Senin, Mei 17, 2021

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Tidak Ada Larangan Kepemimpinan Non-Muslim dalam Al-Qur’an

Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta semakin dekat, sayangnya makin gencar politisasi ayat. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan perdebatan perang ayat, karena akan terlihat menggunakan...

Literasi Karangkitri Menghidupkan Kampung Halaman

Pada helatan diskusi yang diselenggarakan secara daring oleh Perkumpulan Literasi Indonesia, pada Minggu (26/04/2020). Faiz Ahsoul seorang editor dan pegiat literasi masyarakat mengantarkan sebuah...

Ketika Taman dan Sungai Memikat Hati Warga

Usai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, pekan lalu, belasan ribu massa umat Islam yang didominasi Front Pembela Islam (FPI) berpawai di jalan-jalan ibukota....

Membatasi Gerak Sepeda Motor ala Ahok

Pengendara bermotor melintasi kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (15/4).  ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari Sejak 5 April 2016 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan perluasan pelarangan operasional...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dalam kolom ini, saya menulis tentang tiga sosok ulama yang masih hidup, yang datang dari tiga komunitas terbesar di negeri ini. Mereka adalah KH A. Mustofa Bisri atau Gus Mus dari Nahdlatul Ulama (NU), M. Quraish Shihab dari kalangan Habib, dan A. Syafii Maarif atau Buya Syafii dari Muhammadiyah.

Bagi saya, ketiganya adalah salah satu teladan terbaik di masing-masing komunitasnya saat ini. Ketiganya semacam wajah lain ulama. Tak berpenampilan layaknya ulama, namun memenuhi segala syarat untuk disebut ulama. Mereka seolah antitesa dari “ustaz selebriti” yang seringkali hanya memenuhi syarat dari segi tampilan saja.

Akhir-akhir ini ketiganya menghebohkan publik. Gus Mus dan Quraish Shihab bikin heboh di acara “Mata Najwa”. Bisa jadi itu adalah salah satu kenangan terbaik dari “Mata Najwa” untuk kita. Di acara itu, keduanya tampil sebagai dua sahabat dengan sederet kisah yang penuh keteladanan. Bernasihat tapi tetap sempat bercanda. Bicara agama yang meneduhkan. Mendalam, tapi dirangkai dengan kata-kata yang “awam”.

Bicara Qur’an dan Sunnah secara kontekstual, seolah wahyu dan hadis itu turun dan terucap saat ini dan di sini. Keduanya meneladani Nabi Muhammad secara begitu “canggih”, karena mampu menyerap keteladanan beliau tapi membungkusnya dengan semangat keindonesiaan. Karenanya, saya cenderung menyebut keduanya (juga Buya Syafii sebagaimana saya akan ulas di paragraf selanjutnya) sebagai seorang “Neo-Modernis Islam”: kalangan yang mampu membuat Islam merespons tuntutan zaman yang selalu bergerak me-modern, dengan tetap mempertahankan dan berdiri di atas nilai-nilai dasar dan substansial Islam itu sendiri.

Buya Syafii dan Gus Mus.

Adapun Buya Syafii kemarin bikin heboh dengan kesederhanaannya: pagi-pagi buta, ia naik KRL dari Jakarta ke Bogor untuk menghadiri “Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila” yang diinisiasi oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Banyak yang bertanya, kenapa ia begitu? Walaupun sebenarnya tak perlu bertanya jika kita mengenal Buya Syafii. Ia memang begitu.

Kalau Anda bertanya karena ia adalah tokoh, maka etokohan, sebagaimana pada Gus Mus dan Quraish Shihab, sama sekali tak membuat mereka kemudian menjadi “menara gading”. Gus Mus menolak jabatan Rais Aam NU pada Muktamar NU ke-33. Adapun Quraish Shihab tak mau dipanggil “Habib”. Ketiganya sama-sama bersahaja, rendah hati. Di sini, mereka seolah mencibir politisi yang berebut “kursi”.

Ketiganya memang sama-sama tak takut ataupun sedih untuk bersuara yang tak populis. Mereka rela jadi “korban”: dicibir, dituduh yang bukan-bukan, bahkan hingga disesatkan. Lantaran visi mereka adalah merangkul “yang lain”, yang tak terangkul oleh ulama-ulama arus utama. Mereka menyuarakan toleransi, melindungi yang berbeda, dan membentengi yang tertindas. Sudah banyak yang menjadi “duta” Rahim-Nya: merahmati mereka yang sama. Sedangkan mereka menjadi bagian dari “duta” Rahman-Nya: merahmati mereka yang beda.

Apa yang heboh dari ketiganya itu sebenarnya adalah sesuatu yang “sederhana”. Memang begitulah semestinya seorang ulama. Sama seperti ketika di “Mata Najwa”, Gus Mus menegaskan bahwa tak ada “Islam Moderat” karena Islam itu memang harus moderat. Kalau tak moderat berarti bukan Islam. Ulama pun begitu: ia wajib bersahaja, dan kalau tak bersahaja berarti bukan ulama.

Maka, yang sebenar-benarnya “heboh” adalah kondisi kita: umat Islam, bangsa Indonesia. Kita yang tengah gersang akan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Kita yang terus dipertontonkan keislaman dan keindonesiaan yang tak semestinya, sehingga begitu melihat yang sejati, ia seolah “asing” dan karenanya menghebohkan.

Kini, di tengah kondisi kita yang sedang “sakit” ini, bahkan mungkin sedang parah-parahnya, di saat bersamaan ketiganya sudah tua. Gus Mus dan Quraish Shihab sudah berkepala tujuh. Buya Syafii Maarif bahkan sudah berkepala delapan. Najwa Shihab di “Mata Najwa” pernah mewakili tanya kita: “Bagaimana jika mereka tiada nanti?”

Quraish Shihab menjawab bahwa kematian tak pernah akan benar-benar memisahkan kita dengan mereka.

Para ulama, ketika mereka mati, mereka akan tetap “hidup” sebagaimana janji Allah dalam QS. Ali Imran: 169. Dalam konteks sektoral, Quraish Shihab akan tetap “hidup”, di antaranya dengan karya-karyanya dan Pusat Studi Al-Quran (PSQ)-nya. Gus Mus dengan karya-karyanya dan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin-nya. Buya Syafii Maarif dengan karya-karyanya dan Maarif Institute-nya.

Namun, dalam konteks luas, konteks kenegaraan dan keumatan, umat dan rakyat ini perlu membangun sebuah “kurikulum” untuk menyiapkan generasi selanjutnya seperti mereka. Kata kuncinya adalah kedalaman ilmu, keluasan wawasan, dan kebesaran hati.

Tanpa ulama seperti mereka, kita akan benar-benar gagap di tengah tantangan ke depan, ketika kejumudan dan modernisme berada di antara kita. Kejumudan bisa menggiring kita pada ekstremisme, dan modernisme bisa menjebak kita pada kegersangan.

Akhirnya, kita bersama mendoakan ketiganya sehat selalu dan panjang umur. Amin!

Baca juga:

Gus Mus, Guru Bangsa Kita

Belajar Meneguhkan Toleransi dari Buya Syafii

Quraish Shihab, Sunni-Syiah, dan Umat yang Terbelah

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.