Selasa, Juni 15, 2021

Kalau FPI Dibubarkan, Mau ke Mana Mereka?

Agar Agama Tak Jadi Kutukan

Imagine there’s no country And no religion too Imagine all the people Living life in peace (John Lennon dalam “Imagine”) Marxisme pernah memimpikan anarkisme, masyarakat tanpa negara. Jauh, sebelum...

Trinitas yang Tidak Qur’ani, untuk Mun’im Sirry

Memperkaya wawasan tentang bangunan keyakinan umat agama lain merupakan hal yang positif. Namun, memaksakan keyakinan satu agama untuk mengamini kebenaran agama yang lain merupakan...

Carolyn yang Menggemparkan Jerman

Carolyn, wanita aristokrat Jerman keturunan Raja Prusia, masuk Islam, tahun 1907. Masuk Islamnya Carolyn, menggemparkan orang Jerman saat itu. Maklumlah, awal abad ke-20, wajah...

Tersandung Logika Taliban

Salah satu narasi arus utama yang lalu-lalang di jagat media sosial terkait dengan argumen pembenar inisiatif revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi adalah adanya talibanisasi...
Avatar
Denny Siregar
Penulis dan blogger.

Wacana publik untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI) terus bergema.

Meski kader-kader FPI terus-menerus mengunggah foto lama berupa FPI turun ke Aceh untuk membantu korban tsunami, publik keburu sudah muak dengan kekerasan demi kekerasan yang pernah dilakukan FPI.

FPI besar pada era 1998, ketika ada kebutuhan militer waktu itu untuk membendung aksi mahasiswa dengan membentuk Pam Swakarsa. Kabarnya, FPI mengirimkan 100 ribu orangnya.

Sesudah itu, FPI seperti laskar yang tidak terbendung dengan dalih “polisi syariat”. Mereka mengobrak-abrik warung yang buka saat Ramadhan, melakukan kekerasan di jalanan kepada kelompok yang tidak sepandangan dengan mereka, sampai merusak patung-patung di Purwakarta.

Jejak kekerasan FPI bertambah ketika mereka sempat mendukung keberadaan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). FPI juga ikut serta dalam gerakan 411 dan 212. Dan tambah runyam ketika Imam Besar mereka menghina polisi, Presiden bahkan menyebut Pancasila sebagai Pantat Gila.

Dengan semua rekam jejak itu, sia-sia kader FPI mengunggah gambar-gambar yang dikira bisa menyentuh hati publik saat FPI turun pada bencana tsunami Aceh. “Bubarkan FPI!” adalah teriakan di mana-mana karena rasa muak atas apa yang pernah dilakukan mereka dengan jumawa.

Pertanyaanya, jika FPI dibubarkan, mereka mau ke mana?

Kemungkinan terbesar adalah FPI ganti nama. Ini yang bisa mereka lakukan untuk menghapuskan jejak kekerasan yang pernah mereka lakukan.

Tapi, yang berbahaya adalah ketika kader yang sudah terdampak doktrin kekerasan itu akhirnya bergabung dengan organisasi yang lebih militan dan punya tujuan kekerasan berbeda dengan bom bunuh diri.

Sangat mungkin terjadi, kader FPI yang masih sangat muda dan belum punya pegangan itu dirayu untuk menjadi “penganten”. Ini akan menaikkan level mereka dari pendemo di jalanan menjadi aksi nyata.

Ini yang dikhawatirkan pemerintah. Jika asal membubarkan, tentu enak saja. Dampaknya bagaimana? Tentu harus ada kajian-kajian untuk meredam dampak yang mungkin terjadi. Apalagi Indonesia sedang berpacu dalam menggaet investor asing, satu bom bunuh diri saja akan berdampak pada banyak hal di negeri ini.

FPI adalah “monster” yang sejak kecil dipelihara dan sekarang berpotensi memakan tuannya. Tanpa ada kajian matang cara membubarkan mereka, FPI bisa jadi akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah daripada mereka tetap ada.

Seruput kopinya…

Baca juga

“Masturbasi Antiklimaks” FPI

Menteri Lukman dan Politik Takfir

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Akar Politisasi dan Kekerasan Atas Nama Agama

Kekerasan Atas Nama Tuhan

Avatar
Denny Siregar
Penulis dan blogger.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER