Kepentingan Saudi Arabia dan Iran dalam Perang Saudara Yaman

Muhammad Raffi Rasya
Muhammad Raffi Rasya
saya adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Sriwijaya
- Advertisement -

Sejak perang saudara Yaman yang pertama mulai pada tahun 2014, Yaman telah bertransformasi menjadi arena proxy war yang paling mematikan di abad ini. Di satu sisi, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk menopang pemerintah Yaman melalui operasi udara masif dan blokade laut. Di sisi lain, Iran dituduh memberikan dukungan logistik, persenjataan, dan pendanaan kepada pemberontak Houthi. Keterlibatan kedua aktor negara ini tidak hanya memperpanjang penderitaan rakyat Yaman, tetapi juga mempertegas narasi rivalitas regional yang telah lama mengakar.

Untuk memahami mengapa Yaman menjadi begitu vital bagi kedua negara, kasus ini perlu dibedah menggunakan Regional Security Complex Theory (RSCT) yang digagas oleh Barry Buzan dan Ole Wæver. Teori ini menawarkan kerangka analisis yang menjelaskan bagaimana negara-negara dalam satu kawasan (seperti Timur Tengah) terikat dalam sebuah “kompleks keamanan” di mana rasa aman atau ancaman yang dirasakan satu negara tidak dapat dipisahkan dari negara lain. Dalam konteks Yaman jelas yakni proxy war ini merupakan manifestasi dari interdependensi keamanan yang negatif, di mana upaya Saudi dan Iran untuk memaksimalkan keamanan nasional mereka justru memperlemah stabilitas seluruh kawasan.

Bagi Arab Saudi, Yaman bukan sekadar negara tetangga, melainkan “halaman belakang” yang menentukan hidup-mati keamanan nasional mereka. Dalam perspektif dimensi militer RSCT, Saudi memandang kebangkitan Houthi bukan sebagai gerakan lokal semata, melainkan sebagai perpanjangan tangan Iran yang mengancam strategic depth mereka. Serangan rudal balistik Houthi yang menargetkan infrastruktur minyak Saudi dan kota-kota perbatasan.

Intervensi Saudi didorong oleh ketakutan akan “pengepungan” oleh kekuatan pro-Iran (Hezbollah di utara, milisi Syiah di Irak, dan kini Houthi di selatan). Secara geopolitik, jika Saudi membiarkan Yaman jatuh ke dalam orbit pengaruh Iran sama saja dengan membiarkan musuh mereka memegang kendali atas perbatasan selatan Saudi. Namun, ironisnya, respons militer agresif Saudi termasuk blokade laut yang memicu kelaparan massal justru menciptakan kerentanan baru yakni krisis kemanusiaan yang terjadi telah merusak reputasi internasional Saudi dan menciptakan vakum kekuasaan yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis lain, memperumit kompleks keamanan yang ingin mereka stabilkan.

Di sisi lain teluk, Iran memainkan strategi berbeda, dengan menggunakan analisis RSCT, dukungan Iran kepada Houthi dapat dilihat sebagai strategi low cost high impact untuk membentuk koalisi anti-Saudi. Bagi Iran, Yaman adalah peluang emas untuk menekan rival utamanya tanpa harus terlibat konfrontasi militer langsung dengan memberdayakan Houthi, Iran berhasil mengalihkan sumber daya militer dan ekonomi Saudi yang sangat besar ke dalam perang yang berlarut-larut, melemahkan dominasi Saudi di Gulf Cooperation Council.

Kepentingan keamanan nasional Iran di sini bersifat ekspansif dan revisionis. Pasca-sanksi internasional, Iran berusaha menantang isolasi regional dengan memperluas poros perlawanannya hingga ke Semenanjung Arab. Selain dimensi ideologis untuk memperluas pengaruh Syiah, terdapat dimensi ekonomi strategis yakni Houthi mengontrol wilayah yang dekat dengan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia. Kontrol atau setidaknya pengaruh di titik ini memberikan Iran leverage geopolitik yang signifikan terhadap keamanan energi global, menciptakan siklus ketergantungan keamanan di mana setiap langkah Iran di Yaman langsung mengguncang kalkulasi keamanan Saudi.

Jika diterapkan secara keseluruhan, RSCT menunjukkan bagaimana Yaman telah menjadi mikrokosmos dari kompleks keamanan Timur Tengah yang disfungsional. Intervensi Saudi dan Iran menciptakan dinamika di mana ancaman eksternal (dari negara rival) menjadi prioritas domestik tertinggi. Hal ini mendorong eskalasi konflik tanpa perlu adanya deklarasi perang resmi antara Saudi dan Iran.

Terjadi benturan kepentingan yang tajam yakni Saudi yang bertindak sebagai kekuatan status quo fokus pada pertahanan perbatasan dan pemeliharaan hegemoni tradisional Sunni, sementara Iran bertindak sebagai kekuatan revisionis yang menggunakan instrumen asimetris untuk mengubah keseimbangan kekuatan. Hasilnya adalah security dilemma yang akut; langkah defensif Saudi dilihat Iran sebagai agresi yang harus dibalas dengan peningkatan bantuan ke Houthi, dan sebaliknya yang berakibat stabilitas kawasan dikorbankan.

Saat kasus ini dilihat menggunakan Regional Security Complex Theory, sangat jelas terlihat bahwa perang Yaman adalah gejala dari penyakit yang lebih besar yakni persaingan zero-sum game antara Saudi dan Iran. Konflik ini bukan sekadar masalah sektarian Sunni-Syiah, melainkan pertarungan kekuasaan dalam sebuah kompleks keamanan yang saling bergantung.

Selama Saudi dan Iran melihat keamanan satu sama lain sebagai ancaman eksistensial, Yaman akan terus membara. Penyelesaian konflik ini menuntut lebih dari sekadar gencatan senjata lokal, justru konflik ini memerlukan diplomasi multilateral tingkat tinggi. Dialog langsung antara GCC dan Iran harus diinstitusionalkan untuk meredam ketegangan dalam kompleks keamanan regional. Aktor global juga harus mendorong mekanisme confidence-building measures yang menjamin keamanan perbatasan Saudi sekaligus mengakui peran politik sah faksi-faksi di Yaman tanpa campur tangan militer asing. Jika tidak ada rekonsiliasi di level regional, Yaman akan tetap menjadi luka menganga di tubuh Timur Tengah.

Muhammad Raffi Rasya
Muhammad Raffi Rasya
saya adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Sriwijaya
Facebook Comment
- Advertisement -