Belajar dari Kasus Knetz-SEAblings: Ketika Hoaks Menjadi Senjata

Alya Capah
Alya Capah
International Relations student at UPN "Veteran" Jawa Timur.
- Advertisement -

Narasi yang berulang dapat membentuk opini global, bermula dari sesuatu yang tampak “benar” meskipun belum tentu akurat. Pada Oktober 2025, sekitar 6,04 miliar orang di seluruh dunia menggunakan internet, setara total 73,2 persen dari jumlah populasi dunia. Laporan pertumbuhan perjalanan digital sebesar 294 juta, dengan laju peningkatan sekitar +5,1 persen.

Laju peningkatan pengguna internet yang signifikan di seluruh dunia.

Penggunaan media sosial aktif mencapai 5,66 miliar, hal ini telah mengubah dinamika masyarakat global berinteraksi dan memahami sebuah peristiwa dalam satu dekade terakhir. Jika sebelumnya negara, media arus utama, atau institusi global membentuk opini publik, kini paradigma tersebut semakin bergeser ke tangan komunitas digital. Platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya menjadi ruang baru di mana opini tidak hanya dibentuk, tetapi juga dipertentangkan secara terbuka lintas negara.

Fenomena media sosial terlihat jelas dalam perseteruan antara Knetz (Korean Netizens) dan SEAblings (komunitas netizen Asia Tenggara) yang sempat ramai di berbagai platform digital. Konflik ini bermula dari isu yang sebenarnya bersifat lokal, yakni dugaan penyelundupan kamera profesional oleh fansite Korea Selatan saat konser DAY6 di Axiata Arena, Malaysia, pada 31 Januari 2026. Namun, dalam waktu singkat, isu tersebut meluas menjadi perdebatan lintas negara dan bahkan menjadi trending topic di platform X pada awal Februari 2026.

Data Business of Apps menampilkan 10 aplikasi media sosial terpopuler sepanjang 2025.

Perkembangan pesat ini menunjukkan ruang digital dapat membuat isu kecil meluas dengan cepat hingga menjadi perhatian global. Tagar populer seperti #Knetz dan #SEAblings tidak hanya menjadi simbol perseteruan, tetapi juga alat mobilisasi opini publik yang melibatkan pengguna dari berbagai negara.

Di tengah konflik tersebut, berbagai bentuk reaksi digital bermunculan. Salah satu yang menjadi sorotan publik ialah unggahan dari netizen Korea Selatan yang menampilkan gambar monyet dengan keterangan yang dianggap merendahkan perempuan Asia Tenggara. Unggahan ini memicu amarah luas dan memperburuk tensi antarkomunitas. Tidak berhenti di situ, reaksi dari netizen internasional pun turut campur tangan, termasuk komentar dari pengguna Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah yang terlibat mengomentari konflik tersebut, baik secara serius maupun sarkastik.

Ketegangan ini tidak hanya muncul di ruang kosong. Sejumlah laporan sebelumnya salah satunya dari Badan Statistik Korea Selatan menunjukkan pengalaman diskriminasi sekitar 68 persen yang masih dirasakan oleh warga asing, yang kemudian memperkuat sensitivitas publik terhadap isu rasisme dalam konflik ini.

- Advertisement -

Komunitas Digital di Tengah Penyebaran Hoaks

Selain perdebatan di platform X, eskalasi konflik juga tampak di platform lain. Di TikTok, misalnya, muncul tren komentar dan ajakan boikot terhadap Korea Selatan. Beberapa unggahan bahkan menunjukkan bukti berupa tangkapan layar pemberian rating rendah di Google Maps untuk lokasi di Korea Selatan, mencangkup fasilitas publik dan tempat wisata. Meskipun informasi tersebut mungkin tidak semuanya akurat, penyebarannya masih mempengaruhi persepsi publik.

Sering kali, persepsi yang dipercaya publik bukan fakta, tetapi narasi yang terus diulang dan diperkuat di ruang digital. Menurut Lynn Haster, pengulangan menciptakan sebagai “benar” hanya karena mereka telah mendengarkan berulang kali, terlepas dari apakah pernyataan itu memang fakta atau bukan.

Hasil survei Ipsos dan UNESCO telah menemukan informasi hoaks paling banyak dibagikan di Facebook, X, Instagram, dan TikTok dari 68 persen responden 16 negara, termasuk Indonesia.

Dampak dari fenomena ini tidak hanya berhenti pada ranah opini, tetapi juga mulai merambah ke sektor lain. Muncul laporan mengenai penurunan citra pariwisata Korea Selatan di tengah maraknya ajakan boikot, meskipun belum semua data tersebut terkonfirmasi secara resmi. Selain itu, beberapa influencer Korea Selatan juga dilaporkan mengalami serangan komentar negatif saat melakukan siaran langsung, bahkan mereka diduga tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.

“Kita tidak bisa mengelak. Dunia maya tidak bisa kita raba, namun menimbulkan efek nyata.” Ujar Sri Sunarti, Kepala Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta (17/12).

Kasus Knetz dam SEAblings memperlihatkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar ruang percakapan, melainkan arena baru yang membentuk opini publik dan mempengaruhi dinamika global.

Literasi digital menjadi hal yang penting dalam menghadapi fenomena ini. Masyarakat tidak hanya dituntut untuk aktif dalam berpartisipasi, tetapi juga harus mampu memilah informasi secara kritis. Tanpa kemampuan tersebut, ruang digital justru menjadi tempat berkembangnya disinformasi yang merugikan banyak pihak.

“Jangan cepat percaya terhadap informasi di media sosial. Literasi media sangat penting untuk memfilter berbagai bentuk informasi, apalagi informasi yang sumbernya tidak jelas, informasi yang judul dan isi tidak singkron, huruf yang di-bold atau cetak miring, itu adalah ciri-ciri hoaks, sebaiknya langsung dihapus,” jelasnya, Kominfo (17/9).

Komunitas digital bukan lagi sekadar penonton, melainkan menjadi peran yang aktif dan berpengaruh. Di era saat ini, siapa pun yang mampu mengendalikan narasi di ruang digital, pada dasarnya sedang membentuk cara dunia melihat suatu peristiwa.

Alya Capah
Alya Capah
International Relations student at UPN "Veteran" Jawa Timur.
Facebook Comment
- Advertisement -