OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Tradisi dan Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut Maulid Nabi. Adalah sebuah tradisi yang selalu diselelnggarakan pada tanggal 12 Rabiul Awal penanggalan hijriah disetiap tahunnya. Acara ini sudah menjadi tradisi turun temurun dari para pendahulu kita. Kata maulid berasal dari Bahasa Arab yang berarti kelahiran. Tradisi maulid nabi ini diselenggarakan guna memperingati hari kelahiran nabi besar umat Islam, yaitu nabi Muhammad SAW.

Maulid nabi adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni pada 12 Rabiul Awal. Nabi Muhammad dilahirkan ileh ibunya yang Bernama Aminah. Ayah Nabi Muhammad Bernama Abdullah namun ia meninggal Ketika Nabi masih didalam kandungan.

Nabi Muhammad lahir di Makkah pada hari senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah. Dinamakan tahun Gajah karena ditahun itu sebuah pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah menyerang kota Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun hal tersebut dihentikan oleh Allah dengan mengirimkan sekelompok burung ababil yang melempari pasukan Abrahah dengan batu panas yang berasal dari neraka. Kejadian ini bertepatan pada tahun 571 kalender Romawi.

Masyarakat muslim di Indonesia tentu sudah tidak asing dengan perayaan Mauid Nabi Muhammad SAW. Memperingati Maulid Nabi masih menjadi pro dan kontra di kalangan umat muslim. Ada yang menilainya sebagai sunnah, namun ada pula yang menganggapnya bid’ah.

Pada dasarnya, tata cara merayakan Maulid Nabi berbeda-beda di sejumlah daerah. Namun, esensi dari perayaan tersebut tidak berbeda karena sama-sama betujuan untuk meluapkan kegembiraan dan rasa syukur atas dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.

Tidak dipungkiri, kelahiran Nabi Muhammad SAW memang suatu anugerah yang tak ternilai keistimewaannya bagi umat muslim. Hal ini karena kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi ini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Arab maupun di seluruh penjuru dunia.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Muslim juga dikatakan bahwa Rasulullah SAW juga mensyukuri kelahirannya dengan cara berpuasa. Adapun bunyi hadist tersebut yaitu sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa dihari senin, lalu beliau menjawab, “pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR. Muslim).

Dari dalil peringatan Maulid Nabi tersebut, dapat dikatakan bahwa merayakan Maulid Nabi merupakan suatu anjuran. Sebagai umat muslim, sudah selayaknya kita menghormati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai pelita kehidupan. Cara memperingati Maulid dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu membaca al-Qur’an, menghadiri pengajian di masjid, berpuasa dan lain-lain.

Ada beberapa teori tentang sejarah perayaaan Maulid Nabi yang tercatat dalam sejarah agama Islam. Berikut beberapa teori sejarah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW:

Teori yang pertama, perayaan maulid nabi pertama kali diadakan di Mesir oleh Dinasti Ubaid yang yang memiliki paham Syiah Ismailiyah. Dinasti Ubaid berkuasa di Mesir pada tahun 362 hijriah hingga tahun 567 hijriah. Dinasti Ubaid mulai menerapkan tradisi perayaan Maulid Nabi di tahun-tahun kepemimpinan Abu Tamim. Selain merayakan Maulid Nabi, Dinasti Ubaid juga mengadakan perayaan hari Asyura, perayaan Maulid Ali, perayaan Maulid Hasan, perayaan Maulid Husain, dan yang lainnya.

Teori yang kedua, perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan di Irak yang diselenggarakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, beliau adalah Gubernur Irbil di wilayah Irak. Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri hidup sekitar tahun 549 hijriah hingga tahun 630 hijriah. Dan tradisi ini kemudian digunakan sebagai adat istiadat perayaan Mauid secara turun temurun.

Teori yang ketiga, perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H) selaku penguasa Dinasti Ayyub dibawah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Perayaan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat juang kaum Muslim untuk menghadapi perang Salib melawan kaum Salibis dari benua Eropa.

Perayaan Maulid Nabi sudah dilakukan oleh masyarakat Muslim sejak tahun kedua hijriah. Pada hakikatnya, Mukid Nabi tidak hanya sekedar pengingat sejarah bagi kaum muslim. Akan tetapi juga sebagai pengingat umat muslim dengan sosok Nabi Muhammad SAW yang menjadi inspirasi bagi orang muslim.

Perayaan Maulid Nabi sempat dilarang untuk dilakukan pada masa Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy. Seorang perdana mentri khalifah al-Musta’ali di Dinasti Fatimiyah. Namun acara perayaan Maulid Nabi Kembali diperbolehkan pada masa pemerintahan Amir Li Ahkamillah pada tahun 524 hijriah. Ia merupakan seorang pemimpin sekaligus imam di Dinasti Fatimiyah.

Maulid Nabi termasuk hari besar bagi umat Islam yang diperingati oleh setiap muslim di berbagai belahan penjuru dunia. Hari kelahiran Nabi Muhammad dijadikan symbol terbitnya fajar budi pekerti dan nilai-nilai luhur serta keilahian.

Ada empat hikmah dibalik kelahiran Nabi Muhammad pada senin 12 Rabiul Awal 571 masehi. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Senin sebagai hari penciptaan

Senin merupakan hari Ketika Allah menciptakan pohon. Di hari senin juga mengingatkan pada penciptaan makanan pokok, rezeki, aneka buah, dan berbagai kebutuhan yang menyenangkan hati manusia.

Mengisyaratkan hal baik

Secara etimologi, kata “Rabi” berarti musim semi sebagai isyarat optimis. Karena setiap orang pasti memiliki nasib (baik) dari Namanya.

Bukti adil syariat

Nabi Muhammad SAW musim semi (Ar-Rabi) adalah musim paling pas (adil) dan terbaik sebagaimana syariat Nabi Muhammad SAW yang paling adil (toleran).

Allah memuliakan Kehadiran Nabi Muhammad SAW

Allah memang ingin memuliakan waktu tersebut kareena kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seandainya Nabi Muhammad SAW lahir pada waktu mulia yang sudah ada, niscaya orang akan mengira bahwa keistimewaan Nabi Muhammad SAW memang terlahir karena pada waktu yang mulia.

Tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang hamper diselenggarakan di hampir semua masyarakat muslim diseluruh dunia merupakan tredisi kuat. Ada hal terpenting dalam peringatan Maulid Nabi, diantaranya memperkokoh keimanan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Melalui penanaman pada diri generasi muda tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, akan melahirkan ketaatan kepada Allah dan Rasulnya dengan mengikuti sunnah Rasulullah. Sehingga suri tauladan kehidupan Muhammad SAW dapat diserap dalam pikiran dan perilaku mereka.

Di Indonesia, tradisi merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW itu melebur dengan kebudayaan lokal yang begitu beragam. Di momen menyambut maulid nabi, masyarakat muslim di Indonesia umumnya menggelar perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair Barzanji, dan pengajian.

Namun, ada berbagai ritual khas tersendiri dari masing-masing daerah di Indonesia. Seperti di daerah jawa, tradisi Maulid Nabi biasa disebut dengan Mauludan. Menurut penanggalan jawa, Rabiul Awal disebut bulan Mulud. Acara Muludan biasanya dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan sekaten.dan ada juga tradisi endhog-endhogan yang dilakukan masyarakat Jawa-Using di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kemudian ada tradisi Pammunuang yang dikenal sebagai tradisi Maulid Nabi di Sulawesi. Hinga kini, tradisi ini masih menjadi syarat dengan nuansa tradisional dari masyarakat Mandar di Sulawesi Barat.

Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.