Selasa, Juni 15, 2021

Al-Biruni, Antropolog Pertama?

Dua Wajah Agama

Agama adalah sebuah kata yang tak bisa lepas jika kita membicarakan sejarah dunia. Hampir bisa dikatakan agama akan selalu hadir dalam jejak rekam kehidupan...

Islam Tak Berwajah Muram Durja

Belum lama ini terbit sebuah karya yang bertajuk Membela Islam, Membela Kemanusiaan. Buku itu merupakan karya terpenting mengenai Islam Indonesia saat ini. Karya yang...

Ketika Al-Qur’an Lebih Membela Non-Muslim

Zaid bin As-Samin, seorang Yahudi di Madinah, sedang gundah gulana. Ia tak pernah mengira dituduh sebagai pencuri. Terbayang, hukum potong tangan akan segera dijatuhkan....

Cadar dan Kompleksitas Hubungan Agama-Budaya

Isu agama memang tak pernah kering. Selalu saja ada aspek perdebatan. Di antara sekian banyak isu yang berkembang, kini masyarakat Muslim Indonesia tengah menyaksikan...
Sumanto Al Qurtuby
Dosen Antropologi Budaya, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi

Sebagian besar umat Islam, apalagi non-Muslim, menganggap bahwa para sarjana Muslim di Abad Pertengahan hanya belajar tentang “ilmu-ilmu keislaman” seperti fiqih, hadits, ushul fiqih, dan sejenisnya. Padahal, faktanya tidak demikian. Mereka mempelajari banyak disiplin ilmu pengetahuan bukan hanya “ilmu-ilmu keislaman” saja. Sengaja saya pakai tanda kutip karena dulu belum ada pembedaan atau kategorisasi antara “ilmu-ilmu keagaaman” dan “ilmu-ilmu sekuler”.

Kala itu, spirit para sarjana dan murid-murid Muslim hanya mempelajari ilmu pengetahuan tanpa ada embel-embel “ilmu sekuler” atau “ilmu agama”. Oleh karena itu, mereka belajar subyek atau disiplin apa saja: hukum Islam, tafsir, hadits, sejarah, filsafat, tasawuf, teologi, politik-pemerintahan, kedokteran, astronomi, geografi, matematika, fisika, kimia, dan sebagainya. Karena mempelajari banyak disiplin itulah, tidak heran jika mereka kemudian menjadi “sarjana polymath” yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

Salah satu sarjana Muslim di Abad Pertengahan yang menarik perhatian saya adalah Abu Raihan al-Biruni (973-1048). Lahir di Khwarazm (kini wilayah Uzbekistan) di Asia Tengah, al-Biruni merupakan salah satu ilmuwan polymath cemerlang dan penulis prolifik yang menulis ratusan karya ilmiah di berbagai bidang. Ia terus menulis, meskipun usianya sudah uzur. Al-Biruni sendiri menulis indeks yang berisi daftar karya-karya akademiknya. Menurut catatan George Saliba di Encyclopedia Britannica, ada sekitar 146 judul yang ditulis al-Biru. Sayangnya tidak semua karya al-Biruni itu bisa diselamatkan dan diterbitkan.

Mayoritas umat Islam mengenalnya sebagai ahli matematika dan astronomi karena memang hampir separuh dari karya-karyanya berisi masalah ini. Tetapi, saya tertarik dengannya bukan karena ia ahli matematika dan astronomi, melainkan lantaran ia ahli kajian kebudayaan. Hal itu tentu saja karena saya seorang antropolog budaya, bukan astronomer atau ahli matematika.

Pertama kali saya mengetahui al-Biruni sebagai ahli kajian kebudayaan masyarakat, baik klasik maupun kontemporer (tentu saja di zamannya), ketika saya menulis makalah tentang “antropologi Islam” waktu mengambil studi doktoral di Boston University. Makalah itu adalah salah satu dari enam topik ujian komprehensif yang harus saya kerjakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar doktor di bidang antropologi.

Waktu itu saya mensurvei berbagai literatur dari berbagai sarjana tentang tema ini. Di antara literatur yang saya teliti itu, saya menemukan tulisan pendek dari Akbar Ahmed, seorang antropolog Pakistan-Amerika dan Ibn Khaldun Chair of Islamic Studies di American University, Washington, D.C., berjudul “Al-Beruni: The First Anthropologist.” Dengan percaya diri, Profesor Akbar Ahmed mengatakan bahwa al-Biruni adalah antropolog pertama di dunia yang menginisiasi kajian-kajian antropologi jauh berabad-abad sebelum lahirnya para pionir antropologi dari kawasan Eropa dan Amerika.

Karena penasaran, saya pun kemudian menelisik sejumlah karya al-Biruni yang dijadikan sebagai basis argumen bahwa ia adalah antropolog budaya. Setidaknya ada dua karya ilmiah al-Biruni yang membicarakan tentang kebudayaan manusia dan mungkin bisa diklaim sebagai “karya antropologi” (atau “cultural studies”), khususnya antropologi budaya.

Yang pertama adalah al-Atsar al-Baqiyah an al-Qurun al-Khaliyyah, yaitu sebuah studi perbandingan (semacam etnologi) tentang peradaban dan kebudayaan umat manusia terdahulu, termasuk penjelasan tentang sistem penanggalan dan sejumlah sekte Kristen. Buku ini semacam karya para “armchair anthropologists”, yaitu para antropolog atau etnolog abad ke-19 yang menulis berbagai kebudayaan masyarakat tapi tanpa melakukan penelitian langsung di masyarakat yang ditulisnya.

Yang kedua, dan ini yang paling menarik, adalah sebuah kitab yang kemudian dikenal dengan nama Kitab al-Hind atau Indica alias Buku India (judul aslinya Tahqiq ma lil Hind min Maqulah Ma’qulah fi al-Aql am Mardzulah). Buku ini pernah diterjemahkan oleh Edward Sachau (1845-1930), seorang orientalis Jerman, ke dalam Bahasa Jerman tahun 1887 dan setahun kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi dua jilid. Buku ini diberi judul cukup panjang: Alberuni’s India: an Account of the Religion, Philosophy, Literature, Geography, Chronology, Astronomy, Customs, Laws and Astrology of India.

Dalam buku ini, Edward Sachau memberi “kata pengantar” cukup panjang dan rinci menguraikan tentang sosok al-Biruni beserta karya-karyanya serta penilaiannya terhadap buku Kitab al-Hind tersebut.

Yang menarik adalah al-Biruni memberi judul bukunya yang mengisyaratkan adanya upaya investigasi, verifikasi, atau kajian ilmiah (tahqiq) tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang India mengenai tradisi dan kebudayaan mereka: apakah bisa dikategorikan sebagai ilmiah, logis dan masuk akal atau tidak (maksudnya hanya sebuah mitos atau legenda).

Meskipun buku ini berisi koleksi aneka ragam informasi tentang masyarakat India, khususnya umat Hindu, lebih khususnya kalangan Brahmin dan Yogi, yang paling menarik adalah catatannya tentang praktik ritual, festival, sistem kata, ritus, adat-istiadat, struktur masyarakat, dan stratifikasi sosial umat Hindu.

Meski sejumlah ilmuwan sosial, sejarawan, dan antropolog (misalnya Richard Tapper) keberatan menyebut al-Biruni sebagai antropolog, “teori”, metode riset, teknik penulisan, dan data-data yang disajikan di Kitab al-Hind itu sangat menarik dan kiranya cukup untuk menunjukkan bahwa al-Biruni adalah seorang antropolog par excellence.

Pertama, al-Biruni menggunakan metode induktif dengan mengungkap fakta-fakta empiris, bukan deduktif yang mendominasi para sarjana dan ilmuwan kala itu. Al-Biruni menerapkan metode induktif ini jauh sebelum sarjana Tunisia Ibnu Khaldun (1332-1406) menulis Kitab al-‘Ibar yang dianggap sebagai “buku klasik” di bidang sosiologi dan sejarah.

Kedua, Kitab al-Hind itu ditulis setelah al-Biruni melakukan penelitian lapangan, lebih khusus lagi ethnographic fieldwork, selama kurang lebih 13 tahun dari 1017 sampai 1031 dengan menggunakan metode atau teknik riset yang umumnya digunakan oleh para antropolog seperti particiant observation, wawancara, dan konversasi dengan para informan.

Durasi riset lapangan selama itu kurang lebih sama dengan penelitian disertasi yang dilakukan oleh antropolog Ann Dunham Soetoro (1942-1995), ibunda mantan presiden Barack Obama, di Indonesia yang juga memakan waktu kurang lebih 13/14 tahun. Seperti layaknya antropolog, al-Biruni juga mempelajari bahasa lokal agar bisa menangkap pesan-pesan informan dengan baik. Selama riset di India, al-Biruni juga mempelajari Bahasa Sansekerta agar bisa membaca dan memahami teks-teks suci dan ritual umat Hindu.

Jadi, al-Biruni sudah melakukan penelitian etnografi hampir 10 abad sebelum Bronislaw Malinowski (1884-1942), yang di dunia akademik Barat dianggap sebagai “Bapak Etnografi” karena buku-bukunya seperti Argonauts of the Western Pacific dianggap sebagai pionir di bidang penelitian etnografi atau Franz Boas (1858-1942), Bapak pendiri antropologi di Amerika, yang melakukan penelitian etnografi atas komunitas Inuit (Eskimo) di Kanada.

Ketiga, dalam penulisan dan penggambaran masyarakat India dalam Kitab al-Hind itu, al-Biruni menggunakan “persepektif emik” sebagaimana umumnya para antropolog, yakni pandangan-pandangan yang berdasarkan informasi dari informan atau masyarakat yang diteliti. Dalam pengantar buku Kitab al-Hind yang diterjemahkannya, Profesor Sachau menulis: “In general it is the method of our author not to speak himself, but to let the Hindus speak, giving extensive quotations from their classical authors. He presents a picture of Indian civilisation as painted by the Hindus themselves” (1910: xxiv).

Ketiga alasan di atas (ditambah karya-karyanya yang lain khususnya al-Atsar al-Baqiyyah), kiranya sudah cukup bisa dijadikan sebagai basis argumen bahwa al-Biruni bisa dikatakan sebagai seorang antropolog, etnografer, dan etnolog. Harus diakui, teori, metode riset, dan teknik penulisan yang al-Biruni lakukan pada waktu itu sudah sangat maju, ilmiah, dan jauh berbeda dengan para sarjana dan ilmuman Muslim sebelum, pada saat, atau bahkan setalah era dirinya. Oleh sejumlah sarjana Barat, seperti Bruce Lawrence, D.J. Boilet, George Saliba, C. Edmund Bosworth, dan masih banyak lagi, Kitab al-Hind dianggap sebagai karya orisinal karena menggunakan teori, pendekatan, dan data-data yang orisinal.

Terlepas dari masalah al-Biruni itu seorang antropolog atau bukan, yang jelas ia telah membuka mata kepada dunia bahwa ilmu-ilmu sosial sangat berakar kuat dalam sejarah dan tradisi Islam. Al-Biruni juga berjasa dalam mengembangkan studi perbandingan agama karena minatnya yang begitu kuat untuk mempelajari aneka tradisi, kebudayaan, spiritualitas, mistisisme, adat-istiadat, dan ritual-keagamaan non-Muslim: Hindu, Kristen, Yahudi, dan lainnya.

Al-Biruni mempelajari agama-agama dan struktur masyarakat non-Muslim bukan untuk mencari kelemahan mereka, tetapi untuk mengetahui makna beragama dan keragaman ekspresi spiritualitas umat beragama, sebuah upaya yang tentunya patut ditiru oleh generasi Muslim masa kini. Di tengah iklim intoleransi agama yang semakin menguat di masyarakat Indonesia, spirit al-Biruni yang toleran dan menjunjung tinggi keadaban dan keragaman kiranya perlu dihidupkan dan dibangkitkan kembali.

Kolom terkait:

Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam: Dimulai dari Mana?

Asia Tengah: Pusat Peradaban Islam yang Terlupakan

Islam dan “Hantu” Komunis-Ateis

Membincang Spiritualitas Jalan Ketiga Ulil

Bergumul dengan Modernitas [Catatan Pertemuan Contending Modernities]

Sumanto Al Qurtuby
Dosen Antropologi Budaya, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER