Kamis, Juni 20, 2024

Buya Syafii dalam Filsafat Pendidikan Islam

Bahry Al Farizi
Bahry Al Farizi
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Aktif sebagai Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM FAI UAD.

Judul: Spirit Pendidikan Islam dalam Bernegara Ala Buya Syafii Maarif

Penulis: Haryono Kapitang

Penerbit: Defamedia Pustaka

Tahun terbit: Januari, 2024

Buku berjudul “Spirit Pendidikan Islam dalam Bernegara Ala Buya Syafi’i Maarif” yang ditulis oleh Haryono Kapitang bermula dari kekaguman dan kecintaan yang besar kepada gagasan-gagasan brilian seorang guru bangsa, tokoh sejuta umat, pemikir progresif, Ahmad Syafii Maarif atau yang kerap disapa Buya Syafii.

Buku yang berasal dari penelitian untuk menuntaskan strata satu pendidikan agama Islam ini difokuskan pada pemikiran Buya Syafii dalam konteks pendidikan Islam dan kaitannya dengan spirit kebhinekaan yang santer digaungkan oleh Buya. (Hal. V)

Inspirasi tersebut berangkat dari keinginan penulis untuk membumikan pikiran-pikiran Buya Syafii dengan harapan dapat menciptakan kehidupan sosial yang nyaman dan aman bagi masyarakat dalam hidup bernegara. Hal ini dikarenakan secara sadar, penulis melihat banyak problematika bangsa yang harus ditangani secara serius dengan pendekatan nilai-nilai Islam yang sangat humanis dengan prinsip menjadi rahmat untuk seluruh alam. (Hal. Vi)

Temuan penelitian MAARIF Institute pada 2011, sebagaimana yang dikutip oleh Fajar Riza Ul Haq dalam prolog buku ini berjudul “Ancaman Ekstremisme di Institusi Pendidikan”, salah satu problematika tersebut ialah adanya peran guru pendidikan agama Islam dalam menyebarkan paham radikalisme yang menjurus pada sikap yang eksklusif dan intoleran. Selain itu, penyebaran radikalisme juga berasal dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. (Hal. Xi)

Artinya problematika tersebut terjadi karena spirit pendidikan Islam tidak dipahami secara menyeluruh sehingga mengakibatkan program maupun kebijakan pendidikan tidak selaras dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu, implementasi pembelajaran lebih menekankan aspek kognitif dibandingkan psikomotorik dan afektif.

Oleh karenanya, spirit pendidikan Islam menemukan urgensi yang sangat penting sebagai landasan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Spirit pendidikan Islam dimaksudkan bukan untuk sekadar mengubah istilah-istilah, misalnya pendidikan menjadi tarbiyah, tetapi lebih jauh dari itu. Yakni menanamkan nilai-nilai keislaman ke dalam praktik penyelenggaraan pendidikan.

Nilai-nilai keislaman tidak sebatas mengislamisasi istilah-istilah teknis sehingga yang tampak hanya simbolisme semata, melainkan menerapkan suatu sistem pemikiran pendidikan yang berakar kuat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah disertai dengan penafsiran yang kontekstual terhadap perkembangan zaman. Nilai-nilai keislaman tersebut sesuai dengan jiwa ajaran Islam dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal sehingga dapat menanamkan suatu pemikiran yang inklusif dan toleran.

Nantinya, buku ini mendiskusikan spirit pendidikan Islam yang khas sebagaimana akan terlihat dalam pemikiran Buya Syafii Maarif yang telah dikaji oleh penulis.

Buku ini dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama membahas tentang urgensi dan fungsi pendidikan Islam secara umum. Bagian kedua membahas tentang biografi Buya Syafii secara mendalam. Bagian ketiga membahas filsafat, hakikat, tujuan, fungsi, kampus ideal, dan kurikulum pendidikan Islam perspektif Buya Syafii. Bagian empat, sekaligus bagian penutup membahas tentang aktualisasi spirit pendidikan Islam dalam bernegara perspektif Buya Syafii.

Penulis memahami bahwa prinsip dasar pendidikan merupakan proses dalam mengubah sikap manusia untuk menjadi lebih baik lagi, sekaligus sebagai usaha sadar untuk mewujudkan generasi-generasi unggul dengan cara pengajaran dan pelatihan. Dalam hal ini, pendidikan bisa dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja. Dengan memanusiakan manusia, tidak hanya memiliki pemikiran yang brilian tetapi juga memiliki moral etik transenden dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Hal. 2)

Dalam konteks bernegara, berdasarkan perspektif Buya Syafii, penulis memahami bahwa prinsip dasar toleransi dalam konteks bernegara berangkat dari diktum”tidak ada paksaan dalam agama” dan “Nabi memang melarang memaksa pihak lain untuk beriman”. Maka bagi seorang Muslim dalam memengaruhi kehidupan dan mengembangkan toleransi dianggap jalan terbaik dalam hal ini.  (hal. 6)

Prinsip dasar pendidikan yang berupaya memanusiakan manusia dengan prinsip dasar toleransi yang berusaha diintegrasikan oleh penulis ke dalam suatu sistem filsafat pendidikan Islam kemudian menghasilkan etika bernegara ala Buya Syafii sebagai bentuk impelementasi dalam penyelenggeraan praktik pendidikan.

Penulis kemudian menjelaskan poin penting mengapa seorang Buya Syafii tertarik untuk masuk ke dalam diskursus pendidikan Islam. Walaupun Buya Syafii lebih dikenal sebagai seorang sejarawan,  Buya Syafii selalu mengarahkan perhatiannya untuk memberikan autokritik terhadap pendidikan Islam. (Hal. 22)

Salah satu kemampuan yang khas dari seorang Buya Syafii ialah kelihaian dalam mengartikulasikan gagasan-gagasan melalui karya-karyanya. Bahasa berwarna sastra betul-betul indah untuk dibaca dan direnungkan. Kemudian, keluasan wawasan disertai ketulusan etik yang dimilikinya merupakan karakteristik seorang intelektual yang jarang ditemui. Tidak mengherankan apabila beliau disebut sebagai guru bangsa.

Filsafat pendidikan Islam Buya Syafii dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, keselaran antara kecerdasan kognitif dengan kecerdasan emosional. Atau dengan kata lain, di samping keluasan wawasan, pendidikan harus mampu menyeimbangkannya dengan akhlakul karimah. Filsafat pendidikan dunia Barat memberhalakan rasionalisme, sedangkan filsafat pendidikan dunia Timur memberhalakan spiritualisme. Bagi Buya Syafii, filsafat pendidikan Islam mampu mengintegrasikan antara rasionalisme dengan spiritualisme. (Hal. 27)

Kedua, kritik atas konsep islamisasi pengetahuan. Substansi islamisasi yang dimaksud lebih tepat jika yang diislamkan adalah pusat kesadaran manusia yang terdapat di otak dan di hati. Sehingga, islamisasi pengetahuan tidak lagi menemukan relevansinya. Bagi Buya Syafii, semua pengetahuan berasal dari Allah. Oleh karenanya, tidak perlu untuk mendikotomikan antara ilmu sekular dengan ilmu agama, sebab keduanya diakui oleh Al-Qur’an sebagai pengetahuan yang sah. (Hal. 28)

Ketiga, khusus terhadap Muhammadiyah, Buya Syafii mengkritik bahwa belum ada filsafat pendidikan di Muhammadiyah yang komprehensif membahas tentang hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam semesta, dan hubungan manusia dengan sesama. Filsafat pendidikan di Muhammadiyah seharusnya membentuk rumusan untuk menjawab problematika tersebut. (Hal. 28)

Buya Syafii juga memberikan kritik terhadap sistem pendidikan modern yang hanya mencetak sarjana-sarjana yang kemudian hanya menjadi tukang-tukang. Artinya, perguruan tinggi yang tadinya berfungsi untuk menghasilkan sebuah peradaban kemudian mengalami disorientasi besar-besaran. (Hal. 37)

  • Filsafat Pendidikan Islam perspektif umum
  • Filsafat Pendidikan Islam versi Buya Syafii dan apa yang membedakannya dengan perspektif yang lain
  • Di mana letak kebaharuan penulis dalam membahas Filsafat Pendidikan Islam perspektif Buya Syafii
Bahry Al Farizi
Bahry Al Farizi
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Aktif sebagai Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM FAI UAD.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.