OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022
Minggu, Juni 26, 2022
Geomedia - JFK 2022

Menilik Pertimbangan Desain Ramah Lingkungan dalam Perancangan Bangunan Bandara

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).

Gambar1. Sustainable Mini-City South Korea’s International Airport

Ketika menempatkan dan merancang bangunan bandar udara, aspek keselamatan dan operasional menjadi pertimbangan utama. International Civil Aviation Organization (ICAO) memiliki standar dan materi panduan khusus yang berhubungan dengan aspek-aspek yang harus dipertimbangkan sesuai dengan Standard and Recommneded Practices (SARPs) terkait. Ada banyak referensi yang tersedia terkait perencanaan bandara umum dan desain terminal, seperti ICAO’s Annex 14 Aerodrome, Airport Planning Manual (Doc 9184), Airport Services Manual (Doc 9137 ), dan Aerodrome Design Manual (Doc 9157). Selain daripada itu, desain bangunan bandara perlu juga mempertimbangkan fungsionalitas keseluruhan sistem bandara.

Operasi bandara secara keseluruhan bergantung pada konektivitas pesawat dan sistem redundansi. Bentuk dan tata letak terminal harus dirancang untuk menyediakan akses bagi pesawat, dan untuk memfasilitasi akses pesawat ke taxiway dan landasan pacu. Namun, ada banyak masalah lingkungan dan keberlanjutan yang perlu dipertimbangkan ketika merencanakan bangunan bandara. Keberlanjutan bandara menggabungkan pertimbangan ekonomi, lingkungan, dan sosial ke dalam perencanaan, desain, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan. Pendekatan tersebut sering disebut “EONS”  karena memadukan pertimbangan-pertimbangan economic operational efficiency, natural resources, dan social responsibility.

Bangunan bandara memiliki banyak bentuk, mulai dari terminal untuk penumpang, hanggar pesawat hingga ruang kantor untuk administrasi. Semua dapat berdampak pada lingkungan dalam aspek konstruksi dan operasionalnya. Ada banyak pertimbangan lingkungan berkaitan dengan desain dan konstruksi bangunan. Untuk bandara, ada juga banyak elemen operasional yang dapat dirancang dan dikelola untuk meningkatkan kinerja lingkungan fasilitas secara keseluruhan.

Bangunan seperti hanggar memiliki pertimbangan fungsional tertentu – misalnya, perawatan pesawat – yang sangat mempengaruhi desain dan penggunaannya. Mereka tidak dirancang begitu banyak untuk hunian manusia karena mereka untuk mengakomodasi proses tertentu.

Struktur seperti fasilitas terminal penumpang bandara terutama untuk penggunaan umum, tetapi juga memiliki beberapa pertimbangan fungsional. Terminal dimaksudkan untuk mengakomodasi pelayanan penumpang dan pengunjung lainnya seperti fasilitas check-in, keamanan, dan penanganan bagasi. Sebagian besar terminal penumpang juga menyediakan layanan, seperti restoran dan perbelanjaan. Bangunan-bangunan ini memiliki beberapa fleksibilitas dalam desain dan tata letaknya, tetapi harus memenuhi persyaratan yang menarik minat dan memiliki pertimbangan seperti mengakomodasi waktu singgah untuk volume orang dalam jumlah tertentu.

Desain dan penggunaan ruang di bandara adalah seni dan sains. Setiap bandara berbeda, dan tidak ada solusi ‘satu ukuran untuk semua’ untuk desain ramah lingkungan bangunan bandara. Selain itu, tata letak dan penggunaan ruang merupakan konsep yang saling berhubungan. Sama pentingnya untuk melihat tata letak bandara secara keseluruhan untuk elemen ‘desain ramah lingkungan’ seperti halnya fokus pada struktur itu sendiri.

Perencanaan dan desain terminal sering kali dimulai dengan proses perencanaan untuk mengidentifikasi kendala terminal yang ada dan menetapkan prioritas untuk proyek terminal baru. Penilaian yang baik akan menjawab pertanyaan tentang volume penumpang yang diharapkan, kebutuhan penyewa dan konsesi, dan harapan lain yang akan mendorong desain atau renovasi fasilitas. Tujuan lingkungan juga harus ditambahkan ke dalam proses perencanaan. Terminal umumnya merupakan fasilitas terbesar dan terkompleks di bandara, dengan kebutuhan energi paling banyak. Perencana bandara dan analis lingkungan harus mengidentifikasi masalah lingkungan untuk proyek terminal yang diusulkan sehingga dapat dimasukkan dalam ruang lingkup dan anggaran proyek. Demikian pula, struktur baru mungkin memerlukan semacam penilaian dampak lingkungan.

Ada fasilitas lain di bandara, selain terminal, di mana pertimbangan eko-desain dapat dimasukkan. Bangunan di sisi darat bandara seperti fasilitas kargo dan fasilitas parkir dapat menjadi area di mana pertimbangan keberlanjutan dapat diterapkan. Di sisi lain, untuk beberapa fasilitas, terutama di sisi udara bandara, ada pedoman keselamatan dan operasional yang harus dipatuhi oleh desain, misalnya pasokan energi yang andal untuk peralatan navigasi udara. Untuk kasus-kasus tersebut, peraturan tersebut mungkin tidak memberikan banyak ruang untuk pertimbangan lingkungan. Dokumen ini terutama akan membahas desain ramah lingkungan bangunan terminal, karena di sanalah terdapat peluang paling besar untuk menggunakan prinsip desain yang baik untuk mengurangi dampak lingkungan. Namun demikian, pertimbangan yang sama dapat diterapkan untuk fasilitas lain di bandara. Beberapa bangunan di mana eco-design dapat digunakan untuk konstruksi dan operasi untuk meningkatkan kinerja lingkungan dapat mencakup, antara lain: bangunan terminal kargo dan gudang, pusat pemanduan lalu lintas udara, hanggar dan fasilitas pemeliharaan, fasilitas parkir, gedung perkantoran, area pelayanan bahan bakar pesawat, fasilitas dan area pelatihan pemadam kebakaran kebakaran bandara.

Gambar 2. Konsep eco-design Bandara Blimbingsari Banyuwangi

Pertimbangan-pertimbangan penting dalam melakukan desain ramah lingkungan pada perancangan bangunan bandara secara prinsipil adalah sebagai berikut :

  1. Sistem terintegrasi

Terminal bandara membawa banyak fungsi ke dalam satu tempat. Fasilitas terminal penumpang modern merupakan kombinasi dari berbagai sistem seperti pencahayaan, pengatur suhu, dan pengelolaan limbah yang terintegrasi ke dalam shelter fisik untuk membuatnya nyaman bagi aktivitas manusia. Selain dasar-dasar ini, setiap pengembangan bandara yang diusulkan harus aman dan efisien, harus sesuai dengan ukuran bandara, dan harus memenuhi standar desain bandara nasional. Konsep terminal juga harus berkelanjutan, mengikuti kebijakan lingkungan, dan dirancang untuk memfasilitasi persyaratan lingkungan lainnya.

  1. Lokasi dan Akses

Tata letak terminal yang efisien akan mengurangi jarak fisik antar area sejauh dapat dipraktikkan, dan mencakup infrastruktur untuk memfasilitasi pergerakan penumpang antar area. Penempatan terminal harus mencakup meminimalkan jarak taksi dari gerbang atau stand ke landasan pacu dan jalur taksi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi pesawat yang sedang meluncur. Hal ini juga dapat meminimalkan dampak kebisingan terhadap masyarakat sekitar. Pertimbangan penempatan ini juga dapat meminimalkan konsumsi bahan bakar, emisi dan kemacetan untuk bandara dan kendaraan penyewa. Bahkan ada contoh di mana lokasi terminal dirancang untuk melindungi masyarakat sekitar dari kebisingan pesawat.

Meminimalkan transportasi kendaraan bermotor ke dan dari terminal mengurangi konsumsi bahan bakar, emisi, dan dampak lalu lintas. Sedapat mungkin penentuan tapak harus mengupayakan pilihan transportasi antar moda yang nyaman untuk angkutan umum ke dan dari terminal. Pilihan angkutan massal yang efisien yang nyaman bagi masyarakat lokal harus diintegrasikan ke dalam penempatan terminal bila memungkinkan. Transportasi yang mudah antar terminal juga menjadi pertimbangan.

  1. Desain dan Karakteristik Bangunan

Desain bangunan bandara dapat sangat bervariasi, tetapi ada beberapa prinsip dasar yang perlu diingat yang dapat meningkatkan komponen desain lingkungan. Penting untuk meletakkan rencana dengan memasukkan karakteristik dan lingkungan lokal ke dalam desain bangunan. Ini mungkin termasuk estetika seperti warna dan tekstur dalam tampilan struktur, tetapi juga bentuk dan dekorasi.

Bandara adalah salah satu pusat perhatian publik, dan sejauh terminal bandara mengekspresikan karakteristik dan nilai-nilai yang berlaku, semakin baik. Dari segi tata letak, orientasi bangunan untuk memanfaatkan cahaya dan ventilasi alami dengan meminimalkan energi yang dibutuhkan untuk memanaskan, mendinginkan, dan menerangi struktur akan membuatnya lebih efisien dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Bandara besar mengalami perubahan yang cepat, dan beberapa bandara sekarang sedang merencanakan bangunan dengan potensi untuk dikonversi ke penggunaan lain. Mungkin bijaksana dalam proses perencanaan dan desain untuk membuat struktur yang fleksibel, dan dapat dilengkapi untuk tujuan yang berbeda di kemudian hari.

  1. Sumber Daya dan Konservasi Energi

Bangunan bandara dapat menggunakan berbagai sumber energi, termasuk listrik dan berbagai jenis bahan bakar. Pembangkit energi sering kali menghasilkan emisi, dan semua konsumsi energi memiliki biaya. Efisiensi energi harus selalu menjadi tujuan desain terminal atau rekonstruksi karena alasan keuangan dan lingkungan. Semoga desain konsepnya sedemikian rupa sehingga pemborosan energi diminimalkan sebanyak mungkin. Ini termasuk hal-hal seperti insulasi dan peralatan berenergi rendah, tetapi juga dapat mencakup desain ruang yang berkaitan dengan kebutuhan ventilasi. Bahkan penanaman tanaman hijau dapat membantu mengurangi kebutuhan energi. Atap hijau, di mana terdapat tanaman di atap bangunan, secara substansial dapat menurunkan penyerapan panas dan dengan demikian mengurangi kebutuhan energi. Atap hijau juga dapat mengurangi limpasan air hujan dan berfungsi sebagai peredam suara di sepanjang pendekatan landasan pacu.

Kebutuhan energi sebagian besar terminal penumpang dipenuhi dengan membeli listrik dari utilitas lokal. Utilitas mungkin menawarkan opsi pembelian yang berbeda, seperti harga yang lebih rendah pada waktu tidak sibuk, atau opsi untuk membeli tenaga bersih seperti tenaga angin. Selain itu, bandara memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan energi terbarukan di lokasi melalui teknologi surya dan lainnya yang dapat diintegrasikan ke dalam desain struktural. Misalnya, bandara menggunakan konsep solar wall, yaitu dinding terminal yang menghadap matahari dan digunakan untuk memanaskan air, yang kemudian diedarkan ke seluruh bangunan.

Beberapa bandara mengimplementasikan microgrid atau sistem pembangkit energi bandara mereka sendiri. Bandara yang menghasilkan tenaganya sendiri, terutama melalui metode terbarukan, meningkatkan ketahanannya dari fluktuasi daya eksternal. Sistem seperti itu membutuhkan biaya di muka untuk dikembangkan, tetapi meningkatkan keamanan energi jika terjadi badai atau jenis peristiwa lain yang dapat mempengaruhi keandalan pasokan listrik.

Menggunakan teknologi modern, banyak struktur dirancang untuk terus memantau penggunaan energi. Alat sederhana seperti sub-metering, memungkinkan bandara untuk mengidentifikasi, melacak, dan menangani area dengan penggunaan energi tinggi, dan dengan demikian memperbaiki ketidakefisienan. Ada juga sistem yang lebih rumit. ‘Teknologi gedung pintar’ yang dikendalikan komputer dengan sensor dan otomatisasi seluruh gedung memungkinkan operator bandara untuk memantau gedung sebagai suatu sistem, daripada berfokus pada perangkat yang menggunakan energi individu. Sistem ini akan secara otomatis melacak penggunaan energi dan melakukan penyesuaian, seperti suhu atau kontrol pencahayaan, sesuai kebutuhan.

  1. Pemanasan, Ventilasi, dan Pendingin Udara (HVAC)

Mempertahankan lingkungan termal yang sesuai dan seragam di gedung terminal sering kali merupakan salah satu kegiatan yang paling intensif dalam pengelolaan energi. Upaya untuk mengurangi penggunaan energi dan emisi terkait yang berasal darinya, sering kali berfokus pada peningkatan efisiensi sistem HVAC. Pilihan pengaturan suhu yang tepat, pemanfaatan secara maksimum penggunaan ventilasi alami, penggunaan strategi pemanasan/pendinginan, isolasi termal yang tepat dari bangunan terminal, dan sistem manajemen HVAC berdasarkan perencanaan berkala dapat membawa pengurangan energi yang signifikan. Pemodelan dan simulasi lanjutan untuk kontrol prediktif juga dapat meminimalkan energi dan biaya pengoperasian HVAC. Bandara sangat ingin mengganti boiler lama dengan sistem baru yang menggunakan gas alam atau energi terbarukan, seperti sistem pemanas matahari atau sistem panas/pendingin panas bumi.

  1. Aircraft Ground Energy System (AGES)

Untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan emisi yang dihasilkannya, semakin banyak fungsi bandara yang beralih ke penggunaan listrik. Ini termasuk gerbang terminal yang memenuhi kebutuhan listrik dan ventilasi pesawat. Aircraft Ground  Energy System (AGES) di pintu gerbang dapat menyediakan listrik ke pesawat dan udara pra-kondisi untuk memanaskan atau mendinginkan pesawat. Ini menggantikan penggunaan Auxiliariy Power Units (APU) pesawat. Unit Pre-Conditioned Air (PCA) memasok udara panas/pendingin ke pesawat yang diparkir sehingga penumpang merasa nyaman saat mereka naik dan turun. Unit daya darat memberikan daya ke pesawat untuk penerangan internal dan untuk memastikan daya berkelanjutan untuk sistem navigasi. Ketika digunakan bersama-sama, unit daya darat dan PCA memungkinkan pesawat yang diparkir untuk tidak menggunakan APU mereka, menghasilkan pengurangan yang signifikan dalam konsumsi bahan bakar dan emisi udara terkait. Selain itu, banyak kendaraan pendukung darat bandara sekarang menggunakan listrik, dan bandara sedang membangun stasiun pengisian di atau dekat terminal untuk mengisi ulang kendaraan ini.

  1. Emisi

Pesawat adalah sumber emisi terbesar di bandara, tetapi bangunan terminal memiliki beberapa hubungan dengan emisi, dan juga dapat mempengaruhi emisi darat pesawat. Dari segi struktur itu sendiri, material yang digunakan untuk bangunan terminal dapat dipilih secara strategis untuk meminimalkan Gas Rumah Kaca (GRK) dan emisi lainnya. Penggunaan bahan daur ulang biasanya mengurangi jejak karbon keseluruhan bahan bangunan. Seperti dibahas di atas, beban energi yang dibutuhkan bangunan untuk beroperasi, dan sumber energi, memiliki kaitan dengan emisi. Terminal yang dirancang dengan PCA dan ground power untuk pesawat dapat melihat pengurangan signifikan dalam emisi lapangan terbang. Terakhir, tapak dan desain bangunan dapat dilakukan untuk mengurangi emisi, misalnya meminimalkan jarak taksi pesawat dari gerbang ke landasan pacu. Semua faktor ini, bahan bangunan, pengoperasian terminal, dan seberapa mudah terminal memfasilitasi operasi lapangan terbang yang efisien, semuanya memengaruhi kualitas udara lokal dan konsentrasi GRK.

  1. Pengelolaan sampah

Terminal penumpang harus dirancang untuk material yang masuk, dan limbah untuk keluar. Perencanaan pengelolaan limbah yang efisien, seperti melalui daur ulang atau proses lainnya, adalah cara utama untuk mengurangi dampak lingkungan. Operator bandara harus memiliki tujuan untuk memaksimalkan daur ulang, penggunaan kembali, dan pengurangan limbah baik dalam konstruksi terminal maupun operasinya.

  1. Pengelolaan dan Konservasi Air

Pertimbangan air untuk bandara termasuk ketersediaan air minum untuk digunakan di dalam fasilitas; itu juga berarti pengelolaan yang efektif dari limpasan air hujan permukaan , kolam penampungan, dan infrastruktur lainnya yang dirancang untuk mengurangi dampak bandara terhadap sumber daya air setempat. Pengelolaan sistem air memiliki implikasi untuk desain bangunan, dan banyak dari pertimbangan ini khusus untuk suatu wilayah. Sebuah bandara pesisir akan memiliki pertimbangan yang berbeda untuk mengelola air permukaan dari satu pedalaman. Beberapa bandara pada dasarnya memiliki akses tak terbatas ke air minum yang murah, sementara yang lain tidak. Bandara di daerah yang dibatasi air sudah mulai menerapkan teknik yang menarik untuk efisiensi dan konservasi air. Misalnya, toilet dapat dirancang dengan perlengkapan aliran rendah untuk menghemat penggunaan air, dan sensor yang secara otomatis mematikan keran air saat tidak digunakan. Contoh lain termasuk menggunakan air reklamasi dari penggunaan lain seperti limpasan air hujan. Air reklamasi ini tidak aman untuk dikonsumsi tetapi dapat digunakan untuk tujuan lain seperti toilet atau landscaping. Lanscape bandara sering menggunakan air, tetapi ini juga dapat dirancang untuk meminimalkan kebutuhan air.

  1. Pertimbangan Ekonomi Sirkular untuk Terminal

Ekonomi sirkular memberikan pendekatan holistik dalam mengembangkan model bisnis ekonomi baru (misalnya sistem produk-layanan) di mana nilai aset (misalnya bangunan terminal) dan layanan dipertahankan setinggi mungkin. Ekonomi sirkular melibatkan semua tahap pengembangan terminal (desain, konstruksi, dan operasi). Bangunan terminal harus dirancang untuk digunakan kembali, dibongkar, diperbaharui, dan/atau didaur ulang. Operator bandara harus memiliki tujuan untuk meminimalkan penggunaan bahan baku dan meningkatkan peluang penciptaan nilai baik dalam konstruksi terminal maupun operasinya.

Beragam model perencanaan bangunan bandara telah dikembangkan dalam dekade terakhir untuk mendorong dan memfasilitasi praktik pembangunan dan infrastruktur bandara yang berkelanjutan. Meskipun model-model tersebut dikembangkan dengan berbagai tujuan dan fitur, hal tersebut dapat digunakan sebagai titik referensi teknis untuk panduan dan metrik dalam menentukan perencanaan, pembangunan dan mengevaluasi kemajuan menuju kinerja berkelanjutan bangunan bandara. Beberapa manfaat dari sistem berkelanjutan dapat mencakup beberapa hal yang diantaranya adalah jaminan kualitas (quality assurance), penatagunaan lingkungan (environmental stewardship), jaminan kelangsungan hidup jangka panjang (assurance of long-term viability), dasar insentif keuangan (basic of financial incentives), peningkatan akuntabilitas (increased accountability) dan pengakuan publik (public recognition).

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.