Memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja atau menghadapi hari melelahkan merupakan hal yang wajar. Namun, saya merasa resah ketika alasan “menghargai diri” digunakan berulang kali untuk membenarkan belanja tanpa mempertimbangkan kebutuhan berikutnya. Persoalannya terletak pada keputusan yang menyertai pengeluaran tersebut: apakah sudah direncanakan, masih terjangkau, dan tetap memberi ruang bagi kebutuhan masa depan?
Penelitian tim mahasiswa UGM terhadap 384 responden Gen Z menemukan bahwa 42% memilih makanan sebagai bentuk self-reward, sedangkan 33,5% memilih pembelian barang (Tim PKM-RSH UGM Self-Reward, 2026). Penghargaan diri ternyata dekat dengan konsumsi sehari-hari. Namun, pilihan makanan atau barang belum membuktikan pemborosan. Frekuensi pembelian dan kemampuan keuangan masing-masing tetap perlu diperhatikan sebelum menilai perilaku seseorang.
Dalam konteks nasional, SNLIK 2024 mencatat indeks literasi keuangan sebesar 65,43% dan inklusi keuangan sebesar 75,02% (OJK & BPS, 2024). Data tersebut memberi konteks tentang pemahaman dan penggunaan layanan keuangan, tetapi tidak mengukur self-reward atau membuktikan penyebab kesulitan keuangan Gen Z. Menurut saya, pembahasan literasi perlu menyentuh kebiasaan menentukan prioritas dan mengevaluasi konsekuensi belanja, bukan berhenti pada pengetahuan mengenai produk keuangan.
Gambaran Gen Z juga perlu dilihat secara seimbang. GoodStats melaporkan bahwa 36% responden Gen Z menabung untuk dana darurat dan 19% untuk liburan atau pengalaman, berdasarkan riset terhadap 750 responden di 12 kota dan wilayah besar (Christi, 2025). Keinginan menikmati hidup dapat berjalan bersama perencanaan. Meski survei ini tidak langsung mengukur self-reward, menabung untuk pengalaman menyenangkan menunjukkan bahwa konsumsi dapat dipersiapkan.
Keputusan membeli juga berkaitan dengan emosi. Harvey dan Forwood (2026) membahas self-gifting sebagai penghargaan atas keberhasilan maupun penghiburan setelah pengalaman tidak menyenangkan. Dalam eksperimen di Inggris, membayangkan hari kerja buruk meningkatkan keinginan memilih beberapa bentuk penghiburan, termasuk makanan pesan antar dan cokelat. Temuan ini mengukur keinginan, bukan belanja aktual, serta tidak khusus menggambarkan Gen Z Indonesia. Namun, penelitian tersebut membantu menjelaskan mengapa keadaan emosional perlu dikenali sebelum membeli. Penghargaan atau penghiburan yang direncanakan tidak otomatis merupakan pembelian impulsif.
Lingkungan belanja digital turut memengaruhi pertimbangan konsumen. Djamhari et al. (2024) menemukan bahwa penggunaan paylater memperkuat hubungan promosi penjualan dengan pembelian impulsif dalam studi surveinya di Indonesia. Penguatan serupa tidak ditemukan secara signifikan pada hubungan FOMO dengan pembelian impulsif. Penelitian ini tidak khusus menguji self-reward, tetapi relevan untuk memahami situasi transaksi. Menurut saya, diskon belum tentu menghemat uang jika justru mendorong pembelian tambahan. Cicilan yang tampak ringan pun tetap mengurangi ruang penggunaan pendapatan berikutnya.
Dampak kewajiban pembayaran dapat menyentuh kondisi emosional. Hermawan dan Lathifah (2025), melalui studi kasus terhadap tiga mahasiswa, melaporkan kecemasan, penyesalan, dan tekanan emosional terkait penggunaan paylater, terutama menjelang jatuh tempo. Temuan terbatas ini tidak mewakili seluruh Gen Z ataupun membuktikan bahwa self-reward menyebabkan stres. Meskipun demikian, pengalaman tersebut mengingatkan bahwa kesenangan saat membeli perlu dipertimbangkan bersama kesiapan membayar. Kesulitan keuangan juga harus dilihat dari pendapatan dan beban hidup, sehingga ketidakmampuan menabung tidak langsung dicap sebagai perilaku boros.
Solusi
Langkah perbaikan dapat dimulai dari strategi pengendalian diri. Meta-analisis Davydenko et al. (2021) terhadap 29 studi menemukan bahwa strategi tersebut secara keseluruhan membantu mengurangi pengeluaran dan meningkatkan tabungan. Strategi yang dikaji mencakup anggaran, perencanaan pembelian, dan tujuan menabung. Berdasarkan temuan ini, saya menyarankan agar self-reward masuk dalam anggaran setelah kebutuhan pokok dan kewajiban diperhitungkan. Catat barang atau kegiatan yang diinginkan beserta biayanya, lalu sesuaikan dengan pendapatan. Tujuan menabung yang konkret juga membantu memberi alasan untuk menunda belanja.
Bagi pengguna paylater, saya menyarankan pencatatan seluruh cicilan, pemeriksaan total biaya, dan penentuan sumber pelunasan sebelum mengambil kewajiban baru. Persoalan yang dilaporkan Hermawan dan Lathifah (2025) menjadi pertimbangan usulan ini. Kampus dapat mendukungnya melalui latihan menyusun anggaran dan menghitung tagihan berdasarkan contoh kasus. Penyedia layanan dapat membantu dengan informasi biaya yang mudah dipahami dan pengingat jatuh tempo. Langkah tersebut merupakan usulan penulis, bukan intervensi yang telah diuji dalam studi itu. Efektivitasnya perlu dinilai melalui kebiasaan pengeluaran dan ketepatan pembayaran.
Menurut saya, perubahan juga perlu menyentuh cara memaknai penghargaan diri. Sebelum membeli, kita dapat bertanya, “Apakah kebutuhan saya tetap terpenuhi setelah transaksi ini?” Jika jawabannya belum jelas, menunda pembelian layak dipertimbangkan. Beristirahat, menikmati hobi yang sudah dimiliki, atau memilih kegiatan terjangkau dapat menjadi pilihan sesuai keadaan. Tidak semua pencapaian perlu dirayakan dengan kewajiban pembayaran baru. Ukuran yang lebih masuk akal adalah apakah penghargaan tersebut memberi kepuasan tanpa mengganggu prioritas yang telah ditetapkan.
Budaya self-reward dapat menjadi apresiasi diri yang sehat jika disertai perencanaan dan pertimbangan kemampuan. Risiko muncul ketika pengeluaran berulang mengganggu kebutuhan pokok, tabungan, atau pembayaran tagihan. Literasi keuangan perlu hadir dalam keputusan sehari-hari: mengenali dorongan belanja, menetapkan batas, dan menghitung konsekuensi. Dengan mempertimbangkan perbedaan pendapatan serta beban hidup, Gen Z tetap dapat menikmati hasil usahanya sambil mempersiapkan kebutuhan berikutnya. Menyesuaikan bentuk penghargaan diri dengan keadaan keuangan juga merupakan cara menghargai diri sendiri.
