OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Kalau Anda Bukan Faldo Maldini, Jangan Coba-Coba!

Avatar
Arie Putra
Peneliti Komunikasi Politik MediaCitra dan Analis Kebijakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN RI).

Kalimat yang saya jadikan judul ini adalah perkataan dari seorang senior saya di Kampus UI. Seniornya Faldo Maldini juga. Saya di FISIP, Faldo berkuliah di FMIPA.

Suatu malam, senior ini menelpon saya untuk membahas soal pengangkatan Faldo sebagai staff khusus Menteri Sekretaris Negara. Dari A sampai Z soal negara ini keluar dari mulutnya, seperti banjir kanal timur saat musim hujan.

Senior ini sudah lama menghuni gang-gang sempit dunia politik Indonesia. Semua elit tier-1 pernah meminta nasihat kepadanya. Dia paham betul jarak Faldo ke Istana Negara hanya berbatas sebuah tembok saja. Faldo Maldini yang sekarang sudah menjadi orang dekat kekuasaan tertinggi di Republik ini.

Tidak banyak politisi berani lompat pagar di Indonesia. Jangankan lompat pagar, ganti patron saja masih pikir-pikir. Faldo Maldini yang dulunya Wasekjen PAN, Jubir Prabowo yang top, berubah haluan ke PSI. Partai kecil yang tidak berkursi di DPR RI, yang begitu loyal membela Jokowi. Partai itu diisi oleh anak-anak muda yang usianya relatif tidak beda jauh. Kultur politik patronasenya tampaknya sangat berbeda, tidak banyak orang kuat di sana.

Langkah yang sama dengan Faldo juga sempat diambil oleh Anies Baswedan. Juru Bicara kampanye dan Menterinya Jokowi, lalu loncat pagar menjadi orangnya Prabowo, di Pilgub DKI Jakarta. Dulu dituduh liberal, sekarang Gub Anies kesayangan Petamburan. Anies Baswedan sama seperti Faldo, Ketua BEM di kampusnya masing-masing, idola mahasiswa, dan kemudian lulus dari kampus prestisius luar negeri. Mereka sama-sama memiliki kemampuan bertutur yang sangat mumpuni.

Barang kali, tepat apa yang dikatakan oleh senior saya itu. Saya melihat Anies ini adalah Faldo di zamannya, sementara Faldo adalah Anies bagi generasinya. Banyak yang suka, namun banyak juga yang terganggu karena dianggap terlalu berambisi. Saya adalah salah satu orang yang tidak terlalu dekat dengan Faldo selama menjadi mahasiswa. Saya merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang terganggu.

Lepas dari itu semua, saya yakin capaian Faldo bukan hasil dari intrik politik. Semuanya murni karena kepercayaan elit pada kapasitas dirinya. Faldo adalah Ketua BEM dari level fakultas sampai universitas. Dia duduk juga sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di UK. Dia pernah calonkan diri jadi Walikota, Bupati, sampai Gubernur, walau tidak sampai bertanding. Jadi Caleg kalah di Kabupaten Bogor, dengan suara yang sangat banyak, hampir 40 ribu. Tidak mudah dapat suara sebanyak itu. Ujian politik setapak demi setapak sudah dilewatinya, meski baru menginjak 30 tahun.

Dia juga punya kapasitas intelektual. Selesaikan sarjana fisika di UI. Lalu, dia lanjut ke Imperial College London (Silakan cek sendiri, ini bukan kampus abal-abal. Kampus top ini!). Kemudian, dia selesaikan S2 sekali lagi di Departmen Ilmu Politik UI. Orang ini rakus belajar, ketimbang maruk materi.

Dia hidup dari usaha-usaha kecil yang diurusnya, mulai dari bimbingan belajar, rumah makan, klinik kecantikan, sampai stiker mobil. Sekedar hidup nyaman, tampaknya dia tidak butuh uang dari politik.

Jangan pikir orang ini hidup dari konsesi tambang atau proyek-proyek pemerintah. Kalau tidak masuk politik, saya yakin Faldo sudah kerja di Tesla atau perusahaan mobil listrik yang sedang trend sekarang. Studi S2nya di Inggris tentang industri masa depan itu. Saya tahu betul dia lebih kenyang kalau tidak berpolitik.

Faldo Maldini juga adalah anak orang biasa. Rumahnya di Padang berada jauh dari pusat kota. Luas tanahnya tidak sampai 200 meter persegi. Keluarganya sangat sederhana. Orang tuanya seorang pedagang dan pensiunan.

Berbeda pandangan politik, itu biasa saja. Namun, orang ini punya kapasitas diri. Kita tidak boleh buta hati. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Faldo Maldini. Sebagai kawan satu generasi, saya sangat bangga dengan apa yang bisa dicapainya. Dari jauh, saya cuma bisa berdoa saja.

Namun, langkah ke depan buat Faldo tidak mudah. Fase ini adalah sebuah transformasi baginya dari orang bebas menjadi representasi pemerintah. Faldo Maldini adalah state actor, ada banyak kepentingan yang harus diakomodir.

Saya pun jadi teringat pesan dari seseorang yang sudah saya anggap seperti guru. Pesan itu disampaikan Mantan Sekjen Golkar di masa Orde Baru, Sarwono Kusumaatmaja. Menteri dua zaman, adik dari Mochtar Kusumaatmaja, Menlu Indonesia yang sangat legendaris.

“Istana adalah pusat dari intrik!” Katanya.

Wataknya istana adalah penuh dengan permainan manipulasi. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Maka, Faldo jangan sampai terjebak dalam berbagai permainan yang mengubah watak. Tetaplah sebisa mungkin berpegang pada nilai dan keyakinan. Selamat bertugas, Kawan.

Avatar
Arie Putra
Peneliti Komunikasi Politik MediaCitra dan Analis Kebijakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN RI).
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.