OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Holy Adib
Holy Adib
Penulis Buku Perca-Perca Bahasa [Diva Press, 2021]

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan video yang diunggah akun YouTube Kementerian Perdagangan pada 5 Mei 2021. Sebagian pihak menafsirkan bahwa melalui ucapan tersebut Jokowi mengajak masyarakat muslim untuk membeli bipang (babi panggang). Sementara itu, pihak lain menilai ajakan tersebut ditujukan kepada masyarakat nonmuslim. Bagaimana maksud ucapan Jokowi itu sebenarnya? Sebelum menafsir potongan ucapan, simak dulu versi lengkap ucapan tersebut.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Produk lokal apa yang digunakan Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semua hari ini? Tas, sepatu, jaket, atau apa? Jaket dan sepatu yang saya pakai ini, ini jaket, sepatu, adalah hasil product lokal dan kualitasnya sangat baik. Karena itu, saya bangga buatan Indonesia dan saya juga membelinya secara online.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian, sebentar lagi Lebaran. Namun, karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Nah, untuk Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah. Atau, kalau kita ingin mengirimkan oleh-oleh atau hadiah bagi keluarga yang jauh, pakaian, cendera mata, dan berbagai jenis barang lainnya, tinggal pesan dan kirim secara online sehingga dapat diterima oleh keluarga atau sahabat kita di mana pun mereka berada.

Jadi, tanpa mudik kita tetap bisa bersilaturahmi dan mempererat persaudaraan, dan ini juga bentuk peran serta kita semuanya untuk menggerakkan perekonomian nasional.

Bapak, ibu, dan Saudara-saudara sekalian, melalui semangat cinta produk lokal, saya meresmikan Hari Bangga Buatan Indonesia dan mari kita memakai pakaian dan produk lokal lainnya, seperti sepatu, tas, dan yang lainnya, setiap hari Rabu sebagai wujud kebanggaan kita terhadap produk buatan Indonesia. Semoga Hari Bangga Buatan Indonesia akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang semakin besar, yang mencintai dan menghargai karya kreativitas dan inovasi produk karya anak bangsa. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Video itu berjudul “05.05 Hari Bangga Buatan Indonesia”. Tajuk video itu penting untuk diketahui karena judul berfungsi membingkai isi. Dari judulnya saja sudah tampak gambaran bahwa video tersebut tentang kebanggaan memakai produk buatan Indonesia. Angka 05.05 pada judul itu merujuk pada tanggal 5 dan bulan Mei, yang merupakan bulan kelima dalam kalender Masehi. Kementerian Perdagangan melakukan kesepakatan bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatikan dan Asosiasi E-commerce Indonesia untuk memperingati Hari Bangga Buatan Indonesia setiap 5 Mei.

Konteks pidato itu Jokowi itu ialah ajakan untuk bangga memakai dan membeli produk buatan Indonesia. Hal itu terlihat jelas pada pembukaan pidato, ketika Jokowi menanyakan produk lokal yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ia kemudian mengatakan bahwa ia memakai jaket dan sepatu buatan lokal, kemudian menyatakan kebanggaannya memakai produk buatan Indonesia.

Perihal ajakan untuk memesan produk lokal melalui jaringan internet (online), hal itu muncul karena momentum ketika pidato itu diucapkan ialah libur Lebaran dan adanya larangan mudik. Frasa yang biasanya mudik membawa oleh-oleh mengacu pada larangan mudik. Sementara itu, frasa tidak perlu ragu untuk memesannya secara online mengacu pada Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh.

Orang-orang yang rindu kuliner khas daerah, tetapi tidak bisa mudik untuk melunasi rindu itu karena larangan mudik bisa memesan kuliner tersebut secara online. Begitu juga dengan orang yang biasanya mudik membawa oleh-oleh: mereka bisa memesan oleh-oleh itu secara online, lalu mengirimkannya kepada keluarga di kampung halaman sebab mereka tidak bisa mudik dan membawa oleh-oleh itu karena larangan mudik. Larangan mudik, rindu kuliner khas daerah karena tidak bisa mudik, dan tidak bisa membawa oleh-oleh ke kampung halaman karena larangan mudik terjadi pada waktu Lebaran.

Mudik Lebaran berkaitan dengan libur Lebaran. Lebaran memang sebutan hari raya umat Islam di Indonesia, dalam hal ini Idulfitri. Namun, libur Lebaran Idulfitri tidak hanya untuk kaum muslim, tetapi juga bagi nonmuslim, yang juga memanfaatkannya untuk pulang kampung. Kalau tidak ada larangan mudik ketika libur Lebaran, ajakan untuk memesan melalui jaringan internet itu tentu kurang relevan karena orang bisa langsung membeli produk itu ketika pulang kampung.

Soal kuliner khas daerah, hal itu merupakan salah satu produk buatan lokal. Jadi, poin utamanya bukanlah kuliner khas daerah, melainkan produk buatan lokal, yang bukan hanya kuliner. Nah, kuliner khas daerah saja bukan persoalan utama dalam pidato itu, apalagi salah satu kuliner yang diributkan itu, yakni bipang Ambawang. Bipang Ambawang hanya muncul sekali dan hanya bagian terkecil dalam pidato itu.

Karena kuliner khas daerah termasuk produk lokal, Jokowi mengajak masyarakat untuk membelinya. Pada awalnya ia menyapa orang-orang sambil mengaitkannya dengan kuliner khas daerah dengan mengatakan “Nah, untuk Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah, ….” Jokowi kemudian mengerucutkan maksud sapaan Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah dengan menyebutkan beberapa kuliner khas daerah itu, “Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah. Jokowi tidak secara spesifik hanya mengajak orang untuk memesan bipang Ambawang. Bipang Ambawang hanyalah salah satu di antara sekian kuliner khas daerah yang ia sebut.

Orang-orang meributkan bipang Ambawang karena mereka mengaitkannya dengan Lebaran. Mereka menganggap bahwa Jokowi mengajak masyarakat muslim Indonesia untuk memesan bipang Ambawang ketika Lebaran karena Lebaran merupakan hari raya umat Islam. Padahal, sudah jelas bahwa Jokowi hanya mengajak orang-orang (bapak, ibu, dan saudara-saudara) yang rindu akan bipang Ambawang untuk memesan kuliner tersebut. Orang yang rindu bipang Ambawang tentu orang yang pernah memakannya, yakni kaum nonmuslim, itu pun nonmuslim yang rindu dan pernah memakan bipang Ambawang—tidak semua nonmuslim memakan bipang Ambawang, apalagi merindukannya.

Dengan kata lain, Jokowi tidak mengajak orang yang tidak rindu bipang Ambawang, yang tentu saja termasuk muslim, untuk memesan makanan tersebut. Oleh karena itu, ajakan Jokowi untuk membeli bipang Ambawang tidak bisa dihubungkan dengan ajakan yang sasarannya ialah masyarakat muslim karena hubungan itu sudah dihambat oleh ajakan terhadap orang yang rindu akan bipang Ambawang, yang tidak berhubungan sama sekali dengan kaum muslim.

Mengenai kaitannya dengan Lebaran, Lebaran memang hari raya umat Islam. Namun, mudik dan libur Lebaran di Indonesia bukan hanya untuk umat Islam. Sebagai libur terlama, libur Lebaran juga dimanfaatkan oleh nonmuslim untuk mudik dan berlibur. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya Jokowi menyebut Lebaran, kemudian mengajak orang membeli makanan khas daerah, yang salah satunya bipang Ambawang.

Akan tetapi, kata Lebaran dalam ucapan Jokowi itu tentang tidak boleh dimaknai sepotong-sepotong: tidak boleh hanya memaknai Lebaran dalam kalimat Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian, sebentar lagi Lebaran. Kata Lebaran tersebut harus dilihat sebagai bagian dari rangkaian sebuah wacana yang lebih besar, yang berkaitan dengan larangan mudik sehingga tidak bisa menikmati kuliner khas daerah, yang biasanya dinikmati jika pulang kampung. Karena ada larangan mudik itu, Jokowi menawarkan solusi, yakni memesan kuliner khas daerah secara online.

Jika cermat, orang-orang bisa melihat ada dua hambatan yang menghalangi tafsir bahwa Jokowi mengajak masyarakat muslim membeli bipang Ambawang dalam konteks Lebaran. Pertama, konteks ajakan untuk membeli produk buatan Indonesia, dalam hal ini kuliner khas daerah. Kedua, ajakan untuk membeli bipang Ambawang bagi orang yang merindukan makanan itu.

Mengetahui maksud Jokowi

Pada Oktober 2017 Menteri Pertanian Rusia, Alexander Tkachev, mengusulkan negaranya untuk mengekspor daging babi ke Indonesia. Presiden Rusia, Vladimir Putin, tertawa mendengar usul itu. Ia lalu menjelaskan kepada menterinya bahwa Indonesia merupakan negara yang mayoritas masyarakatnya berpenduduk Islam sehingga tidak makan daging babi. Karena itu, pasar daging babi di Indonesia sangat kecil.

Dari berita tersebut kita tahu bahwa Presiden Rusia saja tahu bahwa masyarakat muslim Indonesia tidak mengonsumsi daging babi. Wajar Presiden Rusia tahu bahwa umat Islam tidak makan babi karena itu merupakan pengetahuan umum di dunia. Karena itu, Jokowi sebagai Presiden Indonesia sekaligus muslim pasti tahu bahwa babi haram bagi umat Islam. Oleh sebab itu pula, Jokowi tidak mungkin bermaksud mengajak masyarakat muslim Indonesia untuk membeli babi panggang, apalagi dalam suasana Lebaran. Berdasarkan kesadaran itu, ajakan untuk memesan bipang itu bukanlah untuk orang Islam.

Dalam sebuah ucapan, selain mengetahui arti ucapan tersebut, pendengar (mitra tutur) juga harus mengetahui maksud ucapan tersebut. Maksud ucapan justru lebih penting daripada arti ucapan karena belum tentu arti mencerminkan maksud. Misalnya, seseorang mengatakan saya belum makan kepada temannya. Ucapan itu berarti si penutur (saya) menyatakan bahwa ia belum mengisi perutnya dengan makanan. Dengan kata lain, si penutur menginformasikan kepada temannya bahwa ia belum makan. Sementara itu, maksud ucapan itu bisa jadi bahwa ia meminta makanan atau minta ditraktir makan kepada temannya karena ia belum makan dan tak punya uang membeli makanan.  

Arti dan maksud seperti itu bisa dijelaskan oleh teori tindak tutur dalam pragmatik, salah satu studi linguistik. Dalam teori tindak tutur terdapat lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Arti ucapan/tuturan terdapat dalam lokusi, sedangkan maksud ucapan berada dalam ilokusi. Jika hanya memahami lokusi, mitra tutur tidak akan memahami ilokusi ucapan tersebut. Memaknai ucapan hanya sampai pada lokusinya merupakan pemaknaan yang dangkal dan sempit karena maksud lebih luas daripada arti ucapan.

Mitra tutur yang tidak memahami ilokusi sebuah ucapan bisa dicap tidak peka atau lebih daripada itu, misalnya pelit atau tidak peduli. Dalam contoh kasus ucapan saya belum makan yang disampaikan seseorang kepada temannya, jika tahu bahwa si penutur sedang tidak punya uang, mitra tutur bisa dianggap tidak peka, tidak peduli, dan pelit bila tidak membelikan makanan untuk penutur, padahal si penutur tahu bahwa mitra tuturnya sedang memiliki banyak uang.

Dalam hal pidato Jokowi itu, lokusinya ialah orang-orang yang rindu kuliner khas daerah atau yang mudik membawa oleh-oleh dapat memesannya secara online. Dalam hal ini, ilokusinya ialah ajakan untuk memesan oleh-oleh.

Ucapan Jokowi yang bermuatan ajakan untuk memesan kuliner khas daerah itu secara online termasuk ke dalam tindak ilokusi, yang menurut Searle, tergolong tindak ilokusi direktif, yang ditandai dengan kata memesan atau pesan. Ada tiga frasa yang mengandung kata memesan dan pesan dalam pidato itu, yakni memesannya secara online, tinggal pesan,  dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah, serta tinggal pesan dan kirim secara online.

Fungsi komunikatif dalam tindak ilokusi direktif dapat berupa tuturan, antara lain, meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, menyuruh, menagih, memerintah, mendesak, memohon, menantang, memberikan aba-aba, menuntut, memperingatkan, merekomendasikan, memesan, mengundang, melarang, dan menasihati. Tindak ilokusi ini direpresentasikan melalui tuturan yang bertujuan untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan keinginan penutur.

Ilokusi isi pidato tersebut terlihat jelas pada bagian ketika Jokowi mengatakan, “tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah.” Mengerucutnya sasaran ajakan dalam ilokusi itu terlihat secara eksplisit, yang ditandai pada bagian frasa yang rindu makan dalam frasa yang rindu makan bipang Ambawang tinggal pesan. Bagian yang menyebut rindu makan bipang Ambawang itu ialah masyarakat nonmuslim.

Bukti bahwa ilokusinya seperti itu ialah perlokusinya. Jokowi berilokusi mengajak dan  menginginkan bahwa bipang Ambawang dibeli oleh masyarakat nonmuslim. Perlokusi itu menemui kebenarannya karena dipahami oleh mitra tutur, yakni masyarakat Indonesia. Setelah Jokowi menyampaikan pidato itu, mitra tutur beragama Islam tidak membeli bipang Ambawang, sedangkan mitra tutur yang nonmuslim segera menanggapi ajakan itu dengan membelinya. Banyak berita tentang produsen bipang Ambawang menerima banyak pesanan setelah kuliner itu disebut Jokowi dalam pidato, misalnya “Bipang Ambawang Banjir Pesanan Usai Disebut Presiden Jokowi” (Kompas.TV, 10 Mei 2021).

Penyebab salah paham

Saya menduga bahwa salah memahami pidato Jokowi itu terjadi karena sebagian kalangan menganggap konteks pidato Jokowi itu Lebaran karena mereka hanya menonton potongan video, bukan video utuh. Pada kalimat pertama potongan video tersebut terdapat kata Lebaran sehingga seolah-olah konteksnya Lebaran: Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian, sebentar lagi Lebaran. Namun, karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Nah, untuk Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah.

Lantaran menganggap konteks pidato Jokowi itu Lebaran, mereka menilai bahwa Jokowi mengajak masyarakat muslim di Indonesia untuk membeli bipang Ambawang. Itulah pentingnya melihat secara utuh sebuah video, mendengarkan secara penuh sebuah pidato, atau membaca secara lengkap sebuah teks agar tidak salah menafsir.

Sementara itu, kalangan yang menonton video utuh pidato Jokowi itu, tetapi menganggap Jokowi mengajak muslim memesan bipang, mungkin memiliki pemahaman yang sangat sederhana—kata dangkal mungkin terlalu kasar—terhadap ucapan. Hal itu terjadi karena mereka memahami ucapan Jokowi dengan prasangka negatif, padahal ajakan untuk membeli bipang Ambawang bagi yang merindukan kuliner itu hanya untuk nonmuslim, dan bipang Ambawang memang hanya dikonsumsi nonmuslim. Barangkali juga mereka mengerti bahwa ajakan untuk membeli bipang Ambawang itu ditujukan kepada nonmuslim, tetapi pura-pura tidak paham, lalu menuduh Jokowi mengajak orang Islam membeli bipang. Tujuan kalangan yang pura-pura tidak paham itu tentu untuk membuat kegaduhan atau untuk melampiaskan ketidaksukaan mereka selama ini kepada Jokowi lantaran persoalan pilpres. Kalau benar begitu, itu bukti bahwa polarisasi politik di tengah masyarakat akibat pilpres masih ada.

Tulisan lain dari penulis:

Memaafkan Sukmawati

Bacot Ahok, Al-Maidah 51, dan Linguistik

 

Holy Adib
Holy Adib
Penulis Buku Perca-Perca Bahasa [Diva Press, 2021]
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.