OUR NETWORK
Jumat, September 30, 2022

Cinta Obsesif VS Altrusitik Pasca Pemilu

Eriton
Penulis dan Mahasiswa Magister Sosiologi UMM, Malang-Aceh

 

Menyinggung cinta, maka kita menyentuh sesuatu yang mendasar bagi kehidupan manusia. Banyak nukilan dan syair-syair para pujangga dipakai untuk menguatkan hubungan yang dilandasi cinta. Konon lagi bagi generasi muda yang sedang dimabuk cinta. Karena cinta memang bersinggungan dengan eksistensi manusia itu sendiri.

Dalam perspketif filsafat cinta, pertemuan Jokowi dan Probowo pada 13 Juli 2019 di MRT Lebak Bulus dahulu, ternyata tak memuaskan semua pihak terutama kecebong dan kampret militan. Kecebong dan kampret garis keras yang menganut paham cinta obsesif.

Menurut Tim Wesfix (2014), Cinta obsesif (obsessive love), merupakan cinta yang memaksakan. Dan ia dengan gampang memasuki jiwa yang merasa diri harus menang, kehendak menguasai sesuatu/seseorang.

Cinta dijadikan sebagai alat untuk memenangkan diri sendiri. Walhasil, kecemburuan obsesi yang memuncak, emosi-emosi yang tak stabil.

Sedang Dorothy Tennov (1977), ia menyebutnya istilah limerence bagi orang-orang yang membujuk orang lain. membuatnya menjadi kegilaan sementara. Secara obsesif, mereka memikirkan objek sasaran gairahnya dan pada akhirnya obsesi tersebut membuat mereka menderita dan tak berdaya dikarenakan objek gairahnya itu sendiri.

Pandangan lain soal ini, juga datang dari Psikoanalis, Erich Fromm dalam Art of Loving. Ia menyinngungnya sebagai prilaku yang takut kehilangan, sehingga ia terus-menerus mencari cara agar dicintai. Meski kadang melakukan segala cara. Ini nama cinta palsu (pseudo love).

Dalam bukunya Psikologi Kepribadian (2012), Lynn Wilcox memaknainya sebagai cinta pemujaan (idolatrous love). Ia cenderung kecewa berat manakala dikatahui sang idola memiliki kejelekan. Konon lagi telah nyata membuat ia patah hati.

Cinta obsesif itu pula mendorong pemilik menjadi agresif. Agenda-agenda selama beberapa bulan pemilu direncanakan secara ambisius. Belum lagi dengan ilusi tentang masa depan yang dicanangkan penuh hasrat menguasai.

Atas dasar cinta inilah yang mendorong Kecebong dan Kampret mencintai idolanya, Jokowi dan Prabowo. Namun, idolanya diam-diam telah mengabaikan cintanya. Padahal sedari awal dicintai (saling mencintai) mati-matian.Bahkan didasari hal itu pula, pertemuan itu tak mereka harapkan sama sekali. Bagi Kecebong militan hendaknya Jokowi tidak tertarik menemui Prabowo karena telah menghajarnya habis-habis dan ini saatnya harus dipermalukan.

Mengingat poin kemenangan jagoannya 60 persen lebih. Secara kalkulasi politik tidak perlu mencari kawan. Jadi kini Prabowo dan Kampret harus meradang.Sebaliknya, Kampret menganggap bahwa jagoannya tidak butuh bertemu Jokowi. Dalihnya simple saja, selain sebagai rivalnya juga disinyalir menang secara tidak elegan (TSM). Sehingga kekalahan itu dianggap tidak wajar. Selain, itu wasit dicurigai bersekongkol dengan rivalnya.

Selama lima tahun ke depan atau mungkin bisa lebih lama menjadikan Jokowi dan cebong sebagai common enemy.  Ia pantas merasakan kebencian itu karena dianggap telah melakukan pengkhiatan.

Sayangnya taksiran itu tersisihkan sepenuhnya dengan pertemuan Jokowi dan Prabowo. Anak bangsa yang bertarung di pilpres tersebut bertemu untuk pertama kali. Kendati sebagai pertemuan awal namun telah memancarkan cinta dan keakraban.

Timing dan tempat pertemuan yang terbuka sepertinya memang dirancang untuk membuat Kecebong dan Kampret militan patah hati. Kemesraan itu dipertontokan di ruang publik. Yang memberi kesan keakraban dan jauh dari kata rekonsiliasi politik yang diasosiasikan elitis dan tertutup.

Rekonsiliasi  pada akhirnya dijawab dengan cinta altriustik (altriustic love). Dimana pemiliknya memilih nilai-nilai universal sebagai pijakan. Menanggalkan egoisme dan akan terpuaskan ketika melakukan sesuatu yang memiliki manfaat lebih besar.Cinta ini bagi Sorokin dan Hanson (1953) merupakan pilihan menuju ideal-ideal yang diinginkan. Dan kemudian kekuatan cinta tersebut mampu meluluhkan dorongan negatif yang kuat, termasuk cinta yang salah.

Pilihan Jokowi dan Prabowo mencintai Indonesia persis hal itu yang paling tidak diharapkan Kecebong dan Kampret. Karena akan kontra produktif dengan cintanya selama ini.

Secara tegas Jokowi dan Prabowo bahkan ultimatum. Jokowi misalnya, “Tidak ada lagi yang namanya cebong, tidak ada lagi yang namanya kampret, yang ada adalah Garuda, Garuda Indonesia”.

Yang kemudian ditimpali Prabowo. “Jadi saudara-saudara, saya sangat setuju. Sudahlah, tidak ada cebong-cebong, tidak ada kampret-kampret, semuanya Merah Putih”, Prabowo. seperti dilansir kompas.com. pada 13/7/2019.

Mereka mengorbankan semua kepentingan pribadinya demi menjaga Indonesia. Caranya dengan memulai dari diri mereka sendiri. Merawat keragaman dan keutuhan yang selama ini diteror. Itulah modal pangkal saling menguatkan cinta itu.

Pengorbanan tersebut menjadi abadi dan terkenang. Layaknya kisah cinta Qais dan Laila, Rama dan Shinta, serta Romeo dan Juliet. Daripada masing-masing bertahan pada cinta obsesif, cinta yang asosiasinya penuh amarah, cemburu, protektif, rayuan gombal, ambisius, kepalsuan dan egois itu.

Pertemuan itu sekalgius sebagai bentuk ketidakpercayaan pada ekspresi-ekspresi tanpa makna dan bualan-bualan kosong Kecebong dan Kampret fanatik selama ini.

Biar saja bagi mereka berhalusinasi tentang apa yang dilakukan Jokowi dan Prabowo. Karena itu memang sangat menyakitkan sekaligus menyisakan kekecewaan mendalam.

Atau mungkin memilih pergi dengan dendam dan membenci yang membara. Ketika mengingat tanggal 13 Juli menjadi menjadi simbol kebenciannya atas kecintaan pada Indonesia.

Yang terpenting adalah Indonesia dijaga dan dibangun atas nama kecintaan bukan ambisi. Jokowi dan Prabowo mengajarkan kita bahwa mencintai Indonesia diletakkan di atas segala-galanya.

Eriton
Penulis dan Mahasiswa Magister Sosiologi UMM, Malang-Aceh
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.