Kamis, Juni 20, 2024

Toxic Femininity: Perempuan dalam Persaingan

Veron Johansen
Veron Johansen
Saya seorang mahasiswa Psikologi di Universitas Airlangga di semester 2.

Dewasa ini, fenomena toxic femininity kerap menjadi topik yang ramai diperbincangkan, terutama dalam perbincangan kontemporer mengenai gender dan identitas. Istilah ini mengacu pada ekspektasi masyarakat tentang bagaimana semestinya perempuan berperilaku, berpenampilan, serta menjadi perempuan yang sempurna. Walau masyarakat pada umumnya lebih akrab dengan frasa toxic masculinity, sebenarnya kedua hal ini sama bahayanya terhadap kondisi psikis karena sifatnya yang menuntut.

“Beauty standards come from society, and society starts forming an idea of beauty through comparison of one human being to another, and they set up unrealistic standards” (Mateo, 2020)

Sebenarnya toxic femininity itu yang seperti apa, sih?

Toxic Femininity mengacu pada pola perilaku, sikap, atau norma sosial yang bersifat merugikan, membatasi, atau mempersempit perempuan. Sebagaimana kita jumpai di lingkungan sekitar kita, bagaimana masyarakat memiliki pandangan bahwa kecantikan seorang perempuan dilihat dari fisik yang tampak di depan mata. Lebih jauh lagi, tak jarang ada yang menyebutkan secara spesifik standar seperti apa yang mesti dimiliki seorang perempuan untuk kemudian pantas disebut ‘cantik’.

Akan tetapi, toxic femininity tidak terbatas pada aspek fisik saja. Begitu banyak ekspektasi masyarakat tentang perempuan yang kemudian dibebankan begitu saja untuk direalisasikan. Pada konteks ini, ekspektasi yang dibebankan bisa berupa tuntutan dalam keluarga, dunia kerja, maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Pada intinya, toxic femininity menciptakan paradoks di mana perempuan mungkin merasa terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis juga membatasi dirinya untuk berkembang.

Standar-standar inilah yang kemudian menimbulkan rasa takut pada diri wanita. Ketakutan akan dikucilkan dan dianggap sebelah mata, membuat mereka akhirnya mengubah diri mereka demi memenuhi standar buatan masyarakat yang mana akhirnya justru menghilangkan jati diri wanita itu sendiri. Yang lebih nahas lagi, invasi standar kecantikan ini juga merambah pada aspek kesehatan fisik sekaligus merusak mental para wanita.

Sejauh Apa Indikasi Negatifnya?

Kembali kepada konsep dari toxic femininity, yakni mempengaruhi perempuan dan menjebak mereka dalam tuntutan berperilaku. Menekankan pada sifat kelembutan, kooperatif, pasif, tunduk, sehingga kemudian mendapatkan penerimaan dan juga nilai tambah dari laki-laki maupun masyarakat. Lalu, sejauh apa dampak yang ditimbulkan konsep ini?

  1. Perempuan tidak diberi ruang untuk maju dan mengeksplorasi diri sesuai dengan keinginan mereka
  2. Menciptakan keraguan dan rasa tidak percaya diri dalam hal pengambilan keputusan karena tuntutan sekitar dan rasa cemas tidak memenuhi ekspektasi
  3. Menimbulkan perseteruan sesama perempuan, menjatuhkan sesama demi terlihat lebih baik/mendapat pengakuan
  4. Membuat perempuan kerap menyalahkan diri sendiri apabila tidak berhasil memenuhi ekspektasi
  5. Rentan mengalami masalah mental seperti depresi, anxiety, bahkan eating disorder

Mengatasi Toxic Femininity

Dalam upaya penanganan ini, penting untuk mengadopsi pendekatan yang bersifat holistik, di mana pendekatan ini mencakup edukasi terhadap masyarakat terkait pentingnya kesetaraan gender. Tidak hanya itu, pendekatan ini baiknya juga didorong dengan representasi media yang lebih inklusif serta promosi kesehatan mental yang positif. Mengatasi toxic femininity juga bisa dilakukan dengan memberikan pemberdayaan pada perempuan. Mendorong pemberdayaan perempuan melalui program-program pendidikan, pelatihan keterampilan, akses pekerjaan, serta dukungan untuk kepemimpinan dalam berbagai bidang.

Tentunya, dalam proses implementasi upaya ini diperlukan kolaborasi masyarakat dan yang tak kalah penting adalah kesadaran sekaligus pemahaman. Ketika individu sudah memahami pentingnya kesetaraan gender juga indikasi negatif akibat toxic femininity, tentu akan lebih mudah untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif, berdaya, dan mendukung semua individu tanpa memandang gender.

Veron Johansen
Veron Johansen
Saya seorang mahasiswa Psikologi di Universitas Airlangga di semester 2.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.