Usai memberikan tausiah pada Wisuda Takrimun Najihin Pesantren Muhammadiyah Al Furqon Singaparna, Minggu (7/6/2026), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq melanjutkan silaturahmi ke Pesantren Cintawana.
Dua pesantren tersebut bertetangga di kawasan Singaparna, wilayah yang sejak lama dikenal menjadi salah satu ruang tumbuh pendidikan Islam di Tasikmalaya. Dari Pesantren Muhammadiyah Al Furqon, silaturahmi berlanjut ke Pesantren Cintawana, pesantren bersejarah yang telah melahirkan sejumlah tokoh bangsa.
Di pesantren itulah Wamendikdamen Fajar menyambungkan jejak silaturahmi dan keilmuan yang pernah ia dengar dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir.
“Salah satu yang memberi tahu saya tentang Cintawana adalah Prof. Haedar Nashir. Beliau banyak bercerita tentang pesantren ini. Bahkan beliau berpesan, kalau ke Tasikmalaya, saya harus mampir ke Cintawana,” ungkap alumni Pesantren Darusalam Ciamis tersebut.
Pesan itu memiliki makna tersendiri bagi Wamendikdasmen Fajar. Selain mengenal Prof. Haedar sebagai tokoh bangsa dan pemimpin Muhammadiyah, ia juga merasakan adanya hubungan batin yang terjalin melalui mata rantai keilmuan pesantren.
“Setelah saya mendengar beberapa alumni yang disebut Pak Kiai Asep tadi, rupanya nasab keilmuan saya nyambung. Karena itu saya merasa memiliki hubungan batin dengan pesantren ini,” ungkapnya.
Kehadiran Wamendikdasmen Fajar disambut hangat oleh Pimpinan Pesantren Cintawana, KH Asep Ahmad Suja’i. Ia menyampaikan rasa syukur atas kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai anugerah bagi keluarga besar pesantren.
“Alhamdulillah Pak Wamen bisa bersilaturahmi kepada kami. Ini anugerah bagi kami. Ahlan wa sahlan, selamat datang di Pesantren Cintawana,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, KH Asep menjelaskan bahwa Pesantren Cintawana selama lebih dari satu abad telah berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, dan perjuangan kebangsaan. Pesantren tersebut juga kerap menjadi tujuan silaturahmi berbagai tokoh nasional dari beragam latar belakang.
Berdiri sejak 1917, Pesantren Cintawana telah melewati berbagai fase sejarah bangsa. Dari lingkungan pesantren inilah lahir sejumlah tokoh yang kelak berkiprah di tingkat nasional, mulai dari Pahlawan Nasional KH Zainal Mustafa, pendiri Pesantren Cipasung KH Ilyas Ruhiat, hingga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir. Jejak para alumninya menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan juga ruang persemaian kepemimpinan dan pengabdian bagi bangsa.
KH Asep juga menegaskan bahwa Pesantren Cintawana tidak berafiliasi secara formal dengan organisasi Islam tertentu. Namun, pesantren memberikan ruang luas bagi para santri dan alumninya untuk berkiprah di berbagai organisasi dan bidang pengabdian.
“Kami membolehkan santri aktif di mana pun selama membawa manfaat dan kemaslahatan,” ungkap KH Asep.
Setelah memperkenalkan sejarah dan tradisi panjang Cintawana, KH Asep kemudian mempersilakan Wamendikdasmen Fajar memberikan motivasi kepada para santri.
Di hadapan para santri, Wamendikdasmen Fajar mengajak mereka untuk bangga menjadi bagian dari pesantren yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar bagi Indonesia. Menurutnya, banyak tokoh nasional lahir dari lingkungan pesantren karena ditempa oleh tradisi ilmu, kedisiplinan, dan pembentukan karakter yang kuat.
“Ade-ade harus berbangga. Pondok ini telah melahirkan banyak tokoh besar bangsa. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang banyak,” pesannya.
Lebih jauh, Wamendikdasmen Fajar kemudian mengenang pengalaman hidupnya sebagai alumni pesantren. Baginya, salah satu pelajaran paling berharga yang diperoleh dari pesantren adalah kemampuan hidup mandiri, menghargai waktu, menjaga disiplin, serta menempatkan ilmu sebagai jalan pengabdian.
“Di pesantren kita belajar hidup mandiri. Belajar disiplin. Belajar menghormati ilmu dan para kiai. Karena itu ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang berkah,” tuturnya.
Menurut Wamendikdasmen Fajar, nilai-nilai tersebut semakin relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat. Kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan menuntut generasi muda untuk terus belajar dan mampu beradaptasi.
“Alumni pesantren bisa bersaing dengan siapa pun. Pesantren punya kelebihan dalam membentuk ketahanan, kedisiplinan, dan karakter. Modal itu sangat penting untuk menghadapi masa depan,” ujarnya.
Ia juga menitipkan pesan agar para santri membangun etos keilmuan yang kuat dan tidak pernah berhenti belajar.
“Saran saya, manfaatkan waktu untuk hal-hal yang dekat dengan ilmu. Perkuat keterampilan dan kepemimpinan. Tidak ada titik berhenti untuk belajar.”
Di akhir, Wamendikdasmen Fajar menegaskan bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat sehingga kemampuan belajar menjadi modal utama generasi muda.
“Kuatkan etos keilmuan. Bangun mental cepat belajar. Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dan manusia yang mampu beradaptasilah yang akan terus maju,” tegasnya.
Silaturahmi di Pesantren Cintawana pada akhirnya bukan hanya tentang kunjungan seorang wakil menteri ke sebuah lembaga pendidikan Islam. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga mata rantai keilmuan, menghormati para guru, dan merawat tradisi pesantren yang selama lebih dari satu abad telah melahirkan generasi-generasi yang mengabdikan ilmu dan kehidupannya untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.
