Budaya Toxic Masculinity yang Membelenggu Kaum Lelaki

Italia Putri
Italia Putri
Mahasiswa Baru Universitas Airlangga Program Studi Perbankan dan Keuangan
- Advertisement -

Di dalam kehidupan, berbagai budaya telah berkembang seiring berjalannya waktu. Budaya yang berkembang memengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Salah satunya yaitu budaya maskulinitas pada laki-laki. Namun, budaya ini disalahartikan oleh masyarakat yang justru menjadi rintangan bagi laki-laki dalam menjalani kehidupan. Maskulinitas yang menggambarkan kekuatan, keberanian, dan kepemimpinan berubah menjadi maskulinitas beracun atau yang kerap disebut sebagai toxic masculinity.

Apa itu toxic masculinity?

Toxic masculinity adalah tekanan budaya yang mengharuskan laki-laki untuk bersikap dan berperilaku tertentu yang menunjukkan sisi kejantanannya. Hal ini dinormalisasikan karena adanya anggapan karakter-karakter yang harus ada dalam diri laki-laki, seperti kepemimpinan, kekuatan, dan kekuasaan. Adanya toxic masculinity ini, laki laki dituntut untuk harus menjadi sosok yang dominan, kuat, gagah, dan pantang menunjukkan sisi kelemahannya.

Contoh toxic masculinity

1. Harus selalu bersikap maskulin dan pantang terhadap sesuatu yang berbau feminin

Laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang dianggap sebagai tugas perempuan, seperti memasak, menyapu, mencuci, mengasuh anak, dan sebagainya. Padahal, semua pekerjaan tersebut merupakan basic skill yang harus semua orang miliki, tidak hanya perempuan saja yang harus melakukan pekerjaan tersebut. Apalagi dalam kehidupan rumah tangga, di mana kedua belah pihak baik suami maupun istri harus saling bekerja sama demi terciptanya keharmonisan rumah tangga.

2. Tabu terhadap penggunaan produk perawatan kulit

Dalam anggapan masyarakat yang berkembang, produk perawatan kulit dibuat hanya untuk perempuan. Hal ini menyebabkan laki-laki merasa tidak nyaman dalam merawat dan menggunakan produk perawatan kulit. Mereka takut akan dianggap seperti ‘banci’, istilah popular saat ini tentang laki-laki yang dianggap menyerupai perempuan. Padahal, kini sudah tersedia produk perawatan tubuh yang diformulasikan khusus untuk laki-laki. Di era modern ini. merawat tubuh seharusnya menjadi kewajiban oleh semua orang, tanpa memandang gender.

3. Harus menjadi sosok yang tahan banting

Laki-laki yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin memiliki ekspektasi yang begitu tinggi dari masyarakat. Mereka harus menjadi sosok yang kuat, tegas, berani, dan tidak boleh menangis dalam mengekspresikan kesedihannya. Laki-laki yang sejatinya juga seorang manusia sangat layak untuk dapat mengekspresikan emosinya dengan bebas.

4. Kebiasaan tidak baik yang dinormalisasi

Kebiasaan merokok dan minum-minuman beralkohol menjadi hal yang normal dan dianggap sebagai standar maskulinitas laki-laki. Padahal, kebiasaan tersebut memberikan dampak buruk terhadap kesehatan tubuh yang bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis. Selain itu, laki-laki juga akan dianggap keren jika mengikuti tawuran, perkelahian, ataupun pertarungan. Laki-laki yang tidak menerima tantangan tawuran dengan mudahnya akan mendapatkan label cupu, cemen, dan penakut.

- Advertisement -

5. Bebas dalam mengekspresikan kemarahan dan kekerasan

Adanya tuntutan dari masyarakat bahwa laki-laki harus kuat dan pantang mengekspresikan emosi kesedihannya membuat laki-laki berpikiran bahwa emosi yang dapat mereka luapkan hanyalah kemarahan. Emosi kemarahan yang mereka luapkan tak jarang juga disertai dengan kekerasan.

Dampak negatif toxic masculinity

1. Masalah kesehatan mental

Tuntutan masyarakat bagi kaum laki-laki untuk tidak mengekspresikan kesedihannya membuat laki-laki merasakan tekanan psikologis seperti gangguan kecemasan, depresi, hingga bunuh diri.

2. Mudah agresif dan tersulut emosi

Toxic masculinity mendorong laki-laki memiliki pemikiran bahwa mereka bebas untuk meluapkan emosinya. Akibatnya, mereka cenderung akan mudah tersulut emosi dan mudah melakukan kekerasan.

3. Masalah kesehatan tubuh

Laki-laki yang memiliki kebiasaan merokok dan minum-minuman beralkohol tentunya akan merasakan efek buruk bagi kesehatannya di masa depan. Selain itu, enggan dalam menggunakan produk perawatan kulit seperti sunscreen, dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit akibat kulit yang tidak terlindungi dari bahaya sinar UV.

4. Diskriminasi dan pelecehan terhadap wanita

Pandangan bahwa laki-laki harus memiliki dominasi membuat mereka merasa lebih unggul dan menganggap wanita sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Akibatnya, mereka mudah untuk berperilaku semena-mena bahkan hingga melakukan pelecehan terhadap wanita.

Toxic masculinity telah menjadi budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Melihat dampak yang dirasakan begitu merugikan, sudah seharusnya toxic masculinity ini diluruskan kembali menjadi maskulinitas yang sehat. Di era modern, pola pikir kuno seperti laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaaan rumah, tidak boleh menangis, dan lain sebagainya harus dihilangkan. Semua orang pastinya ingin menjalani kehidupan dengan adil tanpa adanya standar yang menuntut.

Italia Putri
Italia Putri
Mahasiswa Baru Universitas Airlangga Program Studi Perbankan dan Keuangan
Facebook Comment
- Advertisement -