Bagaimana individu bertindak? Secara sosiologis, individu bertindak atas dasar kenyataan yang diciptakan dan disepakati oleh masyarakat. Itulah yang dinamakan sebagai konstruksi sosial. Kepalangnya, konstruksi sosial yang diciptakan masyarakat, menghasilkan pembelengguan kepada individu melalui klasifikasi baik dan buruk. Lalu, kenyataan tersebut dipaksakan seolah alamiah dan normal.
Sebagaimana penelitian Fithri Mutaafi yang menyibak konstruksi sosial dalam memberi beban hidup penderita kusta di Desa Dalpenang, Kabupaten Sampang. Dari hasil penelitiannya, penderita kusta harus kehilangan pekerjaan karena masyarakat menganggap penyakitnya sebagai kutukan.
Bahkan, belenggu konstruksi sosial sampai pada persoalan kelamin. Sebagaimana penelitian Pierre Bourdieu tentang maskulinitas di masyarakat Qubail. Salah satu hasil penelitiannya adalah perempuan Qubail saat berhubungan badan dilarang di posisi atas. Sebab, perempuan dianggap tidak suci karena setiap bulan mengeluarkan darah dari kemaluannya (menstruasi).
Selain masalah seks, belenggu konstruksi sosial perihal persoalan kelamin, turut mempersulit hidup orang yang gampang pipis. Dari saking sulitnya, menjadi orang yang gampang pipis, harus “berwajah tebal” karena masyarakat menilai sebagai orang aneh.
Mengapa dianggap aneh? Karena orang yang gampang pipis dianggap tidak sesuai standar tubuh kapitalisme yang mengedepankan efisiensi dan tertib jadwal. Sedangkan orang yang gampang pipis, dipandang akan menghasilkan tindakan buang-buang waktu. Konstruksi pengetahuan itu diobjektivasi melalui lembaga pendidikan. Kasus paling sederhana, jika ada murid yang sering izin pipis, guru pasti marah atau memandangnya ganjil.
Oleh karena itu, tak sedikit masyarakat menganggap orang yang gampang pipis sebagai individu aneh. Itulah yang saya rasakan. Saya tipikal orang yang gampang pipis karena suka minum air. Air 1 botol besar, bisa saya habiskan kurang dari 1 jam. Makanya, intensitas pipis saya terbilang cepat, di rumah biasanya tiap 10 menit pasti pipis. Kalau lagi nongkrong, biasanya saya pipis dua sampai tiga kali.
Masalah muncul tatkala saya harus beraktivitas di luar rumah. Saya menyadari kalau tidak semua individu bisa menerima kalau ada tipikal orang yang gampang pipis. Dari tatapan matanya, seolah saya hina seperti pelaku kriminal berwajah bengis.
Tatapan sinis, biasa saya alami waktu ngopi bersama teman-teman. Waktu saya membaur setelah memesan minuman, tidak lama kemudian saya ingin pergi ke belakang untuk mengeluarkan air kencing. Di sanalah, ada tatapan mata sinis, bahkan ada yang nyeletuk, “Nah… pasti mau pipis!”
Saya hanya diam mendengar celutakan semacam itu. Saya bingung mau merespons apa karena masalah pipis di luar kendali. Dan seperti ajaran stoik, apa yang ada di luar kendali, harus diterima apa adanya.
Masalah lebih getir ketika saya harus bertemu dengan orang yang lebih senior. Dalam situasi itu, saya terjebak dalam dua konstruksi sosial. Pertama, harus sopan kalau lagi sama orang yang lebih senior. Kedua, sering pipis dianggap tindakan memalukan. Di sanalah, diri saya seperti mengalami kondisi yang rumit, alot, dan berat.
Yang tak terlupakan ketika saya lagi rapat penelitian dengan dosen, air kencing sudah meronta-ronta untuk keluar. Cuman, saya tidak berani izin ke toilet karena saya malu, takut dianggap tidak sopan kalau izin ke belakang. Tapi apalah daya, air kencing yang sudah menumpuk di kantung kemih, rasanya seperti protes untuk segera dikeluarkan. Akhirnya dengan malu-malu, saya izin untuk pipis.
Sebenarnya, masalah menahan pipis, bukan hanya merepotkan saat bertemu sama orang yang lebih senior. Kalau lagi bertamu ke rumah orang, juga menjadi masalah. Jujur, saya sering memilih menahan pipis saat bertamu di rumah orang karena lebih memilih pipis di pom atau swalayan.
Kenapa? Dulu waktu saya kecil pernah numpang pipis di rumah orang. Tuan rumah memang senyum, tapi senyumnya seperti senyum meledek. Kejadian itu menjadi memori yang membentuk kesadaran saya kalau pipis di rumah orang adalah aib.
Memang, sebagai orang yang gampang pipis, saya selalu mengalami dilema. Di satu sisi, menahan pipis itu rasanya tidak enak, bagian belakang badan seperti ada beban yang mengganjal. Di sisi lain, pipis terus di hadapan orang, bikin hati saya merasa tidak enak.
Makanya, saya tidak suka bepergian ke luar kota bersama banyak orang. Soalnya, saya sering overthinking, ada rasa khawatir kalau di perjalanan, saya sering berhenti karena mau pipis. Mungkin mereka iya iya saja, tapi di hatinya paling ngedumel karena kalau pipis terus, perjalanan jadi tersendat.
Sama halnya kalau saya pergi ke Surabaya naik travel. Mendekati hari keberangkatan, saya pasti overthinking takut kebelet pipis di tengah jalan. Sebenarnya, saya bisa saja meminta ke sopir untuk berhenti di pom bensin atau masjid untuk berhenti. Cuman di kepala saya sudah “berisik” memikirkan rasa jengkel dan muak dari penumpang lainnya.
Ah… memang berat jadi orang yang gampang pipis! Harus siap menerima kesinisan orang dan perjalanan yang tidak ramah padanya! Sampai kapan konstruksi sosial tentang orang yang gampang pipis dianggap aneh terus berjalan?
