Jumat, Juni 18, 2021

Bakunin Sang Anarkis Berbentuk Koplo

Keamanan Energi Kawasan Timur Tengah

Senin, 23 November 2020 dilansir dari akun CNN Indonesia, Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa adanya serangan Rudal ke Kilang Minyak ARAMCO (Arabian American Oil...

Derita Tahunan Masuk PTN

Setiap menjelang akhir tahun ajaran sekaligus menyambut tahun ajaran baru, mimik pendidikan di Indonesia berubah menjadi manyun dan ber-emoji lagi sedih. Bukan tanpa alasan,...

(Calon) Pemimpin Baru dan Tugas Kegembalaan

Metafor gembala yang disematkan pada pemimpin atau penguasa dalam segala bentuknya mulai dikenal di seluruh wilayah Timur Dekat Kuno seperti Sumeria, Mesir, dan Babilonia...

Sebuah Prahara Bangsa Moro

Suku Moro di Mindanao. Sebuah bangsa etnoreligius yang hidup dalam entitas keberagaman dan adat-istiadat yang kuat. Dahulu, di tanah itu, nenek moyang mereka hidup...
Zufi Misbahus Surur
Peminat Kajian Humanisme dan Postkolonialisme.

Gagasan tentang Tuhan mengisyaratkan takluknya nalar dan keadilan manusia. Ia merupakan negasi yang paling tidak menentukan atas kebebasan manusia, dan secara niscaya akan berakhir dalam perbudakan umat manusia, baik secara teoritis maupun praktis.

Mikhail Bakunin (Tuhan dan Negara 2017:53)

Sekilas lalu kita ditampar kembali dari kesadaran tentang memahami arti dari perlawanan dalam kehidupan. Lewat pesoalan konflik yang melanda pedangdut tersohor dari tanah luapan lumpur Lapindo dengan seorang pemusik beraliran Punk-Rock berasal dari pulau dewata Bali. Yakni Via Vallen (VV) dengan koplo “pantura”-nya dan JRX-SID dengan Sunset di Tanah Anarkinya (SdTA).

Sebagai masyarakat biasa tentu kita sangat paham bagaimana hidup sebagai manusia beradab adalah sebuah ketakberkesudahan yang langgeng. Manusia adalah kompleksitas yang niscaya dan kompleksitas itu adalah lambang dari keparipurnaan manusia.

Boleh dikata bahwa apa yang menjadi persoalan fundamental dari konflik kedua artist yang sangat bertolak belakang genre dan historisitasnya ini adalah persoalan substansi dari eksistensi sebuah produk seni.

Jrx sebagai pencipta lagu “SdTA” secara sadar mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap VV karena ia dianggap tidak memahami substansi macam apa yang hadir dari lagu itu ketika dibawakannya di atas panggung.

Beberapa hal yang mendasari jrx untuk tidak puas adalah salah satunya bahwa karya yang diciptakannya tidak dibarengi dengan sikap perlawanan terhadap penguasa oleh sang pengcover yakni VV.

VV dianggap banal dan klise ketika membawakan lagu SDTA versi koplo panturanya tanpa turut campur dan baku keringat turun kejalan secara simbolis menentang hegemoni penguasa dan pemilik modal yang menindas. Atau paling tidak turut serta membantu menyampaikan pesan yang tersirat dalam lagu SdTA bahwa kita tidak sedang baik-baik saja hidup dibawah cengkraman rezim macam apapun.

Boleh dikata bahwa lagu itu adalah produk dari proses-proses imajinasi tentang perlawan bagi SID yang disimbolkan pada lirik-lirik lagu. Itu bagus dan aktual tapi sebagai masyarakat awam tentang perlawanan boleh juga dikata Cover lagu dalam bentuk koplopun adalah semacam bentuk perlawanan dengan metode “lain” terhadap ketertindasan dari sesuatu yang sudah mapan atau dianggap mapan.

Kalaupun dalam SdTA bisa kita tafsiri secara banal sebagai lambang dari anarkisme yang mengamini imaji tentang kolektivisime masyarakat tanpa negara atau lembaga sukarela dalam mengatur diri sendiri, pada akhirnya epigram  art for art gagal hadir didalamnya.

Lantas apakah kedua belah pihak salah? Bagi pemegang prinsip kebebasan hal semacam diatas adalah bentuk dari proses humanisasi, tidak ada yang salah dari keduanya, bukan urusan oposisi-binarian benar-salah yang jadi standar penentunya. Dalam hal apapun didunia ini pasti akan berimplikasi pada persoalan ethics, politics, and cultures tak terkecuali persoalan diatas.

Kutipan kalimat Bakunin diatas adalah sebuah tanggapan atas realitas yang Hegemonik. Kalaupun persoalan cover lagu yang dianggap kurang meresap pada jiwa-jiwa perlawan yang diartikan oleh SID itu dianggap betul, hal semacam itu adalah sebuah bentuk kewajaran.

Tapi gagasan dari God-father anarkisme Bakunin tentang ketidak tundukan manusia terhadap kemapanan konsepsi apapun yang diciptakan oleh manusia itu sendiri tampaknya tidak berarti atau boleh dikata gagal secara substansial untuk dipahami.

Atau kita bisa pahami agak rumit bahwa kita menegasikan perlawanan dengan cara menegasikan kembali bentuk dan simbol-simbol perlawanan yang kita ciptakan sendiri. Lantas bagaimana bentuk perlawanan yang dianggap betul dan patut diperjuangkan?

Bukankah memoles lagu bergenre Punk menjadi Koplo adalah sebentuk perlawanan terhadap kemapanan aturan madzhab seni musik. Kalau toh musik kita pahami sebagai budaya masyarakat manusia yang bersifat universal. Sebagai medium dan katalisator perlawanan dalam peradaban manusia.

Kasus diatas adalah semacam tamparan realitas kepada kita, bagaimana kita memahami dan meredefinisikan term perlawanan. Bukankan perlawanan adalah negasi terhadap semua konsepsi tentang yang mapan? Tentang sesuatu yang bukan berarti seterusnya benar dan membahagiakan.

Penyadaran tentang perlawanan itu adalah simbolisasi bahwa manusia dengan rasio dan intuisinya akan selalu mencari jalan untuk menuju kepada kebahagian hidup yang abadi. Imajinasi tentang kebahagiaan hidup adalah sebuah usaha menuju praksis dalam pencarian metode dan cara menjangkaunya. Begitupun dengan perlawanan terhadap apapun yang membui kebebasan dan kebahagiaan.

Dalam ungkapan yang sangat indah dan puitis, Ovidius memberi gambaran tentang utopia anarkis macam ini. Dalam buku pertamanya, Metamorphosis, Ovidius menulis tentang era keemasan, era ketika masyarakat tak memiliki hukum, tanpa ada seorang pun yang memaksakan kehendaknya atas orang lain.

Setiap orang diberi kebebasan dan melakukan hal yang benar. Tak ada ketakutan hukum, tak ada sanksi hukum yang di ukir di atas lembaran-lembaran perunggu, tak ada tuntutan hukum dari masyarakat, yang penuh ketakutan atas balasan dan hukuman yang kelak akan diterima.

Satu-satunya pembeda antara Ovidius dengan Filosof anarkis modern adalah penempatan era keemasan itu. Ovidius menempatkannya pada awal sejarah manusia sementara generasi penerusnya menempatkan konsepsi itu sebagai tujuan akhir kehidupan manusia.

Lantas kita sebagai manusia di generasi pasca-modern yang (katanya) mewarisi jiwa-jiwa perlawanan ini memilih untuk menjadi Ovidius atau Penerusnya?

Daftar Pustaka

Bakunin, Mikhael. Tuhan dan Negara. Penerbit Parabel, Salatiga, 2017

 

 

 

Zufi Misbahus Surur
Peminat Kajian Humanisme dan Postkolonialisme.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

Eksploitasi Pasar Menggunakan Tubuh Perempuan

Jika Anda terlahirkan sebagai seorang perempuan maka Anda harus bersiap menerima kenyataan sebagai warga kelas dua yang ditakdirkan berada dibawah dominasi maskulinitas laki-laki. Dan...

Dirut BPJS Kesehatan: Agar JKN-KIS Sustain, Kendali Mutu Kendali Biaya Jadi Prioritas Utama

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta JKN-KIS sekaligus menguatkan perannya sebagai strategic purchaser, BPJS Kesehatan mengajak mitra fasilitas kesehatan, tenaga medis, pemerintah daerah,...

Melirik Lebih dalam Terkait Kontroversi “BTS Meal”

Baru-baru ini Indonesia digemparkan oleh salah satu menu makanan dari perusahaan makanan ternama yaitu McDonald's. Dimana McDonald's melakukan kolaborasi dengan boyband yang sangat populer...

Meninjau Wacana Menghidupkan Kembali Pasal Penghinaan Presiden

Kementerian Hukum dan HAM sampai saat ini terus mensosialisasikan draf Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Seperti yang diketahui, pengesahan RKUHP sempat ditunda oleh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.