketika seseorang mengunggah sebuah foto ke linimasa, secara konseptual orang tersebut sudah memanfaatkan penyimpanan komputasi awan karena dapat diakses melalui berbagai perangkat dan dimana saja.

Sama halnya ketika kita menggelar lapak di sebuah situs jual beli dalam jaringan (daring), penggunaan sarana tersebut sudah memanfaatkan komputasi awan. Perusahaan-perusahaan yang lebih banyak memanfaatkan layanan dalam jaringan kini menyadari potensi keuntungan yang didapat dari penggunaan komputasi awan. Perusahaan tersebut berlomba-lomba untuk “menjual data” dari para pelanggan yang memanfaatkan jasa mereka.

Data-data pelanggan berupa histori pencarian dan ketertarikan sebuah layanan memunculkan para ide-ide yang membuat produsen lebih efektif dan efisien dalam melakukan promosi pemasaran.

Mereka menjadi tahu harus kepada siapa mereka mengiklankan produk tertentu yang pada akhirnya akan meningkatkan gairah bisnis mereka. Sebagai contoh perusahaan layanan transportasi dalam jaringan Go-Jek, valuasi mereka kini melebihi perusahaan sekelas Garuda Indonesia. Hal ini tentu sebagai barometer prospek bisnis yang memanfaatkan teknologi komputasi awan.

Sebuah Paradoks

Pemanfaatan komputasi awan dikalangan masyarakat umum lebih didominasi oleh komputasi awan berbasis internet publik. Oleh karena itu, ketersediaan jaringan internet yang memadai merupakan syarat mutlak agar masyarakat ikut merasakan manfaat dari komputasi awan.

Untuk sebagian wilayah Indonesia seperti Pulau Jawa dan kota besar lain di luar Jawa mungkin tidak menemui kendala yang berarti. Akan tetapi, saudara-saudara kita yang berada di daerah 3T masih belum merasakan kemudahan dalam penggunaan komputasi awan. Jangankan untuk berselancar dalam jaringan, untuk sekadar telepon saja terkadang masih kesulitan.

Badan Aksebilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) menyebutkan bahwa sampai Juli 2018 masih ada 11% blank spot seluler di wilayah Indonesia. Perlu sekitar 5000 site lagi agar seluruh wilayah di Indonesia dapat merdeka sinyal. Masih adanya blank spot ini menunjukkan belum meratanya infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Padahal, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi komputasi awan tak sebatas sinyal 2G, jaringan internet minimal 3G sangat dibutuhkan agar akses menjadi lebih mudah. Terlihat miris, disaat petani di Jepang sudah menggunakan teknologi komputasi awan untuk membantu mereka memantau tanaman mereka dari tempat yang jauh sekalipun, kita masih sibuk dengan bagaimana seluruh masyarakat terbebas dari “buta sinyal” pada tahun 2020.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar seluruh wilayah Indonesia terutama di pemukiman dan objek pariwisata dapat dijangkau oleh jaringan internet sehingga masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Dengan adanya pemerataan jaringan internet juga diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

Pemanfaatan komputasi awan yang semakin marak digunakan dan ketersediaan infrastruktur pendukung yang belum merata seakan membuat gap antara masyarakat yang bertempat tinggal di daerah dengan fasilitas jaringan yang memadai dan yang tidak. Dengan kata lain, komputasi awan di Indonesia belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat.

Masih ada saudara-saudara kita yang hidup tanpa internet, atau bahkan telepon. Pembangunan Palapa Ring yang digalakkan pemerintah untuk menghubungkan existing network dengan jaringan baru terutama di Indonesia bagian timur seakan memberikan secercah harapan bagi masyarakat yang selama ini belum merasakan manfaat jaringan internet. Melalui percepatan pembangunan infrastruktur, jauh ke depan kita berharap komputasi awan dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat.

Muhammad Amir Ma'ruf
Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.