Selasa, April 20, 2021

Pesan PKI untuk Ustadz Abdul Somad tentang Bom Bunuh Diri

Prabowo Subianto Hanya Ingin Jadi Presiden

Prabowo Subianto adalah seorang pemimpin partai dengan perolehan suara urutan 3 pada Pemilu 2014. Tidak hanya itu, ia adalah pemimpin kelompok oposisi yang menguasai...

Selamat Milad, Tuan Guru Beethoven

Kawan saya Idrus Shahab mengingatkan kita bahwa hari ini adalah tanggal kelahiran Ludwig van Beethoven (Bonn, 17 Desember 1770), lalu memori saya memencar ke...

Margin Ketakutan dalam Pemilu

Ketakutan adalah hal yang azali. Sudah sejak lama pendekatan ketakutan jauh lebih efektif untuk menertibkan manusia. Perang, penaklukan, ancaman adalah metode kontrol yang lazim...

Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Siswa Melawan Corona

Dalam rangka mengukuhkan konektivitas antara guru, orang tua, dan siswa, maka pada era yang tidak menentu seperti saat ini, karena adanya virus Corona, maka...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Beberapa hari terakhir, khususnya usai peledakan bom bunuh diri di Surabaya, beredar rekaman ceramah Ustadz Abdul Somad tentang hukum bom bunuh diri. Dalam rekaman itu, beliau menyebut bahwa selama ini pers Barat dan Yahudi telah salah melabeli  pelaku bom bunuh diri. Gerakan bom bunuh diri di Palestina bukan gerakan mati konyol, melainkan gerakan mati syahid.

Menurutnya, berdasarkan narasi tentang sahabat Nabi yang seorang diri menyerbu pasukan Quraish dalam Perang Uhud, bom bunuh diri bisa disebut jihad. Karena dalam kisah sahabat Nabi tersebut, ia sadar akan mati jika masuk dalam barisan pasukan musuh. Karena itu, hukum bom bunuh diri menjadi jihad.

Masalahnya video itu tersebar (atau disebar?) ulang saat masyarakat mengutuk tindakan bom bunuh diri oleh teroris yang membunuh anak-anak dan polisi di Surabaya. Ustadz Abdul Somad lantas melakukan klarifikasi, bahwa video itu telah dicabut dari konteksnya, dimutilasi dan dibuat seolah-olah ia mendukung terorisme yang baru terjadi.

Ia menyebut orang-orang yang menyebarkan video dan mencabut konteks perjuangan masyarakat Palestina itu sebagai orang yang goblok bin bahlul. “Jangan melepaskan teks dari konteks,” kata Ustadz Somad.

Tentu beliau benar. Goblok bin bahlul adalah mereka yang percaya begitu saja sebuah video yang beredar, dipotong, tanpa menjelaskan konteks pembicaraan secara jelas. Kecuali untuk Ahok, dia sudah jelas penista agama.

Tapi mari lupakan Ahok. Kita dengarkan sekali penjelasan Ustadz Abdul Somad. Beliau menyebut bahwa ceramahnya itu ditujukan untuk para pejuang Palestina yang melakukan bom bunuh diri, jadi ia tidak sedang bicara terorisme di Indonesia.

Di sini masalah muncul lagi. Ustadz Abdul Somad mencontohkan musuh Islam adalah PKI. PKI mana yang dimaksud? Partai Komunis Indonesia? Sudah jelas bubar. Maka saya berasumsi PKI yang dimaksud adalah Partai Komunis Israel alias The Communist Party of Israel (CPI).

Lho, sudah benar itu. Sudah komunis, Israel pula.

Masalahnya di mana?

Masalahnya, Partai Komunis Israel (PKI) adalah partai progresif Israel yang punya tujuan memperjuangkan kemerdekaan Palestina, mengakhiri pendudukan, dan menghentikan kekerasan terhadap warga Palestina.

Sekjen PKI Mohammed Nafa’h menyatakan, “Mendukung hak warga Palestina untuk menentukan nasib sendiri adalah tugas suci setiap komunis Israel,”

Yang kaya gini masa mau dibunuh pak?

Tidak hanya itu, pada 2009, sebulan setelah pembantaian warga sipil Palestina oleh Israel di Gaza,  PKI dan underbow-nya Hadash (Democratic Front for Peace and Equality) melakukan protes keras terhadap pasukan Israel yang melakukan pembantaian. Di kota Sakhnin 130.000 orang melakukan protes keras.

Setelah itu 20.000 demonstran kembali melakukan protes dan demonstrasi di Tel Aviv memprotes kebiadaban Pasukan Israel. Sebagian besar dari mereka membawa bendera merah dan simbol komunisme. Sejak 1947, Partai Komunis Israel mendesak negara mereka menghentikan pendudukan, penjajahan, mengakui kemerdekaan Palestina, menarik pasukan militer, menghentikan pencaplokan tanah, dan memberikan hak warga Palestina untuk menentukan nasib sendiri.

Lalu beberapa hari lalu, partai secara resmi merespons pembantaian 60 orang Palestina di saat yang bersamaan dengan pembukaan Kedutaan Besar Amerika di Israel. PKI menyatakan sikap mengutuk pembunuhan itu. Mereka menyatakan bersolidaritas dan mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaan dan kemakmura serta berjanji akan berjuang lebih keras di parlemen untuk mewujudkan itu.

Banyak sebenarnya sikap terpuji PKI dalam usaha membela rakyat Palestina. Mereka mengakui Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina dan mendesak pemerintah Israel mengembalikan tanah sesuai kesepakatan perbatasan yang dibuat pada 1967. Tidak hanya itu, mereka telah melakukan demonstrasi, menyeruka solidaritas warga baik Yahudi maupun Arab untuk mengakhiri tindakan militer Israel di tanah Palestina.

Nah, kalau misalnya ajaran Ustadz Abdul Somad ini untuk membunuh Yahudi, antek Amerika, Israel, tapi kok yang disebut cuma PKI? Padahal, kalau mau jujur, satu-satunya partai Politik yang bicara soal perjuangan kemerdekaan Palestina di Israel sejak 1947 ya cuma Partai Komunis Israel.

Itu partainya lho ya, belum kader-kadernya. Tamar Peleg-Sryck, misalnya, pengacara hak asasi manusia (Iya, HAM-HEM-HOM yang enggak penting itu) berdarah Yahudi asal Polandia, seorang pengacara publik yang paling banyak membela orang Palestina di Pengadilan Israel: mulai dari penangkapan tanpa bukti, penculikan karena dituduh teroris, sampai hak-hak mendapatkan perlakuan layak di penjara Israel (udah enggak usah dibayangkan di Indonesia, nanti dibilang SJW).

Perjuangan pengacara HAM ini telah membuat banyak polisi, militer, dan politisi Israel geram. Dia dianggap sebagai pendukung teroris, pembela teroris, lebih membela pelaku teroris daripada masyarakat Israel. Bagi Tamar Peleg-Sryck, memutus mata rantai kekerasan bisa dilakukan jika kita mau mengakui hak orang lain.

Mau bukti lain? Tamar Peleg-Sryck menyebut bahwa anak yang dibesarkan sebagai komunis tidak akan jadi rasis, apalagi menyebut Asing Aseng, Gantung Ahok, sampai menolak menyalatkan jenazah karena dia teroris atau nyoblos pemimpin kafir.

Lah, kok ngelantur ke kader komunis Israel? Ya biar kita tahu komunis itu ada banyak, bukan cuma yang kader partai setan.

Nah, kalau sudah seperti ini. Jihad bom bunuh dirinya mau ditujukan kepada siapa, Ustadz Somad?

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.