Maulid Nabi Momentum Pembuktian Cinta pada Rasulullah

- Advertisement -

Tanggal 12 Rabiulawal memiliki makna tersendiri bagi umat Islam. Pada momen tersebut, sekitar 53 tahun sebelum Hijriah, lahir sosok mulia yang membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia, dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat yang berlandaskan Islam. Dialah Baginda Rasulullah ﷺ.

Setiap tahun, kelahiran beliau diperingati oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia dengan beragam tradisi. Maulid Nabi ﷺ umumnya dimaksudkan sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt., bentuk kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, sekaligus momentum untuk mengenang akhlak dan perjuangan beliau.

Namun, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ cukup diwujudkan dengan perayaan dan selawat, sementara ajaran beliau justru banyak ditinggalkan dalam kehidupan?

Dalam aspek ibadah, umat Islam masih banyak yang menjalankan salat, puasa, zakat, dan haji. Akan tetapi, dalam aspek kehidupan lainnya, ajaran Rasulullah ﷺ kerap diabaikan. Dekadensi moral semakin memprihatinkan. Pergaulan bebas, kekerasan, kriminalitas, dan berbagai perilaku menyimpang terus mengancam generasi.

Begitu pula dalam persoalan makanan, minuman, dan pakaian. Kesadaran terhadap halal dan haram belum sepenuhnya menjadi standar kehidupan. Aurat pun masih banyak dipertontonkan, padahal Islam telah memberikan aturan yang jelas.

Dalam kehidupan sosial dan pemerintahan, persoalannya bahkan lebih mendasar. Banyak hukum dan sistem kehidupan yang digunakan umat Islam bukan berasal dari syariat Islam. Demokrasi menempatkan manusia sebagai pembuat hukum, sedangkan dalam Islam, hukum harus bersumber dari wahyu Allah Swt. Sistem ekonomi ribawi pun masih menjadi bagian penting kehidupan, padahal riba telah diharamkan dengan tegas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Islam sering kali hanya ditempatkan pada wilayah ibadah ritual dan moral pribadi, sementara aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dipisahkan. Padahal, Islam adalah agama yang mengatur kehidupan secara menyeluruh. Tidak ada pemisahan antara agama dan kehidupan sebagaimana konsep sekularisme.

Lantas, bagaimana seharusnya kita membuktikan cinta kepada Rasulullah ﷺ?

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

- Advertisement -

Memperbanyak selawat dan mempelajari sirah Rasulullah ﷺ tentu merupakan amal kebaikan. Namun, kecintaan tidak semestinya berhenti pada ucapan. Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan ketaatan dan kesungguhan mengikuti ajaran beliau.

Allah Swt. juga berfirman dalam QS At-Taubah ayat 24 bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan terhadap keluarga, harta, perdagangan, maupun tempat tinggal.

Karena itu, momentum Maulid Nabi ﷺ seharusnya menjadi sarana untuk mengevaluasi diri dan kehidupan umat. Sudahkah kita benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ? Sudahkah ajaran beliau menjadi pedoman dalam seluruh aspek kehidupan?

Sejarah mencatat bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menjadikan momentum Maulid sebagai salah satu sarana membangkitkan semangat umat Islam ketika menghadapi Perang Salib. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai sejarah awal peringatan Maulid, pesan penting yang dapat direnungkan adalah bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ semestinya melahirkan kesadaran dan perubahan.

Maka, jangan sampai Maulid hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Jadikan ia momentum untuk mengenal Rasulullah ﷺ, meneladani perjuangannya, memperkuat ukhuwah, dan berusaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar merindukan beliau, memperbanyak selawat, atau mengagungkan namanya. Cinta harus melahirkan ketaatan, keteladanan, dan kesungguhan menjalankan risalah yang beliau bawa.

Semoga Maulid Nabi ﷺ menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat untuk kembali menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan secara menyeluruh. Wallahu a’lam bisshawab.

Facebook Comment
- Advertisement -