Sabtu, Mei 15, 2021

Salib bukan Sekadar Kayu!

Tuduhan Zina, Hukum Islam, dan Kasus Mario Teguh

Hari-hari ini media massa diramaikan dengan kasus Mario Teguh, motivator terkenal atas kasusnya dengan Ario Kiswinar Teguh di mana Mario tak mengakui Ario sebagai...

Anies Gagal Cegah Pemborosan APBD

Anies adalah politisi ulung yang mampu berseluncur dalam situasi politik dan berbagai aktor kuat di Tanah Air. Kemampuannya menata kata mampu menyihir persepsi masyarakat...

Pancasila dan Esensi Ketuhanan

Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juli merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi kebangsaan. Masalah-masalah yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai indikator belum berhasilnya pengamalan nilai-nilai...

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?

Bolehkah Muslim masuk ke gereja? Jangan emosi, kita ngaji kitab fikih, yuk! Sahabat dan guru saya, Ustaz Yusuf Mansur, meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki...
Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Saat jamuan makan malam di rumah teman Kristen, seorang ibu menuturkan pengalaman hidupnya sebagai seorang Kristiani. Dengan penuh keyakinan, dia memandang salib sebagai bukti sempurna betapa Tuhan itu maha kasih dan pengampun. Saliblah yang menjadi penuntun hidupnya menghadapi gelombang suka dan duka, melewati terang hari dan gelap malam. Hingga kini, katanya, salib menjadi simbol penting dalam hidupnya, sebagai petunjuk menjalani hidup secara disiplin, tulus, dan penuh pengorbanan.

Tak ada yang bertanya, apakah yang dimaksud itu salib yang menempel di ruang tamu, atau yang bersemayam di dalam dadanya. Bagi banyak orang Kristen, keduanya—yang bersifat fisik dan simbolik—tak bisa dipisahkan.

Secara deskriptif, salib menggambarkan keimanan Kristen par excellence. Banyak peristiwa yang menjadi fondasi keimanan Kristen terkait dengan salib. Kematian Yesus. Pengorbanan untuk menyelamatkan manusia. Dari salib terungkap dosa dan bagaimana menyucikannya di hati. Peristiwa sebelum dan sesudah penyaliban diabadikan dalam kebaktian Ekaristi. Secara sederhana bisa dikatakan, tak ada Kristen tanpa penyaliban.

Semua itu menjelaskan kenapa salib menjadi simbol agama Kristen yang diakui paling luas. Salib bukan hanya ditemui di Gereja dan di rumah, tapi juga dalam karya-karya seni. Salib juga menjadi obyek dedikasi dalam arsitektur bangunan, lukisan, ukiran, patung, puisi, sastra dan seterusnya.

Bukan Sekadar Kayu

Kenapa salib sedemikian penting bagi umat Kristiani? Di bagian akhir tulis ini akan dijelaskan sejarah kecintaan bahkan pemujaan kepada salib dan kontroversi yang mengiringinya. Untuk sementara, pertanyaan itu bisa dijawab: Karena salib lebih dari sekadar kayu. Ia telah menjadi apa yang disebut Mircea Eliade, ahli studi agama-agama, sebagai “hierophany” (penampakan Ilahi). Dari bahasa Yunani, hiero-, “suci”, dan phainein, “memperlihatkan”.

Seperti diyakini ibu dalam jamuan makan malam itu: Salib, baginya, merepresentasikan kasih-sayang dan pengampunan Tuhan secara sempurna. Ia menjadi semacam lambang kebaikan, cara berintrospeksi dan mengakui keterbatasan manusiawi, serta—di atas segala—bagaimana meneladani Yesus (Imitatio Christi).

Eliade memahami agama dengan menggunakan dua kategori, yakni sacred dan profane. Tidak mudah mendefinisikan dua kategori tersebut. Eliade sendiri hanya berkata, sacred berarti bukan profane. Namun demikian, yang menjadi kunci dalam konsepsi Eliade ialah hierophany, yakni ketika yang sacred termanifes pada benda-benda yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi lebih dari sekadar benda.

Selain salib, contoh lain ialah Ka’bah. Bangunan berbentuk kubus, dikonstruksi oleh tangan manusia dari bahan-bahan yang profane: tanah, batu, semen, kemudian dibungkus dengan kain. Apakah ia sekadar bangunan biasa bentuk kubus? Bagi orang Islam, tidak. Ia menjadi kiblat dalam salat, pusat berputar saat tawaf haji. 

Masih ingatkah kata-kata Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad dan khalifah kedua, terkait batu hitam (hajar aswad), yang menempel di dinding Ka’bah? Itu memang batu hitam! Tapi, jemaah haji berebutan menciumnya. Umar enggan melakukannya jika bukan karena ia hendak meniru Nabi.

Manifestasi hierophanies mengambil bentuk berbeda-beda antara satu agama dan agama lain. Makanya, jangan mengolok-olok bentuk venerasi atau pemujaan dalam suatu agama. Sebab, masing-masing agama memiliki aspek heirophany-nya sendiri. Jika orang Muslim sulit memahami cara Kristen memperlakukan salib, bayangkan bagaimana kiranya orang Kristen memandang kaum Muslim berputar-putar mengelilingi Ka’bah dan berebut mencium batu hitam.

Kenapa salib? Bukankah salib itu simbol penderitaan? Yesus mati disalib. Memang, banyak paradoks dalam agama. Bagaimana mungkin salib yang merupakan instrumen kematian Yesus (saat itu penyaliban merupakan bentuk hukuman yang paling kejam), dalam perkembangannya justru dijadikan sarana pemujaan. Demikian juga Ka’bah yang di zaman pra-Islam menjadi pusat penyembahan orang-orang jahiliyah, tapi dalam perjalanan waktu menjadi tempat paling suci bagi Islam.

Sejarah Panjang

Bagaimana salib menjadi obyek pengagungan dan pemujaan dalam Kristen merupakan proses yang kompleks dan punya sejarah panjang, serta tak sepi dari kontroversi. Literatur paling awal, mungkin, bisa dilacak pada St. Paulus sendiri yang memaknai salib sebagai kekuasaan Tuhan. Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia (sekarang di Turki), Paulus menulis: “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”

Di situ tampak salib menjadi semacam metafor kabar gembira, bahkan membentuk keyakinan kerigmatik Paulus. Kesaksian tentang Yesus dan injil. Ia merupakan simbol kekuatan di tengah persekusi yang dialami pengikut Yesus.

Paulus dan juga generasi Kristen berikutnya merespons kelompok-kelompok (terutama Yahudi) yang memandang kematian di tiang salib amat tercela. Karya apologetik Justin atau Irenaeus (dari abad kedua) menegaskan bahwa keselamatan manusia (bahkan seluruh alam) hanya melalui Yesus dan salibnya.

Kelompok Gnostik memahami salib dan penyaliban Yesus secara berbeda. Mereka menolak Yesus disalib secara fisik, melainkan hanya dipertampakkan demikian. (Sejumlah sarjana berpendapat, posisi al-Qur’an tentang penyaliban Isa menyerupai pandangan ini, dikenal dengan paham docetic.). Mereka memahami salib secara kosmik, bukan benda fisik.

Sejak saat itu berkembang tafsir esoterik atas salib. Lebih jauh, salib dipahami bukan sebagai obyek, melainkan entitas yang hidup. Seiring dengan itu, muncul pandangan tentang “salib cahaya”, yang berbeda dari salib kayu yang digunakan untuk menyalib Yesus. Tentu saja, konsep “salib cahaya” ini dimaksudkan untuk menolak pengagungan atas salib kayu.

Pembelaan terhadap salib menguat. Banyak literatur Kristen awal yang berbicara kekuatan supernatural salib. Pada abad ketiga, Oregan menulis: “Apakah yang paling ditakuti setan? Tak ada keraguan: Salibnya Yesus!”

Raja Konstantin meyakini, dan diyakini, meraih kemenangan dalam peperangan karena membawa salib. Apalagi, saat itu, relik salib Golgotha yang digunakan menyalib Yesus ditemukan. Cerita legenda mengaitkan penemuan itu dengan Helena, ibunda Konstantin. Penemuan tersebut digunakan untuk “menghantam” kelompok yang menolak salib fisik, karena kenyataannya Yesus memang disalib.

Sejak abad kelima, venerasi salib meluas ke berbagai bidang. Salib mengalami transformasi dari obyek yang menakutkan menjadi simbol harapan dan keselamatan. Kenyataan ini berkontribusi terhadap berkembangnya ikonografi dalam Kristen, yang belakangan menyulut kontroversi sengit. Sebagian kalangan, termasuk dari kalangan Kristen sendiri seperti Augustine, menganggap pengagungan salib sudah melewati batas.

Dari luar Kristen, terutama Yahudi, muncul kritik lebih keras. Umat Kristiani dituduh menyembah salib, dan karena itu menuhankan berhala. Karya-karya apologetik Kristen banyak merekam “serangan” kaum Yahudi terkait salib tersebut.

Sebagai pembelaan, misalnya, tokoh-tokoh Kristen berargumen bahwa mereka menghormati Yesus yang mati di salib, bukan salib itu sendiri. “Ketika kalian melihat umat Kristiani mengagungkan salib,” kata Leontius dari Ciprus, “ketahuilah mereka mengagungkan Yesus yang disalib, bukan kayunya.”

Kalangan Kristen apologis balik menuduh Yahudi juga mengagungkan benda-benda tertentu, seperti tabut perjanjian (ark of the covenant), loh batu, atau gulungan kitab Taurat. Bagi mereka, salib merupakan kitab terbuka untuk mengingatkan dan mengaitkan umat Kristiani pada Tuhan.

Demikianlah, saling menuduh—apalagi mengolok-olokakan kembali pada dirinya sendiri.

Kolom terkait

Ceramah Salib Somad dan Pentingnya Pemahaman Antar-Iman

“Agama-Agama Ibrahim”, Makhluk Apakah Itu?

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Siapakah Orang Kafir Itu? Telaah Kronologi dan Semantik Al-Qur’an

Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.