“Yang Baru” Sebagai Pelarian

A.S. Rosyid
A.S. Rosyid
Penulis dan Peneliti di Komunitas Riset Akademi Gajah. Menekuni etika Islam, etika lingkungan hidup dan dunia literasi.
- Advertisement -

Salah satu kebiasaan orang yang tidak punya pendirian, keteguhan dan tekad, seperti saya, adalah mengandalkan barang yang baru sebagai pelarian. Bila hidup mulai penat, jenuh, membosankan dan tidak teratur, saya akan berpikir jalan keluarnya adalah mengganti barang-barang yang lama sehingga tercipta perubahan suasana. Dengan perubahan suasana, hidup akan lebih bergairah.

Padahal, pemikiran bahwa “barang yang baru akan membuat saya kembali bergairah” sesungguhnya merupakan suatu ilusi. Gairah dan perubahan datang dari keputusan saya untuk bertindak memperbaiki keadaan atau kebiasaan saya sendiri. Gairah dan perubahan tidak datang dari benda. Benda adalah benda. Benda berguna hanya bila saya gunakan. Sayalah yang aktual.

Bila saya merasa tidak bergairah dan selalu terlambat datang ke kantor, bukan motor butut yang harus diganti, melainkan kebiasaan saya dalam hal tidur larut dan bangun terlalu sianglah yang harus saya ubah. Motor butut masih bisa saya rawat dan pakai dengan nyaman. Bukan motor saya yang harus fit dengan kebutuhan untuk ngebut. Sayalah yang harus mendisiplinkan diri.

Bila saya merasa bosan melihat wajah yang sama di setiap bangun pagi, yaitu wajah istri saya, solusinya bukanlah mencari istri baru. Hanya suami yang pikirannya sakit sajalah yang ingin menyelamatkan diri dari kebosanan rumah tangga dengan cara menikah lagi. Sebagai imam, kebosanan adalah tanggung jawab suami. Dialah yang harus menggairahkan lagi pernikahannya.

Benda, sebagai “sumber gairah”, adalah ilusi. Suatu hari nanti, benda baru yang saya anggap sebagai juru selamat kebosanan akan menjadi benda lama yang tidak lagi menggairahkan. Tapi orang-orang lebih menyukai jalan pintas. Orang-orang membutuhkan suntikan gairah dengan cara yang sama seperti para pecandu madat membutuhkan ganja: instant happiness. Mereka, seperti saya, berlari pada hal-hal yang berbau baru, alih-alih bertekad memperbaiki.

Padahal jalan yang mulia adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sabar, yang punya kasih sayang dan ingin senantiasa memperbaiki, menyegarkan, mengupayakan keberlanjutan. Kualitas ini saya dapati pada orang-orang dulu, yang hidup di era terbatasnya peredaran komoditas (barang dan jasa). Mereka berhati-hati dalam merawat dan mendayagunakan benda-benda; tidak akan mereka membeli yang baru sebelum yang lama rusak total.

Watak individu adalah cerminan dari watak sosial. Hari ini komoditas begitu berlimpah, daya beli masyarakat pun menguat. Dampaknya adalah manusia begitu berhasrat membeli komoditas untuk dipajang sebagai perpanjangan identitas sosialnya. Bendalah yang aktual! Manusia terpesona pada, misalnya, fashion item satu sama lain, bukan pada kualitas-kualitas kemanusiaan. Manusia terperangkap dalam aktualitas benda-benda dan “mati”.

Ada perbedaan yang esensial antara mengalungkan tasbih di pergelangan tangan untuk dipamerkan dan memelintirnya untuk berzikir. Pada tasbih yang dipamerkan, manusia menggantungkan keberadaannya pada benda yang bukan dirinya. Pada tasbih yang didayagunakan, manusia “meng-ada”; saat tasbih dipelintir, yang aktif adalah spiritualitas dalam diri manusia. Saat itu, eksistensi tasbih meredup dan menomerdua.

Kebergantungan pada benda adalah bagian dari konsumerisme. Konsumerisme sendiri menandakan minimnya penghargaan manusia atas benda. Banyak membeli benda baru berarti banyak menyingkirkan benda lama. Tidak ada jaminan hal-hal baru itu akan tetap dianggap berharga dan menggairahkan. Tidak ada kesetiaan dalam masyarakat konsumeristis.

Setelah memahami watak dan perilaku konsumeris pada individu dan masyarakat, kita dapat bertanya-tanya, bagaimana rupa watak dan perilaku konsumeris negara?

- Advertisement -

Pada tahun 2019, dalam sidang bersama DPR-MPR, Presiden Joko Widodo “meminta izin” di muka majelis sidang untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan. Beliau mengumumkan itu dengan mengenakan busana adat Suku Sasak dan itu membuat saya sedikit malu. Banyak yang dilangkahi Presiden dalam pengumuman itu, salah satunya pra wacana. Tidak ada diskusi di kalangan para ahli dan masyarakat. Tiba-tiba keputusan telah dibuat.

Hingga kini, rencana pemindahan ibu kota negara meninggalkan jejak-jejak problematis, mulai dari skema pembiayaan, hubungan antara ibu kota baru dan lahan-lahan perusahaan raksasa milik sebagian pejabat negara, hingga eksekusi di lapangan yang menimbulkan luka bagi rakyat kecil di Kalimantan Timur. Presiden menyebut ibu kota baru sebagai representasi kemajuan dan kesejahteraan. Kemajuan dan kesejahteraannya siapa?

Tapi tulisan ini tidak ingin mengulang data yang telah dihimpun oleh pihak-pihak yang jujur, kritis dan tidak naif dalam menyelidiki mega proyek besar ini. Saya, sebagai orang yang tidak punya pendirian, keteguhan dan tekad, merasa bahwa negara memiliki kesamaan watak dan perilaku dengan orang-orang seperti saya: konsumeristik, menjadikan “yang baru” sebagai pelarian, dan menyangka bahwa “yang baru” akan menyelamatkan saya.

Nama bukan masalahnya. Entah namanya adalah Nusantara, Warna Dwipa, Cakrawala Pura, yang jelas ibu kota baru tersebut didirikan untuk lari dari ibu kota lama yang telah rusak karena diterapkannya strategi pembangunan yang serba-semaunya selama sekian puluh tahun. Apa yang menjamin ibu kota baru itu tidak akan mengulang kejahatan pembangunan dan kerusakan jangka panjang? Bahkan dalam menamainya pun kehendak rakyat dilewatkan.

Hal-hal baru: kita harus berhati-hati terhadapnya. Bukan: kita harus berhati-hati pada diri kita sendiri. Rakyat pun harus berhati-hati bila negaranya berlari ke arah yang baru. Bisa jadi itu adalah sikap pelarian dan keengganan untuk bertanggung jawab pada kerusakan-kerusakan lama yang semestinya diperbaiki, bukan ditinggalkan. Negara yang tidak mampu bersetia pada mimpi-mimpi kecil takkan mampu bersetia pada mimpi-mimpi besar. []

A.S. Rosyid
A.S. Rosyid
Penulis dan Peneliti di Komunitas Riset Akademi Gajah. Menekuni etika Islam, etika lingkungan hidup dan dunia literasi.
Facebook Comment
- Advertisement -