Jumat, April 23, 2021

Setelah Kudeta Film Dilan 1991, Mahasiswa Makassar Akan Sweeping Buku La Galigo. Ada Apa?

Christchurch, Sri Lanka, Dua Tanggapan yang Berbeda

Jumat, 15 Maret 2019, menjadi hari penuh darah di Christchurch, Selandia Baru. Saat ratusan umat Islam hendak menjalankan ibadah salat Jumat di Masjid Al-Noor,...

Akrobat Berebut Kursi: Megawati-Prabowo dan Anies-Paloh

Inilah politik. Semua serba cair. Ada wajah politik yang tampil di permukaan, ada juga yang ada di belakang panggung. Mungkin di antara keduanya bisa...

Kejujuran Prabowo Subianto Harus Kita Apresiasi

Alangkah bijaksana bila mulai saat ini seluruh rakyat Indonesia berhenti memplesetkan nama Prabowo menjadi Prabohong. Prabowo bukan tipe orang yang suka bohong. Ia justru...

Tommy Soeharto dan Partai Berkarya Dukung Jokowi 7 Periode

Meski belum jelas apakah Jusuf Kalla (JK) dan Partai Perindo akan memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) soal masa jabatan wakil presiden, Hutomo Mandala...
Avatar
Dhihram Tenrisau
Penulis dan juga Dokter Gigi Muda.

Makassar, MANDHANINEWS — Setelah Mahasiswa Makassar melakukan penolakan dan kericuhan terkait film Dilan 1991, para mahasiswa ini akan melakukan kudeta terhadap film tersebut di bioskop-bioskop kota Makassar.

Niat itu disampaikan dalam konfrensi pers Aliansi Mahasiswaan Peduli Pendidikang di Liquid Club, Hotel Clarion, Sabtu dini hari (2/3).

“Kami akan melakukan kudeta terhadap orang-orang yang terlibat pemutaran film Dilan 1991, seperti adegan di G30SPKI,” tutur Baco selaku ketua Aliansi tersebut sembari diiringi musik oleh DJ.

Mereka bertutur akan melakukan penculikan terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film ini. Mulai dari Iqbal Ramadhan, sang penulis Pidi Baiq, sang sutradara Fajar Nugros, hingga mbak-mbak yang menjual tiket dan menjaga pintu studio sekuel film Dilan 1990 ini.

“Akan kami bilang, ‘Makassar itu merah, Dilang, seperti jersey PSM (Pesatuan Sepakbola Makassar)’, lalu kita sayat bersama-sama,” tuturnya setelah menenggak sebotol whiskey.

Menurutnya, film ini sangat jauh dari nilai kearifan lokal Bugis-Makassar. Juga dapat berbahaya bagi warisan budaya di Bugis-Makassar.

“Di film Dilang, tidak ada adegan berartung pakai badik dan sitobo lalang lipa‘ (pertarungan dalam sarung khas Bugis-Makassar). Harusnya Dilang sama gurunya seperti itu, itu baru laki dan jantan,” lanjut Baco sembari mengangkat sebotol whiskey yang sisa seperempat itu.

Selain dari itu, aliansi lintas mahasiswa Makassar ini sepakat untuk memberi tiada batasan umur untuk film Foxtrot Six dan The Night Comes for Us. Film aksi yang menunjukkan kekerasan dan kesadisan itu menurutnya bagus untuk anak-anak.

“Karena ini akan bagus untuk pembinaan karakter usia dini, utamanya untuk anak SD,” tutur mahasiswa semester 20 Universitas Hampir Swasta Makassar (Uhamsam).

Menurutnya anak-anak harus dibiasakan terhadap kekerasan, agar mereka dapat terbiasa dengan lingkungan yang keras di Indonesia.

Dalam acara yang dilangsungkan hingga subuh itu, dia mengatakan pihaknya akan mendukung remake film G30SPKI.

Setelah melakukan kudeta terhadap film Dilan 1991, Baco menuturkan pihaknya akan melakukan sweeping terhadap buku-buku yang melecehkan nilai dan budaya Bugis-Makassar.

Dalam rilisan yang diterima oleh Bombonews, terlihat beberapa penelitian di sejumlah institusi pendidikan. Juga terlihat beberapa buku, seperti, Latoa karya antropolog begawan Prof. Mattulada, Manusia Bugis karya peneliti senior Christian Pelras, Semesta Manusia karya budayawan Nirwan A. Arsuka, dan La Galigo.

“Buku-buku itu mengajarkan bahwa masyarakat Bugis-Makassar itu bersifat terbuka, intelektual, dan ramah. Padahal dari kata ‘kasar’ di ‘Makassar’, sudah jelas bahwa orang Bugis-Makassar itu primitif,” lanjutnya.

Dia juga menuturkan bahwa epik La Galigo—epik mitos tentang penciptaan dari Bugis Makassar, karya yang diduga sebelum Mahabarata sudah tidak orisinil dan adalah rekaan semata. Menurutnya, La Galigo adalah buatan asing, untuk menghancurkan peradaban Bugis-Makassar.

“Kalau La Galigo itu asli, harusnya ada PDF dan ebooknya, toh,” paparnya menahan tubuhnya yang oleng.

Kontroversi Budaya Bugis-Makassar

Perdebatan mengenai budaya Bugis-Makassar, memantik pendapat ahli. Salah satunya Pakar Sejarah Kotoran Manusia, Prof. Andi Tipu-Tipu. Saat ditemui oleh Bombonews di kediamannya Minggu (3/3), dia menuturkan bahwa banyak kebohongan yang dihembuskan mengenai budaya Bugis-Makassar.

“Mattulada, Pelras, dan Nirwan A. Arsuka adalah pembohong besar,” tegasnya.

Menurutnya budaya Bugis-Makassar memang selalu terikat dengan kericuhan dan kekacauaan. Dia juga melanjutkan bahwa gambaran soal asal muasal terma ‘Makassar’ dari mangkasarak sebagai masyarakat yang ramah dan terbuka adalah penistaan terhadap akal sehat.

Turut juga dia menentang mitos terhadap Karaeng Pattingalloang, intelektual dan perdana menteri Makassar, dan ketenaran Makassar sebagai bandar terbesar di abad ke-17

“Semua itu adalah hoax. Makassar sudah jelas berasal dari kata ‘kasar’. Saya kira itu sudah terbukti sekarang kan, kalau demo di Makassar pasti keos,” lanjut guru besar Uhamsam ini.

Dia menyebutkan gerakan-gerakan literasi seperti yang dilakukan oleh banyak komunitas-komunitas ataupun festival sastra di Makassar, justru akan melemahkan nilai budaya Bugis-Makassar itu sendiri.

“Buat apa itu gerakan literasi, itu yang bikin gerakan mahasiswa melemah. Karena jadinya, mereka lebih melatih otak ketimbang otot,” ujar Tipu.

Lanjutnya, Tipu melanjutkan bahwa  Budaya Makassar yang sebenarnya dapat dilihat dari sikap tawuran, bakar ban, tutup jalan, hingga uang panaik yang tinggi (semacam mahar dalam tradisi Bugis-Makassar).

Dia mendukung framing media tentang mahasiswa Makassar yang gemar tawuran dan primitif.

Framing media terkait mahasiswa yang gemar ricuh itu baik, utamanya untuk kebugaran tubuh, apalagi Pak JK (Jusuf Kalla) sepakat ji juga toh,” lanjutnya.

Untuk itu, dia menyarankan agar budaya Bugis-Makassar ini segera dilestarikan dan masuk dalam cagar budaya baik nasional ataupun internasional.

“Di mana lagi dapat mahasiswa yang lebih suka tutup jalan dan demo dibandingkan baca buku? Saya kira berkat kegiatan bermanfaat para mahasiswa itu, prestasi minat baca rendah dan tidak masuk Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018  dapat diraih. Itu cukup baik untuk masyarakat primitif,” tutur Tipu.

Selanjutnya, menurut ketua pakar kotoran se-Indonesia ini, visi-misi terkait Walikota Makassar, Danny Pomanto terkait Makassar kota dunia adalah omong kosong.

“Makassar tidak butuh jadi kota dunia, Makassar cuma butuh ruang yang lebih banyak untuk tawuran dan bakar ban,” ujarnya.

Dia kemudian sepakat mendukung gerakan penolakan film Dilan 1991 dilarang diputar di Makassar. Menurutnya itu berbahaya penolakan dari mahasiswa dan dapat berefek pada pengrusakan bioskop-bioskop dan fasilitas umum lainnya.

“Lebih baik tidak usah putar itu film. Maumi diapa? (Mau bagaimana lagi?),” tutupnya.

Avatar
Dhihram Tenrisau
Penulis dan juga Dokter Gigi Muda.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.