Ketika membicarakan kualitas buku ajar bahasa Inggris, perhatian kita sering tertuju pada pertanyaan: apakah materi sesuai dengan tingkat kemampuan siswa? Apakah kosakata yang digunakan relevan? Apakah latihan speaking, reading, writing, dan listening tersedia secara proporsional? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Namun, ada satu pertanyaan yang tidak kalah mendasar: karakter seperti apa yang dibentuk melalui buku ajar tersebut?
Buku ajar bukan sekadar kumpulan materi bahasa. Di dalamnya terdapat teks, gambar, dialog, tokoh, aktivitas, pertanyaan, dan situasi komunikasi yang secara sadar maupun tidak sadar membawa nilai tertentu. Ketika siswa membaca tentang persahabatan, keberagaman budaya, lingkungan, kemiskinan, teknologi, atau kehidupan masyarakat, sesungguhnya mereka tidak hanya sedang belajar bahasa Inggris. Mereka juga sedang belajar bagaimana memandang diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan dunia.
Di sinilah gagasan Character-Informed Coursebook Analysis Framework menjadi relevan. Kerangka ini memandang analisis buku ajar bahasa Inggris tidak cukup hanya dilakukan dari perspektif linguistik dan pedagogis, tetapi juga perlu mempertimbangkan dimensi karakter. Dengan kata lain, evaluasi coursebook tidak berhenti pada pertanyaan “What language does the book teach?”, tetapi berkembang menjadi “What kind of person does the book encourage learners to become?”
Gagasan tersebut semakin penting dalam konteks pendidikan Indonesia yang menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian integral dari pendidikan. Dalam pendidikan Muhammadiyah, misalnya, pengembangan karakter tidak dapat dilepaskan dari nilai keagamaan. Pendidikan diharapkan mampu melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak, memiliki kemampuan berpikir kritis, peduli terhadap sesama, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Karakter juga dapat dibangun melalui aktivitas pembelajaran. Sebuah buku mungkin menyediakan pair work, group discussion, role play, dan project-based activities. Secara pedagogis, aktivitas tersebut bertujuan mengembangkan kompetensi komunikatif. Namun, dari perspektif character-informed analysis, kita dapat melangkah lebih jauh: apakah aktivitas tersebut melatih kerja sama? Apakah siswa belajar mendengarkan pendapat orang lain? Apakah mereka belajar bertanggung jawab terhadap tugas kelompok? Apakah terdapat ruang untuk membangun empati dan menghargai perbedaan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa karakter tidak harus selalu diajarkan melalui bab khusus tentang “character education”. Karakter dapat hadir secara implisit melalui isi, konteks, representasi, aktivitas, dan pertanyaan reflektif yang terdapat dalam buku ajar.
Misalnya, sebuah teks tentang climate change dapat dianalisis bukan hanya berdasarkan tingkat kesulitan kosakata dan struktur kalimatnya. Teks tersebut juga dapat dikaji dari perspektif tanggung jawab terhadap lingkungan. Demikian pula teks tentang poverty dapat dievaluasi berdasarkan apakah penyajiannya menumbuhkan empati atau justru memperkuat stereotip. Materi tentang keberagaman budaya dapat ditinjau dari apakah buku tersebut membangun intercultural awareness atau hanya menampilkan budaya tertentu secara dangkal.
Dalam konteks ini, Character-Informed Coursebook Analysis Framework setidaknya dapat mencakup beberapa dimensi: integritas dan tanggung jawab, kepedulian sosial, penghargaan terhadap keberagaman, kolaborasi, empati, kepedulian lingkungan, kemandirian, berpikir kritis, serta refleksi diri. Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah, dimensi tersebut dapat diperkaya dengan nilai-nilai AIK sehingga analisis buku ajar tidak kehilangan akar filosofis dan identitas pendidikan.
Kerangka ini juga memiliki relevansi dengan Education for Sustainable Development (ESD). Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang lingkungan, sosial, dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan peduli terhadap masa depan. Dengan demikian, karakter dan keberlanjutan sesungguhnya memiliki titik temu yang kuat.
Namun, penerapan kerangka ini bukan berarti setiap halaman coursebook harus dipaksakan mengandung pesan moral atau ayat keagamaan. Integrasi karakter justru harus dilakukan secara kontekstual dan autentik. Buku ajar bahasa Inggris tetap harus memenuhi prinsip language learning, tetapi konteks bahasa yang digunakan dapat sekaligus membuka ruang bagi pembentukan karakter. Nilai tidak perlu ditempelkan; nilai dapat dihidupkan melalui pengalaman belajar.
Pada akhirnya, kualitas sebuah buku ajar seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak kosakata yang dapat dikuasai siswa atau seberapa baik mereka mampu menjawab soal. Kita juga perlu bertanya: apakah buku tersebut membantu siswa menjadi manusia yang lebih peduli, bertanggung jawab, terbuka terhadap perbedaan, mampu bekerja sama, dan memiliki kesadaran terhadap persoalan dunia?
Character-Informed Coursebook Analysis Framework menawarkan cara pandang bahwa evaluasi buku ajar adalah sekaligus evaluasi terhadap nilai-nilai yang sedang kita tanamkan kepada generasi muda. Sebab, ketika siswa belajar bahasa, sesungguhnya mereka juga sedang belajar tentang kehidupan. Maka, sudah saatnya English coursebook analysis tidak hanya bertanya tentang bahasa yang diajarkan, tetapi juga tentang karakter manusia yang dibentuk melalui bahasa tersebut.
